September 14, 2011

THE RETURN: NIGHTFALL


Resensi oleh Noviane Asmara 
 
The Vampire Diaries: The Return: Nightfall
Penulis : L. J. Smith
Penerjemah : Nengah Krisnarini
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Pemeriksa Aksara: Dian Pranasari
Pewajah Isi: Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN : 978-979-024-358-3
Tebal : 695 Halaman
Harga : Rp 89.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan I : Juli 2011


Buku The Vampire Diaries kali ini, tidak seperti empat buku sebelumnya. Kali ini, The Vampire Diaries hadir lebih ‘seksi’, sangat seksi malah. Seksi dari segi ketebalan bukunya yang mencapai enam ratus Sembilan puluh lima halaman, juga seksi dari segi kover. Lihat saja gambar yang tercetak di kovernya―seorang gadis cantik nan seksi dalam balutan gaun merah darah dengan sayap keemasan yang menyembul di balik punggungnya.

Ketika saya mengira kisah Elena, Stefan dan Damon telah berakhir di buku Dark Reunion, ternyata saya salah. Karena L.J. Smith tidak membiarkan itu terjadi. L. J. Smith masih ingin cerita ini berlanjut, dan terciptalah The Return: Nightfall, yang menjadi buku pertama.

Di buku ini dikisahkan tentang kebangkitan Elena. Elena telah kembali dari alam lain. Ia sudah melewati beberapa fase dan bermetamorfosis menjadi wujud yang berbeda dalam rentang waktu yang tidak begitu lama. Manusia, vampir, anak spiritual hingga kembali menjadi manusia.
Saat dalam fase anak spiritual, Elena kehilangan jati dirinya. Dia tidak tahu siapa dirinya, tidak mengenal siapa pun, tidak dapat bicara dan begitu rapuh. Yang dia kenal hanyalah Stefan―sosok terakhir yang dia cintai. Saat itu Elena bak seorang bayi mungil yang polos dan lugu. Dia tidak mengetahui apa yang harus dia perbuat dan sangat membutuhkan perlindungan.
Dan tentu saja Stefan―sang pujaan hati dengan tetap setia terus menjaganya, mengasuhnya, memeluknya dan juga mencintainya, hal itu membuat Elena merasa terlindungi dan bahagia.

Di sisi lain, hal aneh terjadi pada Damon. Damon yang di dalam Dark Reunion diceritakan bersatu dan akur dengan Stefan demi memberantas musuh mereka, kini Damon bersikap seperti sedia kala. Damon menjadi sosok seperti pertama dia datang ke Fell’s Church.
Damon kembali menjadi sosok kejam, misterius tetapi tetap memikat para perempuan. Dia memanfaatkan semua pesona dan kekuatannya untuk mengambil yang dia mau. Tapi kini, sifat kejam Damon, terasa berbeda. Ada satu kekuatan yang ‘menumpangi’ Damon dan menyetirnya hingga Damon sendiri tidak menyadarinya. Kekuatan yang sangat dahsyat. Kekuatan yang Damon sendiri pun tidak sanggup melawannya. Damon teperdaya dan menjadi budak atas kekuatan jahat itu. Tapi sekuat apa pun kekuatan itu, anehnya Damon tetap mencintai Elena.
Sebuah kekuatan yang dari dulu telah mengintai Fell’s Church. Kekuatan itu begitu jahat. Sampai-sampai Elena, Stefan dan sahabat-sahabat Elena harus menanggung risikonya.
Mereka tidak pernah mengira akan datang kekuatan sejahat dan sedahsyat itu, bahkan bukan hanya mereka yang terancam, tapi Damon pun turut terancam.

Kisah di The Return: Nightfall ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tetapi ide L. J. Smith untuk terus mengembangkan cinta segitiga antara Elena dan Salvatore bersaudara ini memang patut diacungi jempol. Di saat saya mengira kisah ini telah berakhir dan akhir semuanya bahagia, ternyata Smith mematahkannya dengan menyuguhkan kisah yang baru, konflik yang baru dan tokoh antagonis yang baru.
Dan buku kedua The Return pun yang berjudul Shadows Souls, akan menjawab rasa penasaran yang dibiarkan menggantung dalam Nightfall.

Tapi sepertinya, tokoh idola saya tetaplah Damon. Walau Damon selalu jahat, selalu memanipulasi orang dan juga senang mengganggu orang, tapi saya berkeyakinan, sebenarnya hati Damon tidak sejahat yang dia perlihatkan. Buktinya dia tetap mencintai Elena. Dia tipe laki-laki sejati yang hanya jatuh cinta pada satu perempuan.
Ups, tapi di Nightfall ini, ternyata hati Damon sedikit terbelokkan oleh sosok perempuan yang lumayan cantik, dan hal ini mengganggu pikirannya.
Hmm, siapa coba perempuan yang beruntung itu. Yang jelas pasti bukan saya :p

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar