Mei 14, 2011

TREASURE ISLAND

TREASURE ISLAND : Petualangan Jim Hawkins Mencari Harta Karun
Resensi : Noviane asmara
Detail Buku:
Judul : TREASURE ISLAND

Penulis : Robert Louis Stevenson
Penerjemah: Mutia Dharma
Penyunting: Ida Wajdi dan Pujia Pernami
Pewajah Isi : Hadi Mahfudin

ISBN : 978-979-024-465-8

Ukuran : 13 x 20,5 cm

Tebal : 352 Halaman

Harga : Rp 43.000

Cover : Soft Cover

Penerbit : Atria

Cetakan: I, April 2011


Jika kisah pelaut dan nyanyian,

Badai dan petualangan, dingin dan panas,

Jika perahu, pulau dan daratan,

Dan bajak laut, serta emas,

Dan semua romansa itu, dikisahkan lagi

Seperti di zaman yang telah pergi
Bias menghiburku seperti juga,
Orang-orang yang masih muda,

--maka mulailah! Namun jika,
Para pmuda tak lagi peduli,

Jika pikiran mereka telah lupa,

Pada Kinsgton, atau Ballantyne yang berani,

Atau Cooper penguasa hutan dan gelombang:

Juga biarkanlah! Maka aku
Dan semua bajak laut bias berbagi kubur
Tempat mereka dan ciptanannya tertidur!

-Kepada Para Pemburu Yang Ragu-

Buku Treasure Island ini merupakan salah satu dari sekian banyak buku klasik yang populer. Buku yang dibagi menjadi enam bagian ini mengisahkan petualangan Jim Hawkins, seorang anak biasa yang sehari-harinya membantu ayahnya mengurusi Admiral Benbow―penginapan mereka.

Sampai suatu saat Admiral Benbow kedatangan seorang pengunjung―seorang bajak laut tua bernama Flint. Kedatangan bajak laut tua ini menjadikan kehidupan monoton Jim berubah total. Kematian bajak laut tua di penginapannya secara tragis, mewariskan Jim sebuah peta harta karun.

Jim terpaksa harus berpisah dengan ibunya demi ikut bertualang mencari harta karun bersama-sama dengan orang yang telah menolongnya dengan berbekal sebuah buku dan kertas bersegal sebagai petunjuk
Darah muda yang mengalir dalam tubuh Jim, menjadikan ia begitu bersemangat untuk mengarungi lautan dengan menunggangi kapal cantik HISPANIOLA.
Di tengah petualangannya mengarungi lautan demi mencari harta karun, Jim bersama Hakim Trelawney, Dokter Livesey, Kapten Smollet dan beberapa orang lainnya yang bertugas sebagai anak buah kapal, banyak mengalami rintangan.

Rintangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi lebih parahnya lagi ada konspirasi jahat dari dalam yang siap-siap mengadang dan menghancurkan visi dan misi Jim Hawkins.

Dengan segala keterbatasan Jim yang dasarnya hanyalah anak biasa dan bukan pelaut, ia berusaha menyelamatkan diri dan orang-oarang yang ia anggap teman.

Dan diakhir cerita dikisahkan kalau perjuangan Jim yang pantang menyerah dan penuh semangat itu membuahkan hasil yang gemilang.


Bagi saya novel klasik ini begitu ringan dan sederhana. Tidak seperti cerita-cerita klasik lainnya yang sarat dengan kata bijak, bertaburan perumpamaan indah, Treasure Island ini sedikit berbeda. Mungkin karena bercerita tentang bajak laut dan perjalanan mengarungi laut, bukan tentang cerita yang menitikberatkan pada kehidupan social dan pencarian jati diri.
Konon, inilah buku pertama yang mengilhami ditulisnya cerita-cerita tentang perburuan dan harta karun.
Dan petualangan  bajak laut yang kini banyak difilmkan, dibuat pertama kali karena terinspirasi oleh novel ini.


Ada beberapa kata yang membuat kening saya berkerut saat membacanya. Berkali-kali saya menemukan kata ‘tuggas’ bukannya ‘tugas’. Adapula kata ‘bayyi’ dan bukannya ‘bayi’ dan ‘dilluar’ bukannya ‘diluar’.

Saat saya berpikir kalau hal itu adalah kesalahan dalam pengetikan, tapi segera saya temukan jawabannya, yaitu tidak mungkin. Karena kata-kata tersebut muncul kembali dan tetap tertulis demikian.

Akhirnya saya mencoba mencari penjelasan dengan bertanya pada seorang teman yang kebetulan sudah pernah membaca versi aslinya yaitu dalam Bahasa Inggris, dan juga seorang editor. Dan dia menerangkan bila memang di dalam buku aslinya pun kata tersebut tertulis demikian. ‘babby’ bukannya ‘baby’ dan ‘tassk’ bukannya ‘task’. Menurut dia, kata tersebut sengaja ditulis seperti itu oleh si penulisnya, karena untuk menggambarkan tentang latar pendidikan para bajak laut saat itu yang digambarkan bodoh dalam hal baca dan tulis. Masuk akal memang penjelasan tersebut. CMIIW.

Tapi ketika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, saya tidak bisa membaca kearah mana hal tersebut dimaksud. Dilihat dari konteks kalimatnya pun, seperti tidak ada penekanan atau makna yang tersirat. Atau mungkin saya yang kurang peka dan jeli ketika membacanya.


Satu lagi yang menjadi ganjalan saya. Terdapat penggunaan kata ‘goblog’ yang saya pikir kurang sopan dan terlalu kasar untuk jenis novel kalsik yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Mungkin bisa diganti dengan bahasa hujatan atau sumpah serapah yang lain, yang mungkin akan terdengar lebih sopan.

Untuk kisah petualangan Jim Hawkins ini, saya berikan 2.5 bintang. Tapi saya suka dengan ilustrasi di dalamnya yang berada di setiap babnya plus kover memukau yang sangat lucu dan eye cathing.


Roberts Louis Balfour Stevenson lahir di Edinburg, Skotlandia 13 November 1850. Selain sebagai seorang novelis, beliau juga seorang penyair, esais dan penulis perjalanan. Selama 44 tahun masa hidupnya, beliau telah menulis lebih dari selusin novel. Treasure Island (1883), The Black Arror: A Tale of the Two Roses (1883), Prince Otto (1885), Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde (1886), Kidnapped (1886), The Master of Ballantrae (1889), The Wrong Box (1889), The Wrecker (1892), Catriona (1893), The Ebb-Tide (1894), Weir Hermiston (1896), St. Ives: being the Adventures of s French Prisoner in England (1897). Treasure Island adalah salah satu novelnya yang meraih sukses.

Sayangnya ada beberapa novel beliau yang belum sempat terselesaikan sampai beliau meninggal yang kemudian diteruskan oleh penulis lain.

Beberapa penulis ternama sangat mengagumi beliau. Adalah Ernest Hemingway yang terkenal dengan Masterpiece-nya The Old Man and The sea..

Robert Louis Stevanson meninggal di Vailima, Samoa 3 Desember 1894 dalam usia yang masih relatif muda, 44 tahun.

Mei 03, 2011

KORUPSI (L'HOMME ROMPU)

 Korupsi: Ujian atas sebuah Integritas


Resensi: Noviane Asmara
Detail buku:
Judul : KORUPSI (L’Homme Rompu)
Penulis : Tahar Ben Jelloun
Penerjemah : Okke K.S.Zaimar
Penyunting : Anton Kurnia
Pewajah Isi : Siti Qomariyah
ISBN : 978-979-024-073-5
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 236 Halaman
Cover : Soft Cover
Penerbit : Serambi
Cetakan I: November 2010

Pertama kali melihat buku ini di sebuah toko buku hari Selasa kemarin, saya pikir ini bukan novel. Tapi saya sedikit heran, karena buku ini terdisplay di jajaran rak buku baru yang kesemua isinya adalah novel.
Dari judulnya saja, saya sudah berpikiran, kalau ini adalah buku “serius”. Buku yang akan mengupas tuntas permasalahan korupsi yang saat ini semakin menjamur dan happening di negeri kia, Indonesia. Tapi ketika saya dapati tulisan “sebuah novel” di sampul depan buku ini, walau tidak terlalu besar, barulah saya tahu, bahwa buku Korupsi ini adalah novel. Saya pun mulai penasaran dan dengan segera membaca sinopsis di back cover buku ini.
Wow….
Paragrap pertamanya membuat saya kaget dan tersanjung, karena ternyata novel ini merupakan novel yang diilhami karya pengarang besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Salah satu penulis kebanggan Indonesia atas karya-karya gemilangnya.
Dan ternyata, novel ini adalah novel terjemahan, pantas saja nama penulisnya berbau asing, walau awalnya saya mengira kalau Tahar Ben Jelloun ini adalah penulis asli Indonesia. Maklumlah, saya bukan termasuk orang yang hafal dan familiar terhadap penulis-penulis Indonesia, terutama penulis sastra.

Novel yang diterjemahkan langsung dari bahasa Prancis ini mempunyai judul asli L’Homme rompu. Secara harfiah artinya Lelaki yang Patah dan menjadi karya persembahan Tahar untuk Pramoedya.
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1994 ini sedikit banyak terispirasi oleh novel Korupsi karya Pramoedya yang terbit di Indonesia tahun 1954.

Buku Korupsi ini bukanlah suatu pemaparan cerita kaku tentang korupsi. Tapi juga masalah tentang perilaku hidup dan tatanan social yang berlaku di masyarakat Maroko saat itu. Kisah percintaan pun bertebaran di dalam novel ini. Penulisan kata-kata yang tertuang juga begitu berani dan sarat dengan sindiran-sindiran tajam.
Novel hasil rekaan Tahar ini mengambil setting di Negara Maroko, negeri asalnya yang dalam banyak hal menyimpan banyak persamaan dengan Indonesia.
Hal ini menunjukkan pada kita, bahwa di bawah langit yang berbeda dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama.
Karena itulah novel ini menjadi layak dibaca sebagai cermin atas situasi di negeri kita yang tak kunjung reda dilanda badai korupsi.

Murad. Dialah sosok analogi dari Lerlaki yang patah. Seorang insinyur yang bekerja di Kementrain Pekerjaan Umum, Cassablanca Maroko. Ia mempunyai jabatan yang diincar oleh banyak orang yaitu sebagai Wakil Direktur Perencanaan dan Pembinaan.
Kasarnya, tempat ia bekerja adalah “tempat basah”. Walaupun dikelilingi oleh orang-orang yang berpikiran dangkal dan senang menggunakan cara pintas demi mendapatkan sesuatu, Murad adalah pribadi yang kuat yang memegang teguh prinsip sebagai “orang bersih”. Ia tetap bergeming tak tergoyahkan oleh godaan yang datang.
Ia semakin menjadi orang “aneh” di tengah orang-orang yang berlomba-lomba dalam penggelapan, pemerasan, suap dan ghulul―korupsi. Aneh, hanya karena orang-orang di lingkungan sekitar dirinya tidaklah sama seperti yang ia alami.
Rengekan Hilma istrinya yang tidak puas dengan keadaan hidup mereka yang teramat sangat pas-pasan, hinaan dari ibu mertuanya dan permintaan anak-anaknya yang tidak mungkin dapat Murad penuhi, tetap tidak mengubah prinsip Murad. Ia tetaplah menjadi seorang yang tidak dapat disuap. Ia bangga dengan dengan integritasnya itu.

Sekali lagi, prinsip teguh Murad diuji kembali ketika harus berhadapan dengan berkas Tuan Sabbane. Berkas yang hanya dengan satu buah tanda tangan dari dirinya, keadaan akan berubah total. Setan pun mulai memainkan peranannya untuk membuat sedikit keluwesan dalam sikap Murad. Tidak hanya itu, perlahan-lahan keadaan rumah tangganya semakin tidak harmonis akibat dari keadaan ekonomi yang memburuk. Hal ini membuat Murad mencari cinta wanita lain. Lewat Nadia, janda cantik yang juga adalah sepupunya dan lewat Nadia juga, mahasiswi Fakultas kedokteran, ia  melampiaskan rasa frustrasi dan nafsunya.
Manusia adalah makhluk yang bisa berubah setiap saat. Baik berubah menuju kebaikan ataupun berubah menuju kesesatan. Di sanalah Murad melewati proses revolusi diri.
Apakah Murad masih dapat bertahan dengan prinsipnya sebagai orang bersih. ataukan ia rela menggadaikan prinsipnya itu dengan lembaran-lembaran dolar.

Tahar Ben Jelloun adalah sastrawan terkemuka dunia yang menulis dalam bahasa Prancis. Lahir di Fez, Maroko, 1 Desember 1944. belajar filsafat di Universitas V Rabbat. Tahun1971 ia hijrah ke Prancis dan berhasil meraih gelar doctor dalam bidang psikiatri social. Pada tahun 1987 ia meraih Prix Goncourt―hadiah sastra paling terkemuka di Prancis untuk novelnya Malam pertama. Sat ini ia menetap di Paris bersama istri dan ketiga anaknya.
Novel Korupsi atau L’Homme rompu hasil karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.


NERAKA CERMIN

NERAKA CERMIN: Persembahan Menawan Sang Edogawa Rampo

Resensi: Noviane Asmara
Detail buku:
Judul : Neraka Cermin
Penulis : Edogawa Rampo
Penerjemah : Anton WP
ISBN : 978-979-1032-50-6
Tebal : 104 Halaman
Cover : Soft Cover
Kategori :  Fantasy Mystery
Penerbit : Bukukatta
Terbit : Januari 2011

Mendengar kata Edogawa, langsung mengingatkan saya pada serial komik Detektif Conan Edogawa. Serial komik ini begitu fenomenal dan begitu disukai banyak orang. Bukan saja anak-anak, tetapi orang dewasa pun menyukainya, termasuk saya.
Walaupun jujur, ada sedikit rasa bosan saat ini ketika membaca serialnya. Serial yang sudah mencapai seri ke 56. Selain serial komiknya, Detektif Conan Edogawa ini telah dibuat serial film kartunnya, yang diputar disalah satu televisi swasta. Film kartun ini sempat menjadi tontonan favorit dan wajib saya tonton.

Di sini saya tidak akan membahas tentang Detektif Cilik Conan Edogawa. Tapi nama Edogawa yang diambil oleh Sinichi Kudo sebagai nama untuk penyamaran dirinya.
Nama Conan kita sudah tahu berasal dari nama Sir Arthur Conan Doyle, penulis cerita Detektif Sherlock Holmes yang terkenal itu. Namun nama Edogawa, jarang orang yang tahu, berasal dari mana nama itu. Ternyata nama Edogawa diambil dari penulis besar Jepang yang bernama Edogawa Rampo.
Edogawa Rampo ini dijuluki sebagai Bapak Cerita Misteri Jepang. Julukan itu begitu tepat disandangnya, mengingat karya-karya yang beliau hasilkan benar-benar memikat dan penuh misteri. Edogawa juga menciptakan tokoh detektif Kogoro Akechi dan Kobayashi Shōnen dalam novel detektifnya yang ditujukan untuk kaum muda.
Dari sekian banyak cerita yang telah  beliau tulis, kali ini saya berkesempatan membaca enam buah karyanya yang tegabung dalam Novel Neraka Cermin yang diterbitkan Bukukatta.

Keenam cerita yang menurut saya semua penyajiannya sangat khas dan sangat ‘Edogawa’ sekali, berhasil membuat saya kagum.
Tengok saja betapa uniknya hobi seorang Tanuma terhadap benda yang dapat memantulkan bayangan dan juga semua bentuk lensa. Hobi yang lama-lama berubah menjadi obsesi dan mengantarkannya ke dalam maut. Edogawa meramu cerita misteri yang tidak biasa ini dalam kisah Neraka Cermin. Lain lagi dengan kisah Jurang, yang juga unik. Unik karena cerita ini hanyalah berupa percakapan antara dua tokoh, tokoh Wanita dan tokoh Pria. Di mana dari percakapan-percakapan ini terangkai sebuah misteri pembunuhan. Misteri pembunuhan seorang suami oleh istrinya. Pengungkapan siapa yang membunuh, motif terjadinya pembunuhan, alibi si pembunuh dan apa yang ingin dicapai oleh si pembunuh pun terungkap hanya dengan dialog-dialog yang mengalir deras dari kedua tokoh ini. Hasil akhirnya… begitu membuat saya terpukau. Karena itulah saya sangat menyukai cerita Jurang ini dari keenam cerita lainnya.
Cerita yang tak kalah menariknya adalah kisah Kembar: Pengakuan Seorang Penjahat pada Pendeta. Kisah seorang penjahat yang dihukum mati akibat perbuatannya. Dia berniat bertobat dan mengakui semua kejahatan-kejahatan besar yang pernah dia lakukan sebelumnya, termasuk satu kejahatan besar dan merupakan kejahatan pertama kali yang dia lakukakan, yang selalu menghantui kehidupannya. Membunuh Kembarannya
Cerita misteri lainnya yang juga menjadi favorit saya adalah Kursi Bernyawa. Cerita yang penuh dengan teka-teki. Kemudian ada cerita Dua Orang Pincang dan cerita Ulat sebagai penutup yang sempurna dari  buku kumpulan cerita dari Edogawa Rampo ini.

Setelah membaca keenam cerita misteri hasil goresan tangan ajaib Edogawa Rampo ini, kekaguman saya bertambah besar. Ternyata Jepang tidak hanya mempunyai penulis besar semacam Eiji Yoshikawa dengan karyanya yang gemilang dalam kisah epik dan Sastra Jepang lainnya, tapi Jepang juga mempunyai penulis cerita misteri yang cerdas seperti Edogawa Rampo, yang terlahir dengan nama asli  Hirai Taro.
Mendengar kata Hirai pun, mengingatkan saya pada penyanyi Jepang favorit saya, dengan lagu-lagunya yang selalu berhasil menghanyutkan saya, apalagi ketika saya sedang membaca novel yang sedikit berbau romance. Dia adalah Hirai Ken, atau lebih sering dikenal sebagai Ken Hirai.
Kira-kira ada hubungan apa yah antara Hirai Taro dan Hirai Ken ini? ^ _

THE EVOLUTION OF CALPURNIA TATE

Belajar Terori Darwin bersama Callie Vee


Resensi: Noviane Asmara
Detail Buku :
Judul : THE EVOLUTION of CALPURNIA TATE
Penulis : Jacqueline Kelly
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penyunting : Nadya Andwiani
Korektor : Nani
Tebal : 383 Halaman
Harga : Rp 52.500
Cover : Soft Cover
Penerbit : Matahati
Cetakan : November

CALLIE Vee. Begitu orang-orang memanggilnya. Tetapi ia terlahir dengan nama lengkap Calpurnia Virginia Tate. Ia adalah anak perempuan keluarga Tate satu-satunya yang berusia sebelas tahun dari tujuh bersaudara. Tumbuh dan besar bersama tiga kakak dan tiga adik laki-lakinya bukanlah hal yang mudah baginya. Karena ia menjadi satu-satunya anak perempuan yang harus mengikuti aturan kuno dan tradisi kala itu.

Mengambil setting desa Fentress, Texas 1899. Tahun yang bisa dibilang masih kuno. Dengan bermacam aturan tetekbengek yang saat ini tidak masuk akal, sampai masalah rasisme yang masih kental.

The Evolution of Calpurnia Tate ini mengisahkan perjalanan hidup seorang Callie Vee menjelang usia dua belas tahun yang penuh rasa ingin tahu.. Ia berusaha menemukan jati dirinya dan berusaha mendobrak adat dan aturan kuno yang mengungkung hidupnya.
Semua itu bermula ketika ia mempunyai segudang pertanyaan tentang kebiasaan binatang dan makhluk hidup di sekitar rumahnya. Dan tidak seorang kakaknya pun mengetahui jawabannya, alih-alih ia diminta bertanya kepada Walter Tate, sang Kakek.
Kakek yang menurut Harry kakak tertuanya, mempunyai pengetahuan luas dan dapat menjawab semua bentuk pertanyaan yang dimiliki Callie. Hanya masalahnya adalah sang Kakek terkenal tidak dekat dengan cucu-cucunya dan dimungkinkan tidak mengetahui nama dari ketujuh cucunya itu. Begitu pun para cucunya, mereka enggan bertanya dan dekat kepada sang Kakek.

Callie akhirnya memberanikan diri mengunjungi Kakeknya di laboratorium―tempat yang selalu dihabiskan Kakeknya seharian. Saat mengajukan pertanyaan pertama dengan rasa gentar, alih-alih jawaban yang Callie terima, ia malah diberikan pertanyaan balik oleh sang Kakek. Persahabatan antara keduanya pun akhirnya terbentuk.
Untuk ukuran anak perempuan seusianya, Callie seharusnya belajar piano, merajut, menyulam bahkan memasak. Tapi ia tertarik pada sains. Keingintahuannya terhadap dunia sains begitu besar, terlebih terhadap perilaku makhluk hidup di sekitarnya.
Seperti mengapa belalang kuning berwarna kuning agar bisa bertahan lama di tengah kekeringan; agar burung-burung tidak bisa melihat mereka di tengah hamparan rumput yang menguning. Belalang hijau, yang menjadi mangsa empuk burung-burung, berusia lebih pendek. Hanya yang kuning yang bisa bertahan hidup karena mereka lebih kuat untuk bertahan di tengah cuaca panas.

Callie jatuh cinta terhadap dunia ini. Dan ketika ia tidak dapat meminjam buku yang sangat ia inginkan di perpustakaan sekolahnya, karena dinilai belum pantas membacanya, secara tak disangka-sangka ia mendapatkan buku tersebut dari Kakeknya yang mengambilnya dari koleksi  perpustakaannya. The Origin of Species karya Mr. Darwin.

Hari-hari Callie ia habiskan bersama Kakeknya. Pergi ke Hutan dan sungai mencari spesimen-spesimen baru. Meneliti, menganalisa, membandingkan, berteman dengan mikroskop, stoples dan cairan pengawet. Callie menyukai hari-hari bersama Kakeknya. Karena cakrawalanya terbuka lebar dan menawarkan sesuatu yang penuh dengan tantangan dan dunia baru.
Lambat laun Margaret, ibunda Callie merasa keberatan akan perilaku putri semata wayangnya. Akhirnya ia menerapkan disiplin ketat untuk Callie. Hari-hari Callie dijejali dengan segudang aktivitas berbau feminin. Ia diwajibkan merajut kaus kaki untuk keenam saudara lelakinya, menjahit, merenda, membuat pie apel dan bermain piano. Ibunya menginkan Callie menjadi seorang debutan. Sesuatu yang tidak pernah tercapai oleh dirinya semasa muda.
Callie tidak mempunyai pilihan. Keputusan sang Ibu menjadi mimpi buruk baginya, takdir yang tak bisa ia tolak.
Pernah suatu ketika ia menyampaikan keinginannya menjadi seorang Ilmuwan, tapi langsung disambut dengan tatapan kamu-adalah-seorang-perempuan.
Tapi bukan Callie si pendobrak namanya yang harus menyerah pada keadaan. Ia tetaplah seorang calon ilmuwan. Panggilan jiwa rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa patuhnya. Callie pun kembali meneliti dan bermitra bersama Kakeknya.

Suatu ketika saat Callie dan Kakeknya berjalan-jalan ke hutan untuk mencari sesuatu yang baru, Callie menemukan tumbuhan vetch berbulu. Dan setelah mereka teliti, tumbuhan itu tidak ada dalam peta buku tumbuhan dunia. Maka mereka pun mengirimkan hasil penelitiannya ke Komite Taksonomi Tumbuhan di Washington D.C.
Jawaban atas surat meraka datang dalam bentuk telegram pribadi dua hari setelah Natal. Betapa terkejutnya Callie dan sang Kakek, ketika telegram tersebut menyatakan sesuatu yang positif. Dan bahkan nama mereka pun diabadikan sebagai nama spesies baru. Pencapaian yang luar biasa untuk Callie dan Kakeknya.

Buku ini menawarkan sesuatu yang baru. Sarat dengan pengetahuan akan makhluk hidup. Tentang pembahasan garis besar teori Darwin. Setiap bab dibuka oleh suatu Epigraf yang diambil dari The Origin of Species karya Charls Darwin.
Dengan membaca buku ini, kita akan mendapatkan keuntungan ganda. Tentang cerita ringan Callie Vee gadis sebelas tahun yang hidup di abad 19 beserta keuntungan memahami teori Darwin dalam bentuk rangkaian cerita.
Kita tidak akan dibuat jenuh atau merasa digurui, karena pemaparan kisah ini begitu halus tetapi mengena.
Buku ini wajib menjadi bacaan anak-anak yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi sekaligus cinta keluarga.

Ada satu kalimat positif yang patut kita contoh. “Pelajaran hari ini adalah: lebih baik melakukan perjalanan dengan harapan yang tersimpan di hati daripada tiba dengan selamat”
Artinya, kita harus merayakan kegagalan kita hari ini, karena ini adalah pertanda nyata bahwa petualangan kita di dunia penemuan belum berakhir. Hari ketika sebuah eksperimen berakhir adalah hari ketika eksperimen itu berakhir.

Jacqueline Kelly dilahirkan di New Zeland dan dibesarkan di bagian barat Kanada. Beberapa tahun kemudian keluarganya pindah ke El Paso, Texas. Ia adalah lulusan El paso University and Medical School di Galveston dan juga seorang lulusan dari University of Texas School of Law. Tetapi menulis cerita fiksi adalah kebanggaan dan kebahagiannya. The Evolution of Calpurnia Tate yang merupakan novel pertamanya ini  dirilis pada tanggal 12 Mei 2009.
Saat ini dia memiliki rumah bersama suaminya dan bermacam-macam anjing dan kucing di Austin serta Fentress, Texas. Dia berpraktik sebagai dokter dan pengacara.

Thanks buat Penerbit Matahati yang sudah memberikan kesempatan pada saya menjadi First Reader buku yang sungguh menawan, memesona dan sarat dengan pengetahuan ini. Saya senang bila Matahati terus menerbitkan buku dengan genre yang serupa kisah Calpurnia ini.

April 19, 2011

THE LAWS OF MAGIC #1 : Blaze of Glory

Resensi : Noviane Asmara

Penulis : Michael Pryor
Penerjemah: Nina Setyowati
Penyunting: Melody Violine
Pemerikasa Aksara : Helena Theresia
ISBN : 978-979-024-473-3
Tebal : 554 Halaman
Harga : Rp 79.900
Penerbit : Ufuk
Cetakan: I, Januari 2011

Blaze of Glory merupakan buku pertama dari seri Trilogi The Laws of Magic.
Buku ini mengisahkan Aubrey Fitzwilliam seorang pemuda tanggung yang paling berbakat dalam sihir di Sekolah Stonelea. Sejak kecil, sudah terlihat jelas bahwa Aubrey memiliki kemampuan sihir yang telah muncul dalam keluarganya selama berabad-abad.
Aubrey berperawakan kurus dan tinggi, tetapi penuh dengan rasa ingin tahu, nekat dan mempunyai ambisi yang besar terhadap sihir. Kesehariannya di Sekolah Stonela, Aubrey habiskan bersama sahabat karibnya, George Doyle, seorang pemuda cerdas, yang sama sekali tidak terlihat cerdas. Mereka selalu melakukan segala jenis eksperimen sihir. Sampai suatu hari, Aubrey melakukan sebuah eksperimen sihir yang berbahaya. Sihir terlarang yang sebenarnya tidak boleh dia lakukan. Sihir Maut.
Dan efeknya terus melekat pada diri Aubrey sepanjang hidupnya.

Sebuah surat formal dari sang ayah, Darius Fitzwilliam, mengantarkan Aubrey dan George ke dalam petualangan seru. Untuk pertama kalinya, Darius meminta Aubrey mewakili dirinya untuk datang ke acara berburu yang diadakan oleh Pangeran Albert.
Saat hari itu tiba, di tengah ramainya acara perburuan berlangsung, yaitu berburu Burung Stymphalian, terjadi hal yang menggemparkan.
Seorang pengawal penjaga pos pengamatan berburu ditemukan tewas dengan dua buah luka di kepalanya. Aubrey mencoba untuk menyelidiki misteri kematian pengawal tersebut dengan kekuatan sihir. Sekali lagi dia mencoba sihir maut untuk menembus waktu saat peristiwa itu terjadi.
Melalui penglihatannya, Aubrey tahu bahwa si pembunuh adalah sesosok makhluk mengerikan yang dikenal sebagai Golem.
Makhluk yang telah dibuat oleh sesorang untuk melaksanakan perintahnya. Aubrey kemudian menyadari bahwa Golem itu berniat membunuh Pangeran Albert. Beruntunglah Aubrey dan George bertindak cepat, sehingga Pangeran berhasil diselamatkan.

Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, terjadi dua pembunuhan secara beruntun. Kematian Dr.Tremaine Sang Ahli Sihir Kerajaan dan Profesor Hepworth, pemikir besar, Sang Peneliti Sihir dengan karya-karya teori sihirnya. Kematian keduanya dipastikan oleh sesuatu yang berhubungan dengan sihir.
Akhirnya bersama dengan putri Profesor Hepworth, Caroline, Aubrey dan George melakukan penyelidikan demi menemukan dalang di balik pembunuhan itu.
Trio penyelidik dadakan itu sedikit demi sedikit menemukan benang merah kenapa seseorang menginginkan Profesor dan Putra Mahkota mati. Mengapa pula seseorang itu membunuh Dr. Mordecai Tremaine. Dan apa hubungan semuanya dengan hilangnya Sir Fitzwilliam secara tiba-tiba. Siapa yang akan diuntungkan dari kematian mereka.
Kekompakkan dan kesolidan tim kecil itu, berhasil membongkar semuanya. Berhasil menemukan pembunuh yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Sepertiga awal buku ini masih terasa datar, belum tampak kejutan-kejutan yang berarti. Dan alurnya sangat lambat. Tapi begitu menginjak di duapertiga bagian buku, semuanya berlangsung cepat dan penuh kejutan. Petualangan dan kejadian-kejadian seru mulai menghiasi dan membuat ceritanya lebih hidup.
Digambarkan bagaimana Aubrey mempraktikkan sihir maut-nya ketika berusaha menembus waktu untuk melihat adegan kala pembunuhan terhadap si penjaga pos pengamatan berburu terjadi.

Tetapi saya sedikit direpotkan dengan bertebarannya istilah-istilah ilmiah yang wara-wiri dalam buku ini, walaupun dijabarkan arti dari istilah-istilah tersebut. Misalnya:
Hukum Kontiguitas. Kedekatan. Prosimitas.
Hukum Propensitas adalah hokum tentang kecenderungan benda terhadap tindakan tertentu.
Hukum Resonansi yang menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu, tindakan dan benda bisa meninggalkan jejak di sekitar mereka.

Adapun kesalahan cetak atau typo yang terjadi, tidak begitu berarti dan tidak mengurangi keseruan membaca petualangan Aubrey ini.
Hanya sedikit ada rasa tidak nyaman terhadap hasil dari terjemahannya. Serasa kurang pas, sehingga ruh-nya tidak terlalu melekat sempurna. Atau mungkin juga faktor dan proses editing yang kurang bias memberikah ruh pada buku ini. Sehingga, walaupun ceritanya sampai pada puncak, tapi greget yang didapat tidak terlalu meledak dan memuaskan saya sebagai pembaca.

Satu catatan yang dapat menjadi sebuah referensi tentang sihir. Baron Verulam dengan pandangannya yang menggemparkan sekitar tiga ratus tahuin yang lalu. Yang mengawali kelahiran sihir modern, yang membawa sihir keluar dari zaman kegelapan yang penuh dengan takhayul dan tipu daya. Verulam bersikeras, bahwa sihir seharusnya diperlakukan secara ilmiah, melalui percobaan dan pengamatan yang merupakan unsur-unsur pendekatan empiris. Dengan landasan itu, Verulam berusaha membangun hokum-hukum yang konsisten, sehingga hasil-hasilnya dapat diuji kembali.
Sihir modern tumbuh dari sihir kuno, seperti alkemi yang setengah gila dan setengah intuitif melahirkan ilmu pengetahuan kimia modern yang rasional.
Perkembangan teknologi melampaui perkembangan sihir, karena satu aspek yang penting. Sihir hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang dengan bakat alami. Kecenderungan ini membuat manusia memperhatikan kekuatan-kekuatan sihir, dan kemampuan untuk melihat pengaruh sihir dalam cara yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Kemampuan bisa ditingkatkan dengan ketekunan belajar, tapi tanpa kapasitas sihir yang merupakan bawaan sejak lahir, mantra-mantra tidak bisa diakltifkan.
Inilah yang terjadi pada Aubrey Fitzwilliam, sang tokoh utama Blaze of Glory.

Rasanya tidak sabar menunggu Heart of Gold dan Word of Honour, kelanjutan dari seri Trilogi The Law of Magic ini terbit.

Michael Pryor lahir di Swan Sill, Victoria tahun 1957. Masa kecilnya dia habiskan di Victoria dan Melbourne sebelum pindah ke Geelong saat usianya 10 tahun. Dia tinggal di Geelong hingga masuk universitas di Melbourne. Dia mengajar Bahasa Inggris, Sastra, Drama, Ilmu Hukum dan Ilmu Komputer. The Laws of Magic Series  telah terpilih tiga kali untuk Aurealis Award dan juga telah dinominasikan untuk Ditmar Award. Saat ini dia tinggal di Melbourne bersama istri dan kedua putrinya.

ESPERANZA RISING


Judul : ESPERANZA RISING
Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Pam Muñoz Ryan
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Jia Effendie
Penyelaras Aksara : Ida Wajdi
Pewajah Isi : Aniza
ISBN : 978-979-024-473-3
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 238 Halaman
Harga : Rp 38.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Maret 2011

Kita semua bagaikan phoenix. Bangkit kembali, dengan kehidupan baru di hadapan kita

Itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh Esperanza. Dalam kebeliaannya, dia harus menanggung beban hidup yang teramat berat.
Esperanza Ortega, anak semata wayang Sixto Ortega, pemilik perkebunan luas di Meksiko. Dia adalah pewaris tunggal perkebunan itu.
Sejak kecil, hidupnya sempurna. Penuh dengan keceriaan dan kehangatan. Dia dicintai oleh Ramona, sang Ibu yang cantik jelita dan ayah yang sangat memanjakannya. Dia pun selalu dilayani semua kebutuhannya oleh Hortensa yang telah mengasuhnya sejak dia masih bayi.
Kesempurnaan hidup yang telah dia jalani, tiba-tiba terhenti. Takdir telah mempecundanginya. Kehidupannya berubah menyedihkan, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya yang ketiga belas. Ayah tercinta yang selalu mengajaknya ke perkebunan dan mengajarinya banyak hal, ditemukan tewas dibunuh oleh para bandit saat sedang bekerja memperbaiki pagar di tepi terjauh perkebunan.
Sungguh Ironis, hari di mana seharusnya menjadi hari yang paling bahagia bagi sang Mija, hari itu juga menjadi hari terkelam dalam hidupnya.

Selepas ayahnya meninggal, Esperanza dan Ibunya, hanya diwariskan rumah yang mereka tempati. Esperanza tidak bisa mendapatkan perkebunan yang telah menyatu dengan hidupnya, hanya karena dia seorang anak perempuan dan masih kecil. Akhirnya perkebunan luas pun harus jatuh ke tangan kakak tiri Ortega, Tio Lucas dan Tio marco, seorang bankir dan walikota yang licik dan culas.

No hay rosa sin espinas. Tidak ada mawar yang tidak berduri.”
Tidak ada kehidupan tanpa kesulitan.
Itulah yang Abuelita, sang nenek katakan pada Esperanza. Dalam tiap satu langkah kehidupan, selalu dibarengi dengan satu kesulitan tetapi selalu disertai pula dengan satu kemudahan.
Tio Luis tidak puas hanya dengan memiliki perkebunan luas adiknya, dia pun berniat memperistri Ramona.
Hanya ada dua pilihan bagi Ramona. Menerima pinangan Tio Luis dan kembali menjadi Nyonya pemilik perkebunan tetapi terpisah dari Esperanza atau pergi berimigrasi ke Amerika Serikat bersama mantan pelayannya, Alonso dan Hortensa untuk bekerja sebagai buruh kasar tetapi masih bisa hidup bersama anaknya sang Mija, Esperanza terkasih.

Ramona akhirnya memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat secara diam-diam. Dia bersama Esperanza kini harus berjuang hidup sebagai rakyat jelata. Menjalani kehidupan sebagai orang miskin yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Ternyata, sang Dewi Fortuna masih enggan memberikan keberuntungannya pada Esperanza. Di tempat ia ditampung di perkebunan, ia harus melakukan beberapa pekerjaan kasar. Menjaga bayi, mencuci popok dan menyapu balai pertemuan. Belum lagi hinaan dan sarkasme yang harus ia terima dari orang-orang yang bersikap buruk padanya. Sementara sang Ibu harus membanting tulang tiap harinya, demi sen yang sangat diperlukannya.
Bertubi-tubi kemalangan terus mendera Esperanza. Saat Ibunya sakit keras dengan mengidap Demam Lembah, dia dipaksa oleh keadaan untuk bekerja lebih keras lagi, demi menyambung hidupnya dan pengobatan Ibunya.
Dia yang tumbang hari ini, mungkin bangkit esok hari.
Keadaan yang keras menempanya menjadi seorang pribadi yang kuat. Esperanza menjadi sosok yang pantang menyerah dan selalu optimis.
Dan dia bertekad untuk mengubah keadaannya dan mendapatkan kembali kesempurnaan hidupnya yang dulu pernah dia miliki.

Orang kaya akan lebih kaya jika dia jatuh miskin, daripada orang miskin yang menjadi kaya.
-Pepatah Meksiko

Buku yang bersetting Aguascalientes, Meksiko 1924 ini, masih kental dengan tatanan sosial yang tajam. Di mana sekelompok orang menguasai berekar-ekar tanah dan perkebunan, sementara sebagian besar lainnya, harus puas hanya dengan menjadi pelayan dan buruh rendahan yang tidak akan pernah bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Jurang pemisah diantara dua kelompok itu begitu menganga lebar dan tidak akan pernah bisa dilewati.
Hal ini menimbulkan banyak pemberontakan efek dari kecemburuan sosial yang tumbuh dalam kehidupan masyarakatnya. Perampokkan merajalela, bandit-bandit tumbuh bak jamur setiap harinya.
Akibatnya, banyak warga Meksiko yang berimigrasi ke Amerika Serikat hanya untuk memperoleh peruntungan baru, dengan bekerja di perkebunan-perkebunan California dan Oklahoma.
Tetapi kemudian terjadi Repatriasi Meksiko tahun 1939. Pemerintah Federal Amerika menetapkan Aksi Deportasi, yang memberikan kekuasaan kepada daerah-daerah untuk mengirimkan banyak orang Meksiko kembali ke Meksiko.

Perjuangan panjang penuh pengorbanan dan air mata ini, dialami oleh Esperanza Ortega, nenek dari Pam Muños Ryan sang penulis.

Resensi ini dapat dilihat juga di www.buntelankata.blogspot.com

April 18, 2011

THE VAMPIRE DIARIES#3 : The Fury

Resensi oleh Noviane Asmara

Penulis : L.J. Smith
Penerjemah : Nengah Krisnarini
Penyunting : M. Sidik Nugraha
Pewajah Isi : Siti Qamariyah
ISBN : 978-979-024-239-5
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 286 Halaman
Harga : Rp 39.900
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan I: Januari 2011


Elena memandang dirinya sendiri. Gaun pusaka dari abad ke-19 yang dikenakannya compang-camping dan kotor, kain muslin putih tipis tersobek di beberapa tempat. Namun, tidak ada waktu untuk menggantinya; dia harus makan sekarang.

Hidup kini bagi Elena sudah tidak sama lagi. Dunia yang dulu memberikan kepopuleran dan kehangatan—kini menguap sudah. Walau sekat itu tipis, namun Elena tidak pernah bisa kembali. Dia harus rela kehilangan segalanya. Semua yang pernah dulu dia miliki; keluarga yang mencintainya, teman-teman yang menyayanginya dan orang-orang yang memuja dirinya.
Namun, untunglah cinta dari Stefan selalu mengikutinya. Stefan yang terus berada di samping Elena untuk mendukung dan menjaganya.

Kisah The Fury yang merupakan seri ketiga dari cerita Vampire Diaries, lebih banyak menceritakan tentang sosok Elena. Gadis SMA yang cantik yang diperebutkan oleh kakak beradik vampire; Stefan dan Damon.

Kota tempat tinggal Elena tiba-tiba menjadi mencekam. Akibat banyaknya serangan-serangan yang terjadi menimpa murid-murid sekolah dan warga Fell’s Church.
Tuduhan pun ditujukan kepada Stefan. Stefan yang nyaris tewas akibat aksi main hakim sendiri oleh warga Fell’s Church.
Di sisi lain, Elena harus bisa menerima kenyataan dengan kehidupan barunya. Ia harus mulai beradaptasi dengan dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Elena yang di mata warga Fell’s Church telah pergi.

Keadaan menjadi semakin rumit kala Elena, Stefan dan Damon tersadar, bahwa ada sesuatu yang sedang mengintai mereka. Sesuatu yang ingin membuat mereka mati. Yang sulit mereka tembus. Ada kekuatan lain yang menyimpan dendam dan kemarahan hebat pada mereka bertiga.
Bersama-sama, kini meraka bersatu. Stefan dan Damon yang telah bermusuhan dan yang telah lama berusaha saling membunuh, kini mereka bersekutu dan saling membantu.

Penyelidikan pun dimulai. Mereka menemukan nama orang-orang yang mencurigakan. Muncul nama seperti Robert Maxwell, tunangan Bibi Judith. Ada juga Alaric Saltzman sang guru pengganti. Yang sejak kedatangannya ke sekolah Elena begitu tiba-tiba dan penuh dengan misteri. Terkhir yang menjadi calon tersangka mereka adalah Mrs. Flowers, orang yang mengontrakkan rumahnya pada Stefan.

Bertiga mereka melakukan penyelidikan. Untunglah, Elena masih mempunyai teman-teman yang setia. Walau telah berbeda kehidupan, tapi Meredith, Bonnie dan Matt, selalu ada untuk Elena. Kengerian dan ketakutan apapun yang ditimbulkan oleh sosok Elena yang baru, tidak mengubah rasa saying mereka terhadap dirinya.

Di tengah penyelidikan itu, mereka berhasil menyingkap misteri yang menyelimuti orang-orang yang mereka yakini terlibat. Penyelidikan ini pula yang berhasil menguak satu rahasia yang sedah lama Meredith bungkam.
Tapi hl itu bukanlah akhir dari penyelidikan. Kini mereka menemukan sesuatu atau sesorang yang menjadi sumber dari semua malapetaka yang terjadi di Fell;s Chuch.
Seseorang yang tidak pernah Stefan dan Damon sangka. Sesorang dari masa lalu mereka yang kembali hadir dengan beribu teror. Seseorang yang bangkit dari kematiannya. Tapi Elena, selalu tahu bahwa dia akan muncul. Muncul dengan kemarahan hasrat membunuh yang tinggi.

Diari yang ditulis Bonnie di akhir cerita, menjadi penutup yang mengaharukan. Bonnie yang selalu menyayangi Elena. Bonnie yang menghargai segala keputusan dan pengorbanan yang Elena lakukan.

Cerita yang disuguhkan dalam The Fury ini semakin memikat, dengan kejadian-kejadian yang begitu kompleks dan mengejutkan. L .J. Smith nyaris membuat saya terkena serangan jantung. Tidak seperti di dua buku sebelumnya,unsur horor yang ditampilkan sangat terasa, terlebih menjelang lembar-lembar terakhir. Banyak sekali ketegangan-ketegangan dan perasaan waswas yang ditimbulkan.

Bagi para pencinta vampire, terutama fans berat Damon, buku ini wajib dibaca.