Juni 02, 2011

BEASTLY


Resensi oleh Noviane Asmara 
 
BEASTLY :Beauty and The Beast Abad 21
Penulis : Alex Flinn
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penyunting : Prisca ari & Esti A. Budhihabsari
Proofreader : Ocllivia D.P.
Tebal : 409 Halaman
ISBN : 978-979-433-612-0
Harga : Rp 45.000
Cover : Soft Cover
Genre : Fantasy
Penerbit : Mizan Fantasi
Cetakan : I, Maret 2011


Menjadi tampan itu sebuah anugerah, apalagi bila ditambah dengan penampilan fisik yang sempurna, kaya bahkan (mungkin) berotak cemerlang. Siapapun bakal bersyukur bila dikaruniai penampilan dengan nilai fisik 100 itu.
Tapi, bagaimana bila semua itu hanya tampilan luar yang tidak dibarengi oleh sikap yang terpuji pula. Bagaimana jika ketampananlah, membuat seseorang harus terjebak dalam keadaan paling buruk. Menjadi buruk rupa dan tidak diinginkan. Menjadi bumerang dan berbalik melawan diri sendiri.

Itulah yang terjadi pada Kyle Kingsbury, seorang cowok remaja 16 tahun berbadan tinggi tegap, mempunyai mata biru cemerlang plus rambut pirang yang indah. Bonus lainnya adalah ia anak seorang pembaca berita terkenal dan super tajir.
Keadaan itu menjadikan Kyle banyak digandrungi para cewek di Tuttle, sekolah elit untuk para anak orang kaya sekaligus disegani teman-teman cowoknya dan juga guru-guru karena sang ayah yang memiliki pengaruh besar.
Kyle terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan walau harus dengan cara buruk dan merugikan orang sekalipun. Sanjungan dan pujian menjadi hal yang terlalu biasa untuknya. Tapi keadaan itu menjadikan ia tidak sadar dan peka terhadap lingkungan sekitar. Ia menjadi begitu egois, bermulut besar, mudah meremehkan orang, suka menindas dan kejam. Ia lupa bahwa bahwa keberuntungan yang bersifat genetis dan sementara itu menjauhkannya dalam pencapaian diri.

Kisah ini dibuka dengan sebuah chat group yang beranggotakan para “korban” yang mempunyai masalah yang sama. Menjadi buruk rupa karena perilaku mereka sendiri. Room chat yang diasuh oleh Mr.Anderson ini diadakan demi saling berbagi kisah dan mencari solusi untuk membebaskan para “korban” dari keadaan yang sekarang.

Adalah Kyle Kingsbury yang menggunakan nickname BeastNYC di chat group. Saat ini ia berubah menjadi makhluk mengerikan. Makhluk setengah binatang setengah monster yang berbulu dan bercakar. Tapi bukan serigala atau kodok ataupun beruang seperti di cerita dongeng kebanyakan.

Semuanya berawal saat Kyle mengajak Kendra Hilferty, cewek gotik dengan mata hijau yang aneh, hidung yang terlalu panjang dan bengkok plus gendut ke pesta dansa sebagai kencannya. Di sisi lain, Kyle pun telah mengajak Sloane Hagen, cewek terseksi dan popular di Tuttle sebagai kencannya ke acara pesta dansa. Pasangan yang memang berimbang dan serasi.
Kendra yang akhirnya menyadari bahwa Kyle dan Sloane telah merencanakan semuanya demi mempermalukan dirinya yang bukan apa-apa tak lebih dari bagian permainan mereka. Saat itu, Kyle telah membuat kesalahan yang fatal yang membawa hidupnya pada dunia yang gelap, dunia di mana dia harus puas dengan wujud barunya yang mengerikan karena menjadi si buruk rupa dan terisolasi dari dunianya yang dulu yang menawarkan seabreg kemudahan.

Kendra telah mengubah Kyle menjadi buruk rupa. Karena seperti itulah rupa Kyle yang sesungguhnya menurut Kendra. Kendra yang sebenarnya adalah penyihir yang sedang menguji Kyle dan ternyata Kyle tidak lulus dalam ujiannya itu.
Selama menjadi buruk rupa, Kyle harus menerima ia dibuang oleh ayahnya dan tidak mempunyai teman selain Magda―seorang wanita tua yang menjadi pelayan dan menemani Kyle selama dalam pengasingannya. Juga ada Will yang disewa oleh Mr. Rob Kingsbury, ayah Kyle untuk menjadi tutor bagi putranya selama masih menjadi buruk rupa dan tidak bisa bisa berbaur bebas seperti sebelumnya.
Keadaan Kyle bisa kembali seperti semula, asalkan ia dapat mematahkan mantra yang dikutukkan oleh Kendra pada dirinya. Kyle harus bisa menemukan cinta sejatinya―menemukan seorang gadis yang mencintai ia apa adanya dan menciumnya.

Perjuangan Kyle dalam mencari cinta sejatinya tidak semudah yang ia bayangkan, apalagi tenggat waktu dua tahun yang diberikan kepadanya akan segera usai. Ia harus segera menemukan gadis yang tulus mencintainya atau akan terjebak dalam raga buruk rupa sepanjang hidupnya.
Ketika cinta sejati itu nyaris ia dapatkan, ia harus merelakan cinta sejatinya pergi dan berpasrah diri bahwa memang menjadi buruk rupa adalah takdir yang digariskan untuknya. Kyle harus melepaskan Linda Owens demi kebahagiaan gadis itu. Gadis yang telah mengubah semua sifat buruk dalam dirinya. Lindy yang telah berhasil mengenalkan Kyle pada rasa kasih tanpa pamrih, lebih peka terhadap orang lain dan tidak egois. Dan juga membuat dirinya jatuh cinta pada gadis sederhana itu.

Ending yang disodorkan oleh Flinn, tentunya sangat khas dengan kisah-kisah dari Hollywood. Happy ending. Karena sejak awal kita memang sudah diingatkan, bahwa novel ini mengadaptasi kisah Beauty and the Beast dengan setting modern.
Alex Flinn yang ternyata adalah seorang penulis perempuan ini mampu memindahkan zaman Beauty and the Beast ke New York yang super modern dengan segala hingar-bingarnya tanpa gagap. Dan Kastel Beast pun berubah menjadi sebuah apartemen mewah yang menyediakan segala alat penunjang informasi yang canggih dan dipenuhi ratusan buku keren.
Kisah buku yang merupakan International Reading Association Young Adult Choice, 2009 ini menampilkan sosok tokoh dengan karakter yang kuat dan nyata. Rasakan saja kekejaman yang dilakukan Kyle dan sinisnya Sloane, hingga ingin rasanya bisa mendapatkan kesempatan untuk menampar mulutnya yang pedas. Juga sosok Lindy, yang teramat manusiawi yang memang kontras bila dipadankan dengan Kyle.
Saya sangat menyukai sosok Lindy, bukan karena digambarkan ia seorang gadis baik dengan penampilannya standar, tetapi karena ia begitu menggemari buku. Buku menjadi satu-satunya teman dikala ia kesepian dan selalu menjadi damai dengan membaca. Tengoklah buku-buku yang telah dibaca dan selalu menjadi farovitnya; Jane Eyrn, Soneta Shakespeare, A Little Pricess.

Alex Flinn lahir di kota kecil Long Island, New York. Ketika berusia lima tahun ibunya berkata, bahwa kelak ia seharusnya menjadi seorang penulis. Penulis favoritnya adalah Astrid Lindgren, Beverly Cleary, Judy Blume, Marilyn Sachs, dan Laura Ingalls Wilder. Ia bahkan sudah membaca A Little Princess karya Frances Hodgson Burnett sekitar 50 kali. Ia sudah mempunyai beberapa karya young-adult. Dan beberapa di antaranya yaitu adalah adaptasi dongeng anak-anak yang terkenal seperti The Frog Prince dan Sleeping Beauty.

Beberapa kalimat bijak tersebar di buku yang kental dengan nuansa romansa ini.
Sesuatu terlihat cantik, bukan berarti berkualitas bagus.(hal.263)
Sesuatu yang memiliki kecantikan dari dalam akan hidup untuk selamanya, seperti harum bunga mawar. (hal.263)
Orang-orang sangat mementingkan penampilan, tetapi setelah itu, saat kau sudah mengenal seseorang dengan baik, kau bahkan tidak memperhatikan penampilannya lagi. (hal. 299)
Mungkin kita terlalu menilai orang dari penampilannya, akrena itu lebih mudah daripada harus melihat sesuatu yang memang benar-benar penting. (hal. 381)

Satu hal yang saya kurang saya sukai, yaitu kover. Awalnya saya mengira kover ini mengambil freeze frame salah satu adegan di film, karena karya Alex Flinn ini memang sudah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama, dengan pemerannya Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens. Tetapi ternyata kover bukan adaptasi film. Tokoh cewek dan cowok yang terlihat di kover ini menurut saya ada yang miss dan tak terlihat chemistry yang terjalin di sana.
Andaikan dibuat sebagai gambar ilustrasi atau dengan edisi movie sekalian, mungkin akan tampak lebih cool.
Tapi, buku ini cocok dibaca sebagai pengantar tidur yang tidak akan membuat kamu tertidur karena rasa bosan.

THE OLD MAN WHO READ LOVE STORIES


Resensi oleh Noviane Asmara  
Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Penulis : Luis Sepúlveda
Penerjemah : Ronny Agustinus
Tebal : 116; i-xvi Halaman
Harga : Rp 23.500
Cover : Soft Cover
Genre : Sastra
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, 2005

Buku ini secara tak sengaja direkomendasikan oleh Bang David Tobing, ketika saya bersama Bea sedang berbincang-bincang bersama beliau tentang buku-buku yang telah kami baca selama ini. Kami saling memberi masukan buku-buku mana yang bagus menurut versi kami masing-masing. Dan tentunya kami saling menginginkan bila buku bagus yang telah kami baca, dibaca pula oleh teman-teman kami.
Hasilnya, inilah buku The Old Man who Read Love Stories – Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta yang menurut David Tobing bagus dan layak dibaca.
Maka mulailah saya hunting buku ini ke toko buku langganan saya. Dan senang sekali, buku ini dengan mudah saya dapatkan, walaupun bila ditilik dari tahun terbitnya, buku ini terbit pertama kali tahun 2005. Sungguh buku yang terbilang lama.
Rasa penasaran saya terhadap buku setebal 114 halaman ini begitu tinggi, apalagi ketika saya membaca biografi dari Luis Sepúlveda, sang penulis. Saya semakin jatuh cinta saja terhadap buku ini dan dengan segera saya melahapnya.

Buku ini yang berlatar pedalaman Ekuador ini, mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Antonio José Bolívar Proaño yang selanjutnya dikenal sebagai Pak Tua.
Ia sadar ia telah beranjak tua, dan memutuskan untuk tinggal di Ildilio dan hidup di sana dengan berburu.
Kedamaian yang awalnya ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi teror dan horor. Saat suku Shuar menemukan sesosok mayat orang bule dengan luka yang disinyalir adalah luka bekas cakaran dan cengkeraman binatang buas. Macan Kumbang.
Bersama sahabatnya dr. Rubicundo Loachamin, ia melakukan perjalanan yang melelahkan menembus belantara Amazone.

Ada rasa geli yang menggelitik di hati saya, tatkala memikirkan bagaimana seorang lelaki tua, masih saja suka bahkan sangat tergila-gila dengan buku roman picisan dan kisah cinta. Seperti sebuah novel yang ia baca dengan pembuka yang menawan.
Paul menciumi gadis itu penuh nafsu sementara si pengayuh gondola, kaki tangan perbuatan nekat temannya itu, pura-pura menoleh ke lain arah, dan gondola yang dijajari bantal-bantal empuk itu meluncur gemulai sepanjang kanal Venesia.

Kisah ini sebenarnya sangat simple, tapi muatan dan pesan politik yang ingin disampaikan begitu kental. Betapa issue pembabatan hutan, perburuan binatang yang seharusnya menjadi binatang yang dilindungi serta penambangan emas liar akibat ketamakan manusia dipaparkan sangat lugas oleh Sepúlveda.
Juga tentang Suku Shuar―penduduk asli yang lambat laut terusir oleh para pendatang yang akhirnya berkuasa. Para pemerintah yang korup dan kotor, dan tidak pernah senang terhadap “keadaan” yang disangka akan merugikan mereka. Sepúlveda begitu gamblang menarasikannya lewat seorang Pak Tua.

Di buku ini saya baru menemukan kata-kata baru yang mungkin terdengar janggal bagi saya saat ini. Misalnya kata menyucihamakan. Saya sempat mengerutkan kening untuk memahami kata tersebut. Tapi dengan konteks kalimat yang ada, maka saya menyimpulkan bahwa maksudnya adalah men-sterilekan. Mungin karena kata sterile belum di adop ke dalam bahasa Indonesia. Entahlah, saya belum sempat mengeceknya. Apakah sudah terdapat di KBBI edisi atau belum saat itu.

Menurut Peneliti dari Universitas Puerto Rico, Camilo Gomides dan Joseph Henry Vogel dalam makalah mereka dengan buku ini sebagai kajian akademisnya, menyimpulkan:
“Sebab musabab penggundulan hutan yang mengisi jalan cerita Pak Tua banyak yang terkait erat dengan hasil simpulan ilmuwan yang didapat dari analisa statistic dan pngukuran cermat atas penggundulan hutan tropis…[Namun], fakta bahwa bukti-bukti penelitian ilmiah penggundulan hutan ini baru dipublikasikan pada tahun 1990-an, bertahun-yahun sesudah terbitnya Pak Tua―menunjukkan betapa jelinya mata bedah Sepúlveda.”

Luis Sepúlveda lahir di Cile tahun 1949. Dipenjara oleh rezim diktator militer Augusto Pinochet akibat aktivitas politiknya dalam gerakan mahasiswa dan diasingkan ke luar negeri itu pada usia 26 tahun.
Pada usia 18 tahun ia sudah menyabet penghargaan bergengsi Casa de las Américas 1969 untuk kumpulan cerpennya Crónicas de Pedro Nadie.
Novel pertamanya Un Viejo que leía novellas de amor atau Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta ini mendapat penghargaan Tigre Juan Prize dan terjual sebanyak 30.000 eksemplar dalam cetakan pertamanya. Novel ini pun telah diangkat ke layar lebar dan merebut Pressident’s Award dalam Fort Lauderdale International Film Festival tahun 2001 serta Winner Audience Award dalam Adelaide International Film Festival tahun 2003.
Novel beliau yang lainnya adalah Mundo del fin del mundo (1994), Nombre de Torero (1994), Patagonia Express (1995), Historia de una gaviota y del gato que enseñó a volar atau Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang (1996).

Atas desakan Amnesty International, Sepúlveda dibebaskan setelah 2.5 tahun dipenjara tanpa kepastian hukum.
Bersama keluarganya ia terpaksa mengungsi keluar Cile dan hidup nomaden sepanjang Amerika Latin―Argentina, Brasil, Uruguay, Kolombia, Ekuador dan akhirnya hijrah ke Eropa. Sejak tahun 1980 ia tinggal di Jerman sebagai penulis, sutradara dan Jurnalis.
Kini ia mempimpin Salón del Libro Iberoamericano di Gijón