Agustus 08, 2011

THE CHEMICHAL GARDEN #1: WITHER


Resensi oleh Noviane Asmara 
The Chemical Garden #1: WITHER
Penulis : Lauren DeStefano
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Musa Annaqi

ISBN : 978-602-98377-3-5
Tebal : 401 Halaman
Harga : Rp 49.900
Cover : Soft Cover
Penerbit : Kantera
Cetakan: I, April 2011


Keahlian Lauren DeStefano menggambarkan masa depan terasa nyata. Aku menyukai dunia kisah cinta, dan gaya penulisannya―jenis buku yang aku idamkan untuk dibaca.”
-Carry Ryan, penulis terlaris New York Times―THE FOREST OF HANDS AND TEETH 

Endorsement di atas itulah yang membuat saya begitu tertarik dan penasaran akan cerita racikan DeStefano ini. Saya sangat menyukai karya dan tulisan Carry Ryan dalam bukunya The Forest and Hands and Teeth, karena itulah ketika dia memberikan endorsement yang begitu positif terhadap Wither ini, saya langsung yakin, bahwa Wither ini adalah buku yang seru dan wajib saya baca.
Dan ketika saya telah menyelesaikan buku kesatu dari trilogi The Chemichal Garden ini, saya tidak heran mengapa Carry Ryan sampai menyukainya. Cara DeStefano bercerita mempunyai kemiripan dengan Ryan, walaupun mereka mengusung tema yang berbeda.

Bagaimana jika kau mengetahui kapan kau akan mati?

Kita sebagai manusia tidak pernah bisa memprediksikan kapan kematian menjemput kita? Bagaimana cara kita mati dan diusia berapa kita mati? Karena semuanya adalah rahasia Tuhan, di mana untuk urusan yang satu ini, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya bergantung pada takdir yang telah ditentukan Tuhan.

Tapi, bagaimana bila hal sebaliknya terjadi pada kita. Kita dapat mengetahui kapan kita mati. Tentu saja hal itu untuk sebagian manusia akan menjadi saat-saat yang mengerikan.
Wither mengisahkan tentang hal itu. Saat dunia dalam keadaan sekarat karena beberapa negara musnah dan hancur. Hanya Amerika Utara-lah yang masih bertahan―walaupun tidak sepenuhnya bisa dikatakatan bertahan.
Pada masa itu saat dunia telah berubah, kemajuan ilmu pengetahuan menciptakan generasi tua yang tangguh. Generasi pertama yang tak kenal takut, mempunyai usia panjang bahkan nyaris abadi. Tetapi ironisnya, kemajuan ilmu pengetahuan itu pun menciptakan generasi-generasi berikutnya yang sangat lemah dan berusia pendek
Untuk para laki-laki mereka akan bertahan hidup sampai usia 25 tahun. Tetapi bagi wanita hanya 20 tahun saja mereka sanggup bertahan hidup.
Betapa singkatnya sekali hidup mereka.

Dengan mengacu pada alasan di atas, beberapa Tuan Rumah kaya, akan membeli para gadis yang mereka dapatkan dari para pengumpul.
Pengumpul bekerja dengan cara menculik gadis-gadis muda mulai usia 13 tahun―usia di mana tubuh mereka cukup dewasa untuk mengandung janin, untuk kemudian mereka jual kepada para Tuan Rumah. Beberapa yang tidak terpilih―akan berakhir di tempat prostitusi atau mati dengan cara yang sangat menyedihkan.

Adalah Rhine, Cecily dan Jenna―tiga gadis yang berhasil dibeli oleh Tuan Rumah kaya bernama Linden Ashby dari pengumpul. Mereka dinikahi sekaligus oleh sang Tuan Rumah. Misi dari pernikahan itu tak lain adalah unutk mendapatkan keturunan agar kelangsungan hidup generasi selanjutnya tetap terjaga.

“Kita semua berkumpul di sini untuk menyatukan empat jiwa ini dalam suatu ikatan yang sakral, yang akan melahirkan benih-benih generasi baru ...” (hal.58)

“Takdir telah menyatukan kita, jangan biarkan siapa pun menceraiberaikannya.” Takdir, kupikir, mirip seorang pencuri. (hal.59)

Bagi ketiga gadis itu, status baru sebagai istri dari Tuan Rumah kaya mempunyai arti yang berbeda-beda. Bagi Cecily, si gadis mungil 13 tahun yang mempunyai rambut merah dan fakta bahwa dulunya dia hanya seorang anak dari panti asuhan yang kurang diperhatikan, menjadi istri Linden adalah anugerah. Cecily sangat menikmati perannya sebagai seorang istri dan rela mengandung bayi diusianya yang untuk ukuran saat ini, sangat tidak dianjurkan. Karena dia mendapatkan segala kemewahan dan kemudahan dalam hidupnya yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Dia hanya tinggal mencintai sang suami dan memberikan anak. Bagi Jenna, hidup barunya itu merupakan pengalihan yang sempurna―dia menemukan tempat yang pas untuk mati. Dan akan selalu membawa perasaan bencinya terhadap Linden dan Kepala Rumah Vaughn, sang bapak mertua, ke liang lahatnya. Tetapi bagi Rhine, kehidupan barunya laksana neraka. Dia hidup dalam sangkar emas, dan dia tidak menginginkan itu semua. Rhine hanya menginginkan satu hal saja―kebebasan.
Dia rindu terhadap saudara kembarnya, Rowan dan berharap dapat bertemu kembali suatu hari nanti. Mereka terpisah sejak Rhine diculik.

Buku setebal 402 halaman ini, memang lebih dominan menceritakan sosok Rhine. Rhine yang dilukiskan sebagai sosok gadis keras kepala, cerdas, cantik, dan bermata heterochromia―kelainan genetis yang disebabkan oleh jumlah melanin yang berbeda pada setiap iris mata sehingga menyebabkan iris mata seseorang berbeda warna. Dia dengan segala cara dan muslihatnya berniat untuk melarikan diri dari sangkar emasnya. Karena kebebasan adalah kunci untuk hidup bahagia menurut dirinya. Dia ingin mencari kembarannya dan hidup tenang di akhir hidupnya yang singkat. Rhine yang berjanji tidak akan mau disentuh oleh Linden, apalagi harus menjadi mesin anak demi meneruskan generasi.

Di sisi lain diceritakan tentang Kepala Rumah Vaughn, ayah Linden. Dia seorang dokter yang mempunyai Rumah Sakit dan juga Lab penelitian di ruang bawah tanah rumahnya. Sudah bertahun-tahun dia melakukan penelitian guna menemukan antidot untuk kelangsungan hidup generasi-generasi baru.

Ada dua pihak yang berperang: kaum pro-ilmu pengetahuan, yang memilih riset genetika serta pencarian antidot, dan kaum pro-naturalisme, yang percaya bahwa sekarang sudah terlambat, dan membiakkan anak-anak baru serta menjadikan mereka bagian percobaan adalah tindakan yang tidak etis. Singkatnya, kaum pro-naturalisme memercayai bahwa membiarkan ras manusia punah adalah hal yang alamiah.

Dari awal sampai akhir, kita akan dibuat tercengang akan kehidupan poligami ala Linden dan pola pikir yang berbeda dari ketiga istrinya. Mereka kadang menjadi sekutu, tapi sering pula bersiteru sehingga berlaku seolah mereka adalah musuh dan pesaing.
Selain itu, kita pun diajak untuk ikut merasakan bagaimana bila kematian sudah berada di depan mata, dan tidak satu pun hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal itu terjadi. Mengerikan bukan?
Tapi perasaan ngeri, waswas dan sedikit merasakan mual terhadap riset yang dilakukan oleh Kepala Rumah Vaughn, menyertai saya sepanjang membaca buku ini. Kita juga akan tesentuh oleh cinta sejati yang didapatkan oleh Rhine. Cinta yang membuat Rhine kuat dan tegar dan berusaha mengambil kembali kebebasan yang telah direnggut dari dirinya. Cinta yang hadir di tengah keputusasaan yang melanda dirinya.

Tidak berlebihan bila saya memberikan empat bintang untuk karya dengan ide cemerlang dari seorang penulis wanita yang masih sangat muda namun berbakat seperti DeStefano ini. Buku ini membuat saya berkhayal jauh di luar batas yang seharusnya saya khayalkan.
Selain itu, saya menyukai kovernya yang cantik. Kovernya sangat mewakilkan isi dari kisah Wither ini―seorang gadis cantik yang terperangkap di dalam jam pasir emas, dan hanya tinggal menunggu pasir kuarsa menimbun dirinya untuk kemudian merenggut kehidupannya. Tata letaknya pun didesain dengan unik, bermain dengan garis serta kotak, mirip bentuk diagram yang biasa kita buat saat sekolah.

Semoga Penerbit Kantera akan menerbitkan buku kelanjutan dari Trilogi The Chemical Garden ini. Saya sudah telanjur jatuh hati dengan ide ceritanya.

Lauren DeStefano lahir di New Haven, CT, Amerika Serikat, pada 13 Oktober 1984. Sejak kecil, dia sudah menyukai membaca dan menulis cerita. Dia menyukai karya Vladimir Nabokov dan T. S. Eliot.
Lauren menyelesaikan pendidikannya di Albertus Magnus Collage di New Haven, CT pada tahun 2007. Wither―buku pertama trilogi The Chemical Garden―adalah karya perdananya.
Untuk mengetahui lebih detail tentang Lauren DeStefano, silakan kunjungi: http://LaurenDeStefano.co,, www.thechemicalgardentrilogy.com, atau profil Facebook-nya www.facebook.com/pages/Lauren-DeStefano.

3 komentar:

  1. Ga sabar nunggu buku keduanya..
    sumpah kereen.....

    BalasHapus
  2. khasnya mbak ine nih. lama gak posting, begitu posting langsung borongan. he he he

    BalasHapus
  3. heeehheheeh, mas Eko bisa aja.

    BalasHapus