Juli 14, 2011

A TALE DARK AND GRIMM


Resensi oleh Noviane Asmara
Detail Buku:
A TALE DARK and GRIMM
Penulis : Adam Gidwitz
Penerjemah: Khairi Rumantati
Penyunting: Jia Effendie
Pewajah Isi : Husni Kamal
ISBN : 978-979-024-477-1
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 229 Halaman
Harga : Rp 33.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Juni 2011



Kalau kamu termasuk ke dalam golongan orang penakut dan gampang pingsan saat melihat darah, saya anjurkan untuk tidak membaca buku ini.
Karena sudah terpapar jelas peringatan yang tertera di back cover buku yang memuat sembilan dongeng ini.

Saya sempat mengintip web Sang Pendongeng ini. Di situ kita bebas bertanya apa saja seputar buku A Tale Dark and Grimm. Tentang bagaimana si Gidwitz ini memulai menulis A Tale Dark and Grimm, mengapa ia tertarik dengan dongeng, sampai kepada mengapa buku yang ia tulis penuh dengan adegan berdarah.

Saya kutip satu pertanyaan dari fans Gidwitz di webnya yang bertanya tentang buku ini.

Tanya:
The book is kind bloody. Who can read it? Is it appropriate for seven year olds? How about forty-five year olds?

Jawab:
It’s definitely not appropriate for forty-five year olds. It’s funny and scary and forty-five year olds will probably hate it. But as for seven year olds…

The official age on the book is 10 and up (up to forty-four, that is) but I have read scary parts of the book to classes of seven and eight year olds , and they’ve been ecstatic about it.

And bla bla bla …

Kebanyakan dari cerita dongeng yang sudah ada dan familier di ingatan kita adalah dongeng-dongeng lucu, fantastis, konyol, penuh haru dan berakhir dengan kebahagiaan.
Berbeda dengan A Tale Dark and Grimm ini. Di sini, sejak halaman pembuka saja, nuansa horor sudah terasa merambat merayapi tengkuk kita membuat bulu kuduk meremang. Bukan horor yang identik dengan sosok hantu atau makhluk tak kasat mata, tapi lebih kepada horor karena akan selalu ada darah hangat dan merah yang terus setia menyertai kita di setiap jari kita membuka lembar-lembar halamannya.

Ini dongeng yang sadis, kejam, tidak biasa dan tidak untuk dikonsumsi anak-anak. Lho?
Karena kesembilan dongeng yang dituturkan apik oleh Adam Gidwitz ini, alih-alih sebagai dongeng pengantar tidur, membuat orang nggak bisa tidur dan gelisah sepanjang malam.

Kalian pasti sudah tidak asing kan dengan tokoh dalam dongeng ini? Si kembar Hansel dan Gretel. Nah, kali ini kita akan diajak bertualang bersama si kembar ini ke dalam petualangan-petualangan mereka yang seru, mencekam, keji namun tetap mengandung unsur lucu.
Kesembilan kisah yang tersaji itu saling terhubung dan berhubungan satu dengan yang lainnya. Terangkai menawan dan menjadi satu kesatuan cerita, walau di setiap bagian cerita tertulis kata “tamat”.

Uniknya, dongeng ini mengisahkan si kembar bukan langsung mereka sebagai anak remaja tanggung, tapi menceritakan jauh sebelum mereka lahir―cerita tentang kakek dan orangtua mereka, juga pelayan setia bernama Johannes yang sudah melayani keluarga mereka secara turun temurun. Karena dari sinilah, dari seorang pelayan bernama Johannes, semua cerita bermula.

Pernahkah kamu membayangkan kepalamu dipenggal? Atau dimasukkan ke dalam oven besar yang super panas? Atau mungkin yang paling fantastis berkhayal berkunjung ke neraka? Kalau iya, pastilah kamu seorang pengkhayal ajaib yang aneh, karena semua khayalanmu sadis dan sungguh tidak masuk akal. Apalagi bila kamu berkhayal menjadi seorang nenek dari seorang, ups.. seekor iblis yang tidur di pangkuanmu. Sungguh mengerikan!

Hal-hal di atas akan kita jumpai semua dalam petualangan seru Hansel dan Gretel. Kakak beradik yang saling menyayangi ini, harus rela berpindah-pindah tempat. Dari asuhan tangan yang satu ke asuhan tangan lainnya. Dari rumah yang satu ke rumah lainnya. Dari hutan yang satu ke hutan lainnya. Mereka dipaksa dan terpaksa mandiri dan saling melengkapi.
Terharu sekali, saat mereka mendapatkan ujian yang berat bertubi-tubi. Mereka tetap kompak, saling support dan saling memaafkan. Cinta kasih mereka sudah terbukti kuat. Ujian sekeras dan sehebat apa pun, takkan bisa memutuskan ikatan darah yang mengalir sama di dalam nadi mereka. Walau dalam perjalanannya, layaknya kakak beradik pada umumnya, pertengkaran dan kemarahan sempat menghiasi hari-hari mereka.

Saya berkhayal, andaikan saja buku ini dilengkapi dengan gambar ilustrasi, tentunya akan semakin memperkuat peristiwa sadis yang terjadi. Apalagi bila ilustrasinya dibuat berwarna, seperti ilustrasi yang terselip dalam lembaran-lembaran menawan buku Where The Mountain Meets The Moon. Rasanya sensasi mengerikan akan makin terasa saja.
Adapun kesalahan cetak dan ketik yang terjadi, seperti: membumbung (92), ksatria (104), pintuna (125), menyondongkan (152), lembab (202) dan mempercayai (223), tidak terlalu mengganggu kenyamanan membaca. Karena semuanya dikaburkan dan terkalahkan oleh rasa takut dan ngeri saat membacanya.

Sebagai penyuka cerita dan dongeng bergenre thriller, suspense atau horor―terserah bagaimana penggolongannya, saya teramat menikmati A Tale Dark & Grimm ini. Rasanya menemukan keasikan tersendiri membaca dongeng yang berdarah-darah. Karena selama ini, novel-novel thriller dengan tema pembunuhan berantai, psikopat, dan balas dendam, kerap mewarnai dunia bacaan saya.
Untuk kategori Tale Dark, baru buku ini saja yang saya baca. Walau semasa kecil pernah dibacakan dongeng seram, seputar seorang anak kecil yang dimakan oleh raksasa jahat.

Ingin tahu sesadis apa dan sekeji apa peristiwa seru yang menimpa Hansel dan Gretel, beserta tempat-tempat indah dan fantastis yang sempat mereka kunjungi? Jawabannya ada di buku A Tale Dark & Grimm.

Adam Gidwitz adalah seorang penulis cerita anak-anak, lahir di San Francisco, 1982. Ketika berumur 2,5 tahun dia pindah ke Baltimore dan tumbuh di sana. Memilih English Literature saat kuliah di Inggris. Saat ini dia mengajar di Brooklyn.
Mau tahu lebih lanjut tentang si ganteng yang masih muda ini, intip saja di http://www.adamgidwitz.com




Juli 05, 2011

THE GIRL WHO COULD FLY


 Resensi oleh Noviane Asmara

Detail Buku:
THE GIRL WHO COULD FLY
Penulis : Victoria Forester
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
Pewajah Isi : Husni Kamal
ISBN : 978-979-024-480-1
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 386 Halaman
Harga : Rp 50.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Mei 2011


Tubuhku seringan awan, sebebas burung
Aku adalah bagian dari angkasa dan aku mampu terbang

Kata-kata itulah yang selalu Piper serukan di dalam hatinya, tatkala dia rindu untuk terbang.

Betty McCloud tidak pernah menyangka, bahwa anak yang kelak dilahirkannya akan memiliki kemampuan terbang. Dan menjadi anak yang “berbeda” dari umumnya.
Selama dua puluh lima tahun usia pernikahan, Betty dan Joe McCloud belum dikarunia anak. Sampai pada suatu hari Betty dinyatakan mengandung yang kemudian melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Piper McCloud.

Piper bukanlah bayi sembarangan. Semasa bayi, saat bayi-bayi seusianya terguling atau terjatuh karena kelalaian orang tuanya saat akan mengganti popok mereka, hal ini tidak terjadi pada Piper. Alih-alih jatuh ke lantai dan menjerit-jerit heboh, Piper ditemukan anteng mengapung di udara di samping meja.

Karena kemampuan terbangnya inilah, Piper tidak diperkenankan sekolah oleh kedua orangtuanya. Di samping itu, Piper pun susah bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya dan menjadi sosok anak yang “aneh” di tengah-tengah warga Lowland County.

Akibat rasa usil dan ketajaman mulut Millie Mae―seorang tukang gosip, Piper dikabarkan mengalami ganguan di kepalanya―ada sesuatu yang salah dengan kepalanya. Hal itulah yang menjadikan Piper dipandang sebelah mata, tidak diinginkan dan menjadi bulan-bulanan anak-anak Lowland County.

Larangan orangtuanya untuk tidak memamerkan kemampuan terbang di hadapan umum, akhirnya dilanggar oleh Piper, ketika dia ikut dalam permainan bola.
Secara spontan, Piper mengejar bola dan menangkap bola yang melambung ke angkasa. Saat itulah semua penduduk Lowland County menyadari, bahwa Piper bisa terbang.
Kenyataan ini, tidak serta merta membuat Piper diterima dan disanjung oleh warga, akan tetapi malah membuat teman-teman Piper ketakutan dan para orangtua semakin menmjauhkan anak-anak mereka dari Piper. Piper ibarat virus kolera yang wajib dihindari dan ditinggalkan sejauh-jauhnya.

Saat terpuruk itulah, akhirnya Piper didatangi oleh sekelompok orang yang kemudian diketahui berasal dari I.N.S.A.N.E―sebuah sekolah super rahasia untuk anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa yang dipimpin oleh Dr. Letitia Hellion.
Di tempat baru itulah,Piper menemukan sebelas anak yang usianya lima hingga empat belas tahun. Dan mereka mempunyai keahlian masing-masing. Mereka setiap harinya mempunyai rutinitas yang sama. Belajar bersama di kelas di bawah asuhan Profesor Mumbleby. Saat di luar kelas, mereka diawasi oleh Perawat Tholle.

                                                                     (kover asli)
Anak-anak luar biasa itu adalah; Si Kembar Mustafa yang mempunyai kemampuan mengendalikan cuaca, Violet yang bisa menciutkan tubuhnya, Smitty dan Lily yang memiliki energi telekinetis, Conrad dengan otak lima belas kali lebih jenius dibanding Albert Einstein, Bella, Myrtle, Jasper, Daisy dengan keahlian masing-masing lainnya.

Conrad dan Piper menemukan kejanggalan dari cara mereka diajar dan dilatih. Piper yang suka terbang, malah diminta untuk tidak terbang. Begitu pun dengan murid-murid lainnya dengan keahlian mereka.
Akhirnya bersama-sama mereka bahu-membahu berkonspirasi dan membuat rencana untuk kabur dari I.N.S.A.N.E yang alih-alih membantu kehidupan mereka dengan mengembangkan kemampuannya, malah menjadikan mereka berpikir lambat dan melupakan keistimewaan yang mereka punya.
Dengan dipimpin oleh otak jeniusnya Conrad dan takad gigih serta sikap pantang menyerah dari Piper, kelompok anak-anak “luar biasa” itu menyerang balik terhadap orang yang telah merekrut mereka.

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Kata-kata Betty McCloud itulah yang membuat Piper bersemangat dan peduli pada teman-temannya.


Yang seru dan menarik dari buku dengan tatanan kover fantastis yang menampilkan ilustrasi Piper si Penerbang dan Dr. Hellion yang memegangi kakinya, sungguh pas dengan isi cerita yang dipaparkan adalah, saat anak-anak luar biasa itu menyusun dan kemudian menjalankan rencananya. Untuk usia mereka, rencana yang dijalankan terbilang fantastis. Terlebih mereka didukung oleh kemampuan yang masing-masing mereka miliki. Semakin seru petualangan melarikan diri dari tempat yang berada lebih dari satu kilometer dari permukaan bumi.
Sifat baik, ramah dan keibuan dari sosok Dr. Letitia Hellion pun, sempat menjadi panutan para siswa di I.N.S.A.N.E itu. Walaupun ternyata itu adalah topeng sempurna yang dipakai oleh Dr. Hellion. Dan ternyata, masa lalu Dr. Hellion pun tak kalah menariknya. Juga kita akan terkejut kala mendapatkan kenyataan bahwa si Dr. Hellion ini adalah ...
Penasaran kan? Sebaiknya segera membacanya saja.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari kisah ini.
·         Menjadi berbeda atau “aneh” bukanlah sesuatu yang buruk atau harus menjadi malu karenanya.
·         Bila ada kemauan atau tekad yang keras, niscaya akan ada jalan terbuka untuk mewujudkannya.
·         Selalu sabar dan pasrah terhadap Tuhan, atas sesuatu yang menimpamu atau sesuatu yang belum kamu dapatkan.
·         Bekerja sama dan saling percaya lebih baik daripada bekerja sendiri dan iri terhadap orang lain.

Beberapa typo yang ditemukan di dalam penulisan buku ini, tidaklah mengurangi keasyikan kita saat membacanya. Tapi hal ini mungkin dapat diperbaiki pada saat cetak ulang berikutnya.
Hal. 66 tertulis semenatara (seharusnya sementara)
Hal. 78 tertulis maksdumu (seharusnya maksudmu)
Hal. 89 tertulis dia (seharusnya diam à bila merujuk pada konteks kalimat)
Hal. 98 tertulis mlihat (seharusnya melihat)
Hal. 200 tertulis Paper (seharusnya Piper à nama tokoh)
Hal. 288 tertulis maupum (seharusnya maupun)
Hal. 318 tertulis memerhatikan (seharusnya memperhatikan)


Victoria Forester dibesarkan di sebuah peternakan terpencil di Ontario, Kanada. Setelah lulus dari Universitas Toronto, gairahnya untuk bercerita membimbingnya untuk menulis dan mengarahkan sebuah film pendek untuk CBC. Dia seorang penulis skenario yang sukses. Awalnya The Girl Who Could Fly adalah sebuah skenario film. Dan karena dia menyukai ceritanya, maka dia memutuskan untuk memperluas cerita ini ke dalam bentuk buku.
Buku The Girl Who Could Fly ini merupakan buku pertamanya.
Saat ini dia tinggal di Los Angeles bersama suami, putri dan Rufus―kucing Ridiculously oranye, kesayangannya.

THE DAY OF THE JACKAL: Aksi Maut Sang Pembunuh Bayaran


Resensi oleh Noviane Asmara
AKSI MAUT SANG PEMBUNUH BAYARAN
Detail Buku:
THE DAY OF THE JACKAL
Penulis : Frederick Forsyth
Penerjemah: Ranina B. Kunto
Penyunting: Adi Toha
Pewajah Isi : Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN : 978-979-024-356-9
Tebal : 609 Halaman
Harga : Rp 69.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Serambi
Cetakan: I, Juni 2011



Bersetting Prancis pada tahun 60-an, novel ini mengisahkan tentang upaya pembunuhan terhadap Presiden Prancis kala itu, Jendral Charles de Gaulle.
Percobaan pembunuhan ini telah enam kali dilakukan. Dan sebanyak enam kali pulalah kegagalan harus ditelan pahit oleh para petinggi OAS (Organisation L’Armée Sacrète).

Matinya Letnan Kolonel Jean-Marie Basytien-Thiry, pemimpin sebuah geng pembunuh dari OAS yang dihukum tembak mati pada 11 Maret 1963, tidak serta-merta mengakhiri upaya-upaya lebih lanjut untuk mencabut nyawa sang Presiden. Namun, takdir berkata lain. Hal itu justru menjadi permulaan.

Buku yang terbagi ke dalam tiga bagian ini, yakni; Anatomi Sebuah Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia dan Anatomi Pembunuhan, sangat kental dengan intrik politik.
Ketidakpuasaan beberapa golongan terhadap kebijakan Presiden de Gaulle, mendorong mereka melakukan aksi yang tidak hanya menggulingkan pemerintahan de Gaulle, bahkan dengan membunuh langsung Presiden tersebut.

Adalah Marc Rodin seorang komandan di Indo-China yang akhirnya dikirim ke Aljazair. Awalnya menganggap de Gaulle bak Zeus turun ke Gunung Olympus, saat de Gaulle mengunjungi Aljazair. Rodin yakin, kebijakan baru de Gaulle akan segera diberlakukan. Para komunis akan disapu dari jabatan mereka, para pengkhianat akan ditembak mati, serikat dagang akan ditundukkan dan dukungan sepenuh hati terhadap Prancis atas teman-teman dan saudara-saudaranya di Aljazaoir dan atas pasukannya yang melindungi perbatasan wilayah kekuasaan Prancis itu, akan segera tiba.
Tapi ternyata, de Gaulle mengambil langkah-langkah untuk memulihkan Prancis menurut caranya sendiri. Dan hal ini membuat Rodin hancur dan marah. Karena akhirnya terbukti bahwa konsep Charles de Gaulle tentang kebangkitan Prancis tidaklah mencakup Aljazair.
Yang tersisa pada dirinya tinggallah kebencian.
Kebencian terhadap system, terhadap politisi, terhadap cendikiawan, terhadap orang Aljazair, terhadap serikat dagang, terhadap para wartawan dan terhadap orang-orang asing.
Kemudian Rodin memimpin seluruh batalionnya ke dalam kudeta militer untuk menggulingkan pemerintahan pada bulan April 1961.

Dengan bercermin terhadap enam kegagalan sebelumnya dalam upaya pembunuhan Presiden de Gaulle, akhirnya Marc Rodin yang kini menjabat sebagai kepala operasi OAS, bersama dua teman seperjuangannya, René Montclair, bendahara dan André Casson, kepala jaringan bawah tanah di Metropole, melakukan pertemuan di Wina pertengahan Juni 1963.
Hasil kesepakatan mereka adalah, membunuh de Gaulle dengan menggunakan orang asing, bukan orang dari kesatuannya atau dari negerinya sendiri.
Orang yang benar-benar asing―yang tidak mempunyai kepentingan politik atau idealisme seperti ketiga orang tersebut.
Orang asing yang bekerja secara professional dan murni karena uang.

Dengan melibatkan jaringan bawah tanahnya, akhirnya mereka sepakat menggunakan jasa seorang asing―seorang pembunuh bayaran, yang kemudian dikenal dengan sandi Jackal (Jakal) yang berarti sejenis anjing liar berbulu kuning.
Saat itu Juli 1963. Kesepakatan sudah dibuat. Sang Jakal akan bekerja dengan caranya sendiri tanpa campur tangan pihak OAS. Pihak OAS hanya perlu menyediakan dana awal sebanyak dua ratus limu puluh ribu dolar, dan sisanya sebanyak dua ratus lima puluh ribu dollar lagi akan diberikan, setelah pekerjaan Sang Jakal selesai.
Harga yang bagi mereka terbilang fantastis untuk sebuah nyawa seorang pengkhianat semacam Presiden de Gaulle.

Banyak hal menarik dan seru yang terjadi saat Sang Jakal mempersiapkan segalanya menjelang hari H. Hari di mana eksekusi akan dia lakukan terhadap de Gaulle.
Penyamaran pun mulai dilakukan. Pencurian paspor warga negara lain sebagai identitas baru dilakukan oleh Sang Jakal. Pembuatan SIM Internasional, pemalsuan paspor, pemesanan senjata sesuai yang ia butuhkan―ia lakukan secara detail dan sesempurna mungkin.
Latihan menembak pun, tidak lupa ia lakukan. Pengukuran jarak dan sudut tempat di mana ia akan melakukan aksinya telah ia perhitungkan dengan sangat cermat dan matang.
Sang Jakal memang luar biasa cerdas. Ia tahu, yakin, paham dan sangat ahli dalam bidangnya.

Di sisi lain, kepolisian Prancis dan pasukan pengawal Presiden Prancis, mencium adanya upaya pembunuhan (lagi) terhadap de Gaulle.
Rapat besar pun digelar. Dan hasilnya pemerintah Prancis menyerahkan tampuk kepemimpinan dalam urusan pengejaran Sang Pembunuh Bayaran pada seorang Detektif Pembunuhan yang kariernya sedang menanjak pesat. Claude Lebel.
Bersama Lebel inilah, kita akan menyaksikan cara kerja seorang detektif Prancis untuk mengungkap dan menemukan identitas Sang Jakal, yang melibatkan tujuh petinggi keamanan di tujuh negara.
Lebel yang dibantu oleh Caron sebagai asistennya, sedikit demi sedikit menemukan jejak Sang Jakal. Ia bekerja sama tidak hanya dengan negara-negara di Eropa saja, tapi sampai menyeberang ke belahan benua lainnya.

Kecerdasan Sang Jakal dan Sang Detektif, perlu diacungi jempol. Mereka dua orang yang mempunyai tekad kuat. Berdedikasi terhadap pekerjaannya, tegas dan mempunyai insting yang tajam.
Lebel tahu, bahwa Sang Jakal akan mengumbar aksinya di hari yang tidak akan mungkin dihindari oleh de Gaulle. Hari di mana de Gaulle sebagai Kepala Negara, harus melakukan kegiatan rutin tahunannya.
Hari itu adalah Hari kemerdekaan Prancis, setelah merdeka dari Jerman pada 25 Agustus 1944.
Sang Jakal akan keluar dari persembunyiannya dan menjemeput maut Presiden de Gaulle di hari bersejarah itu. Hari bersejarah untuk Prancis, 25 Agustus. Dan saat itu adalah tahun 1963.

Membaca kisah ini, serasa menyaksikan sebuah film action. Di mana ada suara-suara ketidakpuasaan rakyat atau organisasi tertentu kepada pemerintahan akibat kebijakannya yang dinilai melukai harga diri dan hati mereka.
Pembalasan dendam dengan menghalalkan berbagai cara adalah hal yang mutlak dilakukan.
Saya merasa tegang, saat pertemuan rahasia antara ketiga petinggi OAS itu berlangsung. Bagaimana mereka harus terus bersembunyi dari satu negara ke negara lainnya di Eropa, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Merasakan miris dan mual saat menyaksikan interogasi paksa yang dilakukan para polisi dan politisi terhadap tawanan yang mereka culik untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Cara kejam pun akan mereka lakukan.
Pembunuhan terhadap warga sipil yang tak berdosa pun ikut terekam.

Saya sebagai seorang awam politik, tidak menyangka, betapa kotornya politik itu. Karena bila idealisme yang diperjuangkan, apapun akan mereka lakukan. Sekalipun nyawa dan harga diri adalah taruhannya.
Satu hal lagi yang menarik bagi saya, yaitu tanggal lahir Sang Penulis bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Prancis. Sungguh suatu hal yang ajaib.

Ada beberapa typo yang saya temukan di buku ini.
Hal. 227 tertulis memerdaya (seharusnya memperdaya, karena kata dasarnya adalah daya bukan perdaya)
Hal. 378 tertulis praktek (seharusnya praktik)
Hal 327 terdapat kejanggalan dalam kalimat ini: Selama dua minggu mereka bersama wanita telah mengetahui bahwa hanya dengan rayuan yang paling ...

Frederick Forsyth lahir di Inggris pada 25 Agustus 1938. Dia menjalani wajib militer dari tahun 1956 – 1958. Pada usia 19 tahun, dia menjadi pilot termuda di Angkatan Udara. Tahun 1961, dia bergabung dengan Reuters kemudian tahun 1965 bergabung dengan BBC.
Pada tahun 1969, dia menulis buku pertamanya yang berjudul The Biafra Story.
The Day of Jackal, pertama kali terbit tahun 1971, menjadi buku laris dan mendapatkan penghargaan novel terbaik Edgr Allan Poe Award 1962.
Novel ini menjadikannya salah satu penulis novel thriller terkemuka, dan termasuk ke dalam salah satu dari 100 novel criminal terbaik sepanjang masa.
Novel-novel Forsyth bercerita seputar peperangab, intrik internasional, intrik politik, spionase dan kriminalitas lintas Negara. Karya-karya lainnya yang juga laris dan mendapat pengakuan secara luas adalah: The Dogs of War, The Odessa File, The Devil’s Alernaive, The Fourth Protocol, The Negotiator, The Deceiver, The Fist of Goid, Avangher, The Afgan dan The Cobra.
Saat ini dia tinggal di Hertfortshire, Inggris bersama istrinya.

Juni 30, 2011

PROPHECY OF THE SISTERS


Resensi oleh Noviane Asmara 

PROPHECY OF THE SISTERS
Penulis : Michelle Zink
Penerjemah : Ida Wajdi
Penyunting : Aisyah
Korektor : Tisa Anggriani
Tebal : 359 Halaman
Harga : Rp 68.500
Cover : Soft Cover
Genre : Dark Fantasy
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Maret 2011

Anak kembar selalu membuat saya takjub. Takjub karena mereka itu unik. Apalagi bila mereka adalah kembar identik. Dari segi fisik, semuanya sama. Postur tubuh, bentuk wajah bahkan kadang sampai kepada sikap dan hobi, walaupun hal-hal yang menyangkut kepribadian akan selalu berbeda.
Tapi ini bukanlah tentang cerita anak kembar yang biasa. Bbagaimana bila ada gadis kembar identik yang sifatnya saling bertolak belakang. Mereka berasal dari satu sel telur yang sama, lahir dari rahim yang sama pula, tapi ketika tumbuh dan berkembang, sifat mereka bagai kutub utara dan selatan. Menjadi dua sosok berbeda, sosok protagonist dan antagonis.

Dalam buku pertama seri Prophecy of the Sisters ini, dikisahkan dua gadis kembar identik berusia 16 tahun, Alice dan Amalia Miltrorpe.
Keduanya tumbuh dan besar bersama dibawah asuhan Bibi Virginia, saat sang Ibu yang merupakan kembarannya meninggal dunia.
Pada usia 16 tahun, kedua gadis kembar itu bersama adik lelaki mereka, Henry yang hidup mengandalkan kursi roda akibat kakinya yang lumpuh, menjadi yatim piatu. Ayah mereka, Thomas Milthorpe, meninggal dengan cara yang tidak wajar, seperti kematian Ibu meraka sebelumnya.

Kematian sang ayah, membawa banyak perubahan terhadap kehidupan Alice, Lia dan Henry Milthorpe.
Mendadak muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia, semacam tato timbul. Jorgumand. Tanda yang menonjol seperti parut luka, dengan pola yang membentuk garis tempat ular itu membelit diri ke tepian lingkaran hingga mulutnya memakan ekornya sendiri.
Kemunculan tanda ini disertai dengan munculnya beberapa kejadian janggal lainnya. Ditemukannya buku berkulit sejuk dan kering berhias rancangan mencetak pola figur-figur aneh dan sangat tua, di perpustakaan milik ayah mereka. Buku yang hanya berisi satu halaman saja, yang memuat tulisan berbahasa latin, yang akhirnya diketahui adalah sebuah ramalan kuno. Ramalan yang kelak menentukan takdir kehidupan si Kembar Milthorpe dan juga yang lainnya.

Melalui api dan harmoni, umat manusia bertahan
Hingga dikirimnya para Garda,
Yang mengambil istri dan kekasih dari seorang pria,
Menimbulkan kemurkaan-Nya
Cerita ini dimulai darr sini :
Dua saudari , terbentuk dari samudra bergelombang yang sama,
Yang satu sang Garda, yang lain sang Gerbang.
Yang satu penjaga kedamaian,
yang lain berukar sihir untuk pemujaan.
Tatkala para Saudari melanjutkan pertempuran
Hingga Sang Gerbang memanggil mereka kembali
Atau sang Malaikat membawa Kunci-Kunci menuju Neraka
Tentara, berbaris melalui Gerbang
Samael, sang Iblis, melalui sang Malaikat
Sang malaikat, hanya dijaga oleh perlindungan selubung halus
Emat tanda, Empat kunci, Lingkaran Api
Terlahir dalam napas pertama Samhain
Dalam bayangan Ular Batu Mistis dari Aubur
Biarkan Gerbang Malaikat mengayun tanpa Kunci
Diikuti Tujuh Tulah dan Tak Kembali
Kematian
Kelaparan
Darah
Api
Kegelapan
Kekeringan
Kehancuran
Rentangkan lenganmu, Nona Kekacauan
Malapetaka sang Iblis akan mengalir seperti sungai
Karena semuanya musnah saat Tujuh Tulah dimulai.

Ramalan tentang kehidupan dua gadis kembar yang diusir ke bumi. Ramalan itu seolah-olah menuntun dan menentukan kehidupan Alice dan Lia pada sebuah misteri dan dendam di masa lalu. Misteri yang telah ada beberapa ribu tahun yang lalu. Misteri yang merenggut kehidupan Ibu dan Ayah mereka, juga para saudari yang berkaitan dengan semua gadis kembar.

Sayangnya, sekarang Alice dan Lia berada di sisi yang berseberangan. Alice berada di sisi kelam, sisi yang telah dipilihnya. Alice yang sejak kecil telah menampakkan tanda-tanda itu. Tapi hal ini makin menjadi setelah kematian ayahnya. Sifat misterius dan bengisnya semakin terlihat. Sedangkan Lia berada di sisi satunya. Dan berniat menyelamatkan dunia semampu yang ia bisa lakukan dengan dukungan teman-temannya. Lia bertekad untuk mengakhiri ramalan itu.

Lia harus terus berjuang dan juga terus mendapatkan teror. Tapi ia tetap bertahan, walau hal itu kadang membuatnya hampir putus asa dan nyaris gila. Bagaimana tidak? Lia harus melawan adik kembarnya sendiri, adik yang telah bersama-sama dengan dirinya bahkan sejak dalam rahim Ibu mereka.
Lia bersama dua orang sahabatnya, Sonia Sorrensen dan Luisa Torelli, secara perlahan-lahan menyingkap selimut misteri yang sangat gelap yang awalnya datang dari sebuah pengkhianatan.

Dan Alice, memilih takdirnya sebagai orang yang melawan Lia. Semua ini ia lakukan karena dendam, ia merasa bahwa seharusnya ialah yang berada di posisi Lia saat ini, bukan Lia yang dalam pandangan Alice sudah merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Lembar demi lembar yang kita baca, menyuguhkan ketegangan dan sensasi yang berbeda. Rasa marah, takut, dendam dan juga cinta, turut hadir menguras emosi para pembaca. Kita tidak disajikan kisah dark fantasy dengan endingnya biasa saja. Tetapi kita akan terhanyut di dalamnya, seolah-olah kita ikut mengembara bersama Lia, dengan merasakan kepedihannya dan rasa dilema untuk memilih. Kita juga akan ikut merasakan sakit hati yang dalam yang diderita Alice.
Kesedihan pun terurai panjang di sini. Bagaimana tatkala Alice dan Lia sekali lagi harus melihat kematian orang yang mereka berdua cintai mati, hanya karena keegoisan mereka.

Ending kisahnya, sungguh mengejutkan, tetapi jujur saya menyukainya, walaupun pada awalnya sulit untuk menerimanya. Saya yakin, buku sekuelnya yang berjudul Guardian of the Gate, akan sama memukaunya dengan buku ini, bahkan mungkin lebih. Begitu juga harapan saya untuk buku ketiganya Circle of Fire.

Michelle Zink tinggal di New York bersama keempat anaknya. Dia selalu terpikat pada mitos dan legenda kuno, serta tak pernah berhenti mempertanyakannya. Tetapi ketika dia menemukan jawaban atas apa yang dicarinya, lahirlah sebuah kisah. Prophecy of the Sisters adalah salah satunya.
Untuk mengenal Zink lebih lanjut dan mengetahui karya lainnya, dapt mengunjungi situs wednya di: www.michellezink.com

THE COUNT OF MONTE CRISTO


Resensi oleh Noviane Asmara 

THE COUNT OF MONTE CRISTO
Penulis : Alexandre Dumas
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Dhewiberta
ISBN : 978-602-8811-24-8
Tebal : 568 Halaman
Harga : Rp 55.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Bentang
Cetakan: I, April 2011
Harga : Rp 73.000

Ketika orang disakiti hingga kemudian hidupnya hancur, sangat wajar bila orang tersebut membalaskan dendam dan berusaha membuat hancur balik hidup orang yang pernah menyakitinya. Itu adalah hal yang sangat manusiawi. Begitu pula bagi seorang Edmond Dantes.

Edmond Dantes adalah seorang lelaki muda berumur Sembilan belas tahun yang berprofesi sebagai kelasi pertama. Dia jujur, rajin dan mempunyai semangat luar biasa pada pekerjaannya. Nasib mujur mengantarkannya meraih kesempatan mendapatkan promosi menjadi orang yang paling dipercaya.
Tetapi tidak semua manusia suka atau senang melihat manusia lainnya beruntung. Demikian pula beberapa teman Dantes. Mereka iri dan hasut terhadap keadaan Dantes yang begitu beruntung. Mereka berusaha untuk menyingkirkan Dantes dengan cara yang picik.

Ketika Dantes tengah berbahagia di acara pertunangan dengan Mercedes, gadis yang sangat dia cintai, dia tiba-tiba ditangkap untuk kemudian dipenjara atas tuduhan terhadap sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.
Dantes didakwa menjadi mata-mata Bonapartis, karena kebetulan Dantes membawa surat dari penguasa Pulau Elba―Napoleon Bonaparte, untuk diserahkan kepada seseorang di Paris.
Akhirnya Dantes harus pasrah dan menerima kalau dirinya dikirim ke penjara di Château d’if. Dia harus menjalani empat belas tahun kehidupannya di penjara itu.

Di dalam penjara, Dantes hampir-hampir putus asa. Hingga akhirnya saat dirinya dipindahkan ke sel bawah tanah, dia bertemu dengan seorang narapidana lain yang ternyata seorang pendeta dan kelak menjadi ayah angkatnya. Dantes mendapat banyak pelajaran hidup dan ilmu pengetahuan yang luar biasa mengagumkan dari teman barunya ini. Bersama sang pendeta tersebut dia menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia pun diberitahu rahasia besar tentang harta karun yang tersimpan di Pulau Monte Cristo. Kelak harta karun inilah yang mengantarkan Dantes membalaskan semua dendamnya terhadap orang-orang yang telah berperan dalam pengkapan dirinya hingga dipenjara.

Akhirnya, hari kebebasan pun tiba. Dantes berhasil melarikan diri dari penjara Château d’if dengan cara yang sungguh cerdik tetapi penuh risiko. Nyawa taruhannya. Dia menyelundupkan dirinya di balik karung yang seharusnya berisi mayat temannya―sang pendeta yang mati karena penyakit.
Ketika karung yang berisi dirinya dilempar ke tengah lautan yang dalam, kesempatan dirinya bebas dengan tetap hidup sangat tipis.
Tetapi Tuhan memperlihatkan kuasa-Nya. Dantes berhasil membebaskan dirinya dan berenang hingga seseorang menolongnya saat dia pingsan akibat kelelahan di tengah lautan.
Setelah bebas dan menemukan dirinya menjadi sosok yang berbeda dari empat belas tahun yang lalu, seiring itu pula rencana balas dendam pun semakin terbuka lebar. Satu mata untuk satu mata, satu gigi untuk satu gigi.

Hari-hari kebebasannya tidak hanya dia pakai untuk membalaskan dendam saja, tapi juga dia isi dengan banyak kebaikan. Di balik rasa sakit hatinya, dia juga adalah seorang yang tahu cara membalas budi dengan datang dan menjelma sebagai dewa penolong di saat yang tepat.
Dantes menyamar menjadi berbagai karakter untuk mencari tahu keberadaan musuh-musuh dan juga orang-orang yang berjasa pada dirinya dan ayahnya saat dia di penjara dulu.
Sebagai contoh saat dirinya menyamar sebagai pegawai dari suatu firma yang membeli semua hutang Morrel―mantan atasannya dulu dan memberikan perpanjangan waktu tiga bulan pada Morrel untuk memenuhi kewajibannya. Sampai akhirnya Morrel bangkit dari keterpurukannya dan berhasil membangun kembali bisnisnya. Tidak hanya itu, Dantes pun memberikan mas kawin yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh putri Morrel.

Dengan harta karun yang dia temukan di Pulau Monte Cristo, dia menjadi kaya raya dan juga berkuasa. Berbekal semua ini lah, satu per satu dendamnya, dia balaskan. Adapun perjalanan kisahnya sampai seorang Edmond Dantes menjadi Count of Monte Cristo ini pun sungguh luar biasa. Dantes telah membuat rencana yang terinci dan cermat hingga hal-hal kecil, yang menghasilkan rencana pembalasan dendam yang sempurna.

Ada satu kata bijak yang mau tidak mau saya setuju dengan kata-kata tersebut.
“...tidak ada kebahagiaan atau ketidak bahagiaan di dunia ini, yang ada hanyalah perbandingan dari satu keadaan dengan yang lain. Hanya seseorang yang merasa putus asa benar mampu merasakan berkat paling tinggi...”.

Monte Cristo adalah sebuah pulau kecil di Italia yang terletak di tengah perjalanan antara Corsica dan Italia Daratan: selatan Elba dan barat Giglio. (Gambar P.Monte Cristo ultimateitaly.com)

The Count of Monte Cristo awalnya diterbitkan dalam Journal des Débats pada 28 Agustus 1844 hingga 15 Januari 1846. Diterbitkan pertama kali di Paris oleh Pétion dalam 18 volume (1844-1845) dan versi lengkap novel ini dalam bahasa Perancis diterbitkan sepanjang abad kesembilan belas.
Novel ini pun sudah diadaptasi ke dalam film dalam berbagai macam versi. Dari mulai serial televisi hingga film layar lebar.

Alexandre Dumas, pére (senior) terlahir dengan nama lengkap Dumas Davy de la Pailleterie, lahir di Villes-Cotteréts pada 24 Juli 1802 dan meninggal di Puys pada 5 Desember 1870 dalam usia 68 tahun karena stroke. Dia adalah penulis berkebangsaan Perancis paling terkenal abad 19, dikenal dengan novel-novel historisnya yang sarat dengan petualangan. Karyanya yang termasyur, The Three Musketeers dan Te Count of Monte Cristo, yang keduanya ditulis hanya dalam rentang waktu dua tahun (1844-1845). Sebagian besar novelnya, termasuk The Count of Monte Cristo dan Roman D’Artagnan, dibuat beeseri. Selain menulis novel, Dumas pun menulis drama, artikel majalah dan merupakan seorang koresponden yang berpengaruh.


The Count of Monte Cristo merupakan buku yang “seksi” karena bukan hanya tebal tapi hurufnya yang kecil-kecil. Dan bagi saya bintang empat layak untuk diberikan pada buku yang berhasil menggambarkan bahwa perbuatan tidak adil yang diterima seseorang, bisa menghasilkan dendam yang besar.
Tetapi saya merasa kurang puas saat tidak diceritakannya dengan lengkap hal-ikhwal penemuan harta karun di Pulau Monte Cristo itu. Terlalu singkat dan terlalu gampang harta karun itu ditemukan. Seolah-olah harta itu hanya disimpan di suatu tempat yang mudah sekali untuk ditemukan tanpa harus berusaha sangat keras.
Tapi sempat saya dibuat mual dan merinding tatkala saya sampai pada bagian Mozaletta―hukuman yang sangat sadis, di mana orang yang menerima hukuman itu harus rela kepalanya dihantam dengan gada untuk kemudian digorok lehernya dan diinjak-injak perutnya sehingga darah akan mengucur deras pada lubang yang menganga di leher akibat gorokan pisau sang algojo. Sungguh hukuman yang sangat tidak berperikemanusiaan. Tetapi ironisnya sangat dinikmati oleh masyarakat yang menyaksikannya kala itu, bahkan kemudian langsung menggelar pesta karnaval yang meriah, seakan-akan hukuman sadis itu tidak pernah berlangsung.

THE HERETIC'S DAUGHTER


Resensi oleh Noviane Asmara 
THE HERETIC'S DAUGHTER: 
Paranoia yang ironisnya menjamur di tengah ketaatan beribadah 
Penulis : Kathlenn Kent
Penerjemah : Leinovar Bahfein
Korektor : Tisa Anggriani
Tebal : 282 Halaman
ISBN : 9786029625554
Cover : Soft Cover
Genre : Historical Fiction
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Mei 2011


Selalu saja menarik untuk saya, bila suatu buku diangkat berdasarkan sejarah yang pernah ada. Karena sejarah menandakan adanya peristiwa yang terjadi di masa lalu. Sejarah tidak dapat diubah sampai kapan pun, bahkan bila hal itu telah melewati beberapa dekade, abad atau milenium sekalipun.

Kali ini Matahati menerbitkan buku dengan judul The Heretic’s Daugter yang ber-genre fiksi sejarah. Buku yang mengambil setting Massachussets di pertengahan abad 17 ini mengangkat isu tentang keberadaan penyihir yang hadir di tengah kehidupan warga.
Isu yang timbul di tengah maraknya wabah cacar yang melanda, dan juga di tengah serangan-serangan brutal orang Indian yang datang berbertubi-tubi. Kesemuanya itu diyakini sebagai bagian dari pekerjaan Iblis.

Kisah berawal dari Keluarga Carrier yang mendadak harus mengungsi dari desanya, karena salah satu anggota keluarga mereka terjangkit penyakit cacar. Mereka terpaksa mengungsi dari Billerica―tempat mereka tinggal, agar tidak menyebarkan virus yang mematikan itu kepada warga Bellarica.
Andover, desa di mana nenek Sarah Carrier dari pihak ibu menetap, menjadi tujuannya. Tetapi Thomas dan Martha Carrier, memutuskan untuk mengungsikan kembali kedua putri mereka, Sarah dan Hannah secara diam-diam ke rumah bibi mereka di Bellarica, karena dikhawatirkan akan tertular cacar juga bila tetap bersama keluarganya.

Di rumah bibinya, Sarah dan Hannah mendapatkan kehidupan yang jauh lebih hangat daripada di rumah mereka sendiri. Sampai-sampai Sarah menjadikan Paman, bibi dan sepupunya itu idolanya.
Sarah tidak pernah tahu, mengapa keluarganya dan keluarga bibinya tidak akur. Yang ia tahu, pamannya tidak seperti yang diceritakan oleh ayah maupun ibunya. Tapi kelak ia mengalami dilema saat perlahan-lahan kebenaran terungkap.

Jika bukan untuk raja, maka untuk negara. Jika bukan untuk negara, maka untuk klan. Jika bukan untuk klan, maka untuk saudaraku. Jika bukan untuk saudaraku, maka tidak lain untuk rumahku.
Kesetiaan kepada keluarga adalah nomor satu. (hal. 126)

Pepatah itulah yang Martha katakan pada Sarah, ketika putrinya itu bertanya ikhwal permusuhan yang terjadi antara Keluarga Carrier dan Toothaker, keluarga pamannya.

Saat wabah cacar mulai mereda, Sarah dan Hannah dijemput kembali oleh ayahnya. Tapi Sarah merasa ada yang salah dengan keluarganya. Sikap ibunya tidak sehangat bibinya di Billerica, padahal mereka adalah kakak-beradik.
Martha Carrier merupakan wanita yang keras, berlidah tajam, kaku dan kukuh terhadap prinsip. Ia tidak menyukai cara hidup tetangganya yang alih-alih terpuji dan berkelakuan baik karena selalu rutin beribadah, malah menjadikan mereka sebagai orang munafik dan selalu berprasangka buruk terhadap orang lain.
Dengan alasan itulah, Martha dan segenap keluarganya dibenci oleh warga Andover. Sampai akhirnya keluarga Carrier dituduh sebagai keluarga yang menganut aliran sesat dan mempraktikkan sihir.

Puncak peristiwa terjadi pada tahun Mei 1692. Pada tahun tersebut banyak wanita di wilayah koloni Massachussets, dari berbagai desa ditangkap dan ditahan kemudian dibawa ke Desa Salem untuk diadili. Mereka dituduh telah melakukan praktik sihir yang menyebabkan kegilaan dan banyak kerusakan.
Hal ini pun menimpa Keluarga Carrier. Mula-mula Martha Carrier ditahan karena tuduhan yang dilakukan warga setempat kepadanya yang menyatakan bahwa ia seorang penyihir. Terbukti dengan selalu menjadi nyata, sumpah serapah dan cacian yang ia layangkan pada warga. Martha pun divonis hukum mati―gantung. Hukumannya bisa menjadi lebih ringan bila ia mau mengakui atas semua yang dituduhkan pada dirinya. Tetapi Martha lebih baik menyerahkan akhir hidupnya di tiang gantungan, daripada harus mengakui hal-hal yang tidak ia pernah lakukan.
Selang beberapa waktu kemudian kelima anaknya, mengalami tuduhan yang sama. Richard, Tom, Andrew, Sarah dan Hannah, harus rela mendekam di penjara dengan tuduhan yang sama kejinya. Mereka masih mempunyai pilihan. Mengaku benar sebagai penyihir dan diringankan dari hukuman, atau bersikukuh bersama idealisme mereka dengan tiang gantungan sebagai ganjarannya.

Ada satu misteri yang hingga buku ini selesai, tetap tidak terungkap. Yaitu isi sebuah buku yang ditulis oleh Martha Carrier selama menikah dengan Thomas Carrier. Buku besar bersampul merah yang diwariskan Martha kepada Sarah, dengan amanat agar buku itu dibaca sampai Sarah siap. Tetapi hingga Sarah berusia 71 tahun, buku yang disinyalir berisi tentang rahasia Thomas Carrier, ayahnya, tidak pernah sanggup Sarah buka. Buku yang menurut ibunya diinginkan oleh sekelompok orang, hingga mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan buku itu.
Jujur, saya penasaran sekali dengan buku itu. Karena dalam The Heretic’s Daughter ini, sedikit sekali hal yang dibahas tentang masa lalu Thomas Carrier, selain hanya keterangan yang menyebutkan ia adalah seorang puritan dan mantan pengawal raja.

Buku ini menggambarkan bagaimana di abad itu, kehidupan penduduk Massachussets sarat dengan konflik. Konflik sosial, politik dan agama. Disamping harus menghadapi wabah cacar yang disebut sebagai penyakit yang berasal dari iblis, meraka juga harus selalu waspada terhadap serangan beberapa suku Indian yang sering datang dengan tiba-tiba, membantai warga dengan sangat sadis dan bebrapa diculik untuk dimintai tebusan.
Selain serangan penyakit dan serangan fisik yang datang dari luar. Warga Massachussets pun harus menghadapi serangan yang lebih kejam lagi. Fitnah. Dengan ditanamnya benih paranoia, yang menjadikan orang saling tuduh-menuduh untuk menyelamatkan diri sendiri.

Banyak hipotesis telah diutarakan untuk menjelaskan perilaku aneh yang terjadi di Salem pada 1692. Salah satu studi paling konkret, yang diterbitkan di jurnal Science pada tahun 1976 oleh psikolog Linnda Caporael, menyalahkan kebiasaan abnormal para terdakwa pada jamur ergot, yang dapat ditemukan dalam gandum, rumput gandum dan sereal lainnya. Ahli toksikologi ergot mengatakan bahwa makan makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan kejang otot, muntah, delusi dan halusinasi. Selain itu, jamur yang tumbuh subur di iklim yang hangat dan lembap―tidak terlalu berbeda dengan padang rumput lebak di Desa Salem, di mana gandum sebagai bahan pokok selama musim semi dan musim panas.

Sepintas mengenai Sejarah Kota Salem.
Kota Salem adalah satu-satunya kota di dunia yang diakui sebagai kota sihir yang sangat penuh misteri. Kota sihir yang benar-benar ada, tepatnya di Negara bagian Massachussets. Kota ini secara resmi telah ditetapkan sebagi Kota Sihir oleh Michael Dukakis, Gubernur Massachussets pada masa itu.
Kota ini ditetapkan sebagai kota sihir karena di kota ini pernah terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Peristiwa The Salem Witch Trial, peristiwa di mana lebih dari 150 penduduk kota ini ditangkap, diadili dan dihukum hanya karena dianggap mempraktikkan sihir.

Membaca The Heretic’s Daughter, membuat cairan empedu saya naik merayap ke tenggorokan. Menjadikan sulit untuk bernapas beberapa saat dan jantung yang seolah-olah berdetak tiga kali lebih kencang dari biasanya. Mual, menegangkan sekaligus mendebarkan. Itu sensasi yang saya rasakan.
Alurnya pun semakin lama semakin cepat. Dan kata-kata yang terangkai cukup mudah diikuti dan dipahami.

Kathleen Kent tinggal di Dallas bersama suami dan anaknya. The Heretic's Daughter adalah novel pertamanya. Sebagian besar buku yang telah memengaruhi dan menyentuhnya adalah fiksi sejarah.
Saat kecil buku favoritnya adalah The Quincunx karya Charles Palliser, "Instance of the Fingerpost karya Iain Pir, The Weight of Water karya Anita Shreve, dan The Source karya James Mitchener.
Saat ini ia sedang membaca sebuah buku berjudul "The Home Long" karya William Gay yang menurutnya merupakan salah satu penulis fiksi terbaik di Amerika saat ini.

Juni 07, 2011

MATH DOENT SUCK


Resensi oleh Noviane Asmara

 
MATH DOESN’T SUCK
Penulis : Danica McKellar
Penerjemah: Nuniek Ratnindyah
Penyunting: Jia Effendie & Ida Wajdi
Pewajah Isi : Yenny Renati
ISBN : 978-979-1411-70-7
Tebal : 347 Halaman
Harga : Rp 60.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, April 2011


Bukan mau sombong atau pamer, tapi memang sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya selalu suka dengan pelajaran matematika. Pelajaran yang saat itu (mungkin hingga kini) banyak dibenci dan dihindari oleh orang, terutama anak sekolah. Tapi tidak untuk saya.
Mungkin saya tergolong orang yang tidak suka dengan pelajaran yang berbau hafalan. Saya benci bila pelajaran seperti Ilmu Pengetahuan Sosial atau PPKN tiba. Saya benci harus membaca dan menghafalkan tentang nama negara dan ibukotanya atau harus terjerambab semalaman hanya untuk menghafalkan Pancasila beserta butir-butirnya yang (jujur) tidak pernah bisa saya hafal sampai sekarang.
Tetapi lain halnya bila pelajaran favorit saya―matematika tiba. Saya akan semangat 45 mendengarkan penjelasan dari guru dan mengerjakan soal matematika sesulit apapun. Tidak pernah sedikitpun saya merasa terbebani oleh PR matematika seperti kebanyakan teman-teman saya lainnya. Sekali lagi, bukan mau sombong yah. Tolong dicatat >.<

Terbukti, saat kuliah pun saya dengan mantap mengambil jurusan Akuntansi, di mana sudah pasti sebagaian besar mata kuliahnya adalah soal hitung-menghitung.
Terlebih pekerjaan saya sekarang pun tidak jauh-jauh dari angka. Tiap harinya saya harus berkubang dengan seabreg dokumen yang isinya hanya kolom dan angka. Dan di setiap akhir bulan pun saya harus merajut laporan yang bahan bakunya angka dan pernak-perniknya. Hasil rajutan pun komposisinya 90% angka yang dihiasi beberapa narasi dari untaian huruf. Berkutat dengan angka dan aneka ragam “aksessoris”nya menimbulkan kesenangan sendiri. Ada sensasi, tantangan dan misteri di dalamnya.

Kembali pada buku Math Doesn’t Suck. Buku setebal 347 halaman ini, bukan novel lho. Kamu nggak bakal menemukan tokoh antagonis berupa vampir jahat atau naga iblis . Dan jangan pula berharap bertemu tokoh protagonis berupa cowok keren yang jagoan. Karena sekali lagi ini bukan buku fiksi fantasi seperti kebanyakan buku fantasi keren yang sudah diterbitkan Atria.
Tapi, kamu nggak perlu galau juga dan pesimis akan isi bukunya yang pasti kamu banyangkan sebagai buku yang kaku dan tak lebih dari buku panduan pelajaran matematika.
Buku berkover cewek cantik dan seksi yang berkata “Matematika sama sekali ngga menyebalkan, kok! Dan pintar itu seksi” ini terdiri atas enam bagian.
Setiap bagiannya mengandung kata gampang.
Bagian I: Faktor dan Kelipatan itu Gampang
Bagian II: Bilangan Pecahan itu Gampang
Bagian III: Bilangan Desimal itu Gampang
Bagian IV: Persentase juga Gampang
Bagian V : Soal Cerita itu Gampang
Bagian VI: Aljabar pun Nggak Menyebalkan

Nah, dilihat dari enam bagian yang masing-masing tiap bagiannya mengandung beberapa bab yang akan menyeramarakkan isi bukunya saja sudah bikin kita tertarik kan? Apa iya matematika itu gampang seperti yang McKellar sesumbarkan?
Jangan salah, membaca buku ini dijamin nggak akan bosan, karena didalamnya bukan melulu tentang angka, tetapi ada cerita-cerita yang dibuat sesuai tema yang sedang dibahas. Sehingga kita akan merasa bukan sedang membaca buku pelajaran matematika, tetapi akan lebih terasa seperti membaca cerita sambil belajar matematika.

Saya ambil contoh Bahasa Universal Cinta ... dan Matematika
Dalam bahasa matematika, terdapat begitu banyak abjad, bilangan dan simbol yang bisa digunakan dalam “pernyataan” atau “persamaan”, seperti 1 + 3 = 4. Ini adalah cara yang jauh lebih cepat daripada mengatakan, “Jika kita menambahkan satu dan tiga, hasilnya adalah empat.” Bahasa matematika memiliki cara yang sangat efisien untuk menyampaikan ide-ide seperti itu.
Fakta juga menunjukkan bahwa di negara mana pun di Eropa, Amerika, dan kebanyakan negara-negara Afrika dan Asia, masyarakatnya menggunakan bilangan dan simbol-simbol matematika yang sama. Banyak negara dan kota-kota yang menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa kita. Kalau kita mengunjunginya, mungkin kita tidak memahami bahasa bahasa mereka, tetapi kita bisa memahami matematika mereka. Kebanyakan masyarakat lebih memahani “bahasa matematika” daripada bahasa-bahasa lain di seluruh dunia. Bahkan, bahasa matematika begitu universal sehingga banyak orang percaya, jika alien atau makhluk luar angkasa menghubungi kita, mereka pasti akan menggunakan “bahasa” matematika.

Satu lagi kelebihan yang ditawarkan McKellar dalam buku pertamanya ini, yaitu adanya Tips, dengan diksinya Jalan Pintas yang ada di setiap babnya. Di Jalan Pintas ini, kita akan dituntun bagaimana membuat sesuatu yang jelimet itu diurai menjadi gampang.
Tapi agar para pembacanya pun nggak terbuai dengan tips dan trik, dan melupakan apa yang dibacanya saat itu, McKellar menantang kamu untuk mengerjakan Tugas Matematika yang sudah ia siapkan di setiap babnya.
Jadi kita bisa belajar, bermain dan mempraktikkanya langsung. Nah, kamu nanti bisa mencocokkan hasil tugas matematika yang telah kamu kerjakan dengan kunci jawaban yang disediakan oleh McKellar tanpa rasa pelit.
Oh iya, kamu juga nggak bakalan mendadak jadi anak kurang gaul gara-gara membaca buku ini. Karena seperti yang saya sebutkan di atas, kamu pun akan bermain pula di sini. Kamu akan mengetahui apa kata zodiak tentang kamu dan matematika.

Masih ragu dan berpikir kalau matematika itu menyebalkan?
Saya sarankan baca, pahami dan bermainlah dengan McKellar dalam Math Doesn’t Suck ini, niscaya kamu akan sepakat bahwa Matematika itu Nggak Menyebalkan.



Danica Mae McKellar lahir pada 3 Januari 1975. Selain sangat popular berkat perannya sebagai Winnie Cooper dalam serial TV The Wonder Years dan sebagai Elsie Snuffin dalam The West Wing, Danica McKellar juga seorang matematikawan yang telah diakui secara internasional, serta seorang penasehat pendidikan matematika.
Sejak diterbitkan, Math Doesn’t Suck menjadi buku terlaris di Amerika Serikat. Nama Denica muncul di halaman muka surat-surat kabar dan diberi gelar “Person of The Week” oleh ABC World News with Charles Gibson. Danica menerima penghargaan dari Journal of Physic, jurnal terkemuka di Inggris, serta dari New York Times atas karyanya di bidang matematika, terutama atas perannya sebagai ko-penulis dalam tim penemu teorema fisika matematika, yaitu The Chayes-McKellar-Winn Theorem.
Kesuksesan buku pertamanya ini disusul oleh buku keduanya yang berjudul Kiss My Math: Showing Pre Algebra Who’s Boss tahun 2008. Lalu menyusul buku ketiganya dengan judul Hot X: Algebra Exposed. Ketiga bukunya ini masuk dalam The New York Times Best Seller.
Saat ini, perempuan yang memiliki jadwal akting yang padat tetapi tetap mengutamakan perhatiannya kepada pendidikan matematika ini tinggal di Los Angeles, California