April 18, 2011

THE VAMPIRE DIARIES#3 : The Fury

Resensi oleh Noviane Asmara

Penulis : L.J. Smith
Penerjemah : Nengah Krisnarini
Penyunting : M. Sidik Nugraha
Pewajah Isi : Siti Qamariyah
ISBN : 978-979-024-239-5
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 286 Halaman
Harga : Rp 39.900
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan I: Januari 2011


Elena memandang dirinya sendiri. Gaun pusaka dari abad ke-19 yang dikenakannya compang-camping dan kotor, kain muslin putih tipis tersobek di beberapa tempat. Namun, tidak ada waktu untuk menggantinya; dia harus makan sekarang.

Hidup kini bagi Elena sudah tidak sama lagi. Dunia yang dulu memberikan kepopuleran dan kehangatan—kini menguap sudah. Walau sekat itu tipis, namun Elena tidak pernah bisa kembali. Dia harus rela kehilangan segalanya. Semua yang pernah dulu dia miliki; keluarga yang mencintainya, teman-teman yang menyayanginya dan orang-orang yang memuja dirinya.
Namun, untunglah cinta dari Stefan selalu mengikutinya. Stefan yang terus berada di samping Elena untuk mendukung dan menjaganya.

Kisah The Fury yang merupakan seri ketiga dari cerita Vampire Diaries, lebih banyak menceritakan tentang sosok Elena. Gadis SMA yang cantik yang diperebutkan oleh kakak beradik vampire; Stefan dan Damon.

Kota tempat tinggal Elena tiba-tiba menjadi mencekam. Akibat banyaknya serangan-serangan yang terjadi menimpa murid-murid sekolah dan warga Fell’s Church.
Tuduhan pun ditujukan kepada Stefan. Stefan yang nyaris tewas akibat aksi main hakim sendiri oleh warga Fell’s Church.
Di sisi lain, Elena harus bisa menerima kenyataan dengan kehidupan barunya. Ia harus mulai beradaptasi dengan dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Elena yang di mata warga Fell’s Church telah pergi.

Keadaan menjadi semakin rumit kala Elena, Stefan dan Damon tersadar, bahwa ada sesuatu yang sedang mengintai mereka. Sesuatu yang ingin membuat mereka mati. Yang sulit mereka tembus. Ada kekuatan lain yang menyimpan dendam dan kemarahan hebat pada mereka bertiga.
Bersama-sama, kini meraka bersatu. Stefan dan Damon yang telah bermusuhan dan yang telah lama berusaha saling membunuh, kini mereka bersekutu dan saling membantu.

Penyelidikan pun dimulai. Mereka menemukan nama orang-orang yang mencurigakan. Muncul nama seperti Robert Maxwell, tunangan Bibi Judith. Ada juga Alaric Saltzman sang guru pengganti. Yang sejak kedatangannya ke sekolah Elena begitu tiba-tiba dan penuh dengan misteri. Terkhir yang menjadi calon tersangka mereka adalah Mrs. Flowers, orang yang mengontrakkan rumahnya pada Stefan.

Bertiga mereka melakukan penyelidikan. Untunglah, Elena masih mempunyai teman-teman yang setia. Walau telah berbeda kehidupan, tapi Meredith, Bonnie dan Matt, selalu ada untuk Elena. Kengerian dan ketakutan apapun yang ditimbulkan oleh sosok Elena yang baru, tidak mengubah rasa saying mereka terhadap dirinya.

Di tengah penyelidikan itu, mereka berhasil menyingkap misteri yang menyelimuti orang-orang yang mereka yakini terlibat. Penyelidikan ini pula yang berhasil menguak satu rahasia yang sedah lama Meredith bungkam.
Tapi hl itu bukanlah akhir dari penyelidikan. Kini mereka menemukan sesuatu atau sesorang yang menjadi sumber dari semua malapetaka yang terjadi di Fell;s Chuch.
Seseorang yang tidak pernah Stefan dan Damon sangka. Sesorang dari masa lalu mereka yang kembali hadir dengan beribu teror. Seseorang yang bangkit dari kematiannya. Tapi Elena, selalu tahu bahwa dia akan muncul. Muncul dengan kemarahan hasrat membunuh yang tinggi.

Diari yang ditulis Bonnie di akhir cerita, menjadi penutup yang mengaharukan. Bonnie yang selalu menyayangi Elena. Bonnie yang menghargai segala keputusan dan pengorbanan yang Elena lakukan.

Cerita yang disuguhkan dalam The Fury ini semakin memikat, dengan kejadian-kejadian yang begitu kompleks dan mengejutkan. L .J. Smith nyaris membuat saya terkena serangan jantung. Tidak seperti di dua buku sebelumnya,unsur horor yang ditampilkan sangat terasa, terlebih menjelang lembar-lembar terakhir. Banyak sekali ketegangan-ketegangan dan perasaan waswas yang ditimbulkan.

Bagi para pencinta vampire, terutama fans berat Damon, buku ini wajib dibaca.

LITTLE MEN


Resensi : Noviane Asmara 
Penulis : Louisa May Alcott 
Penerjemah : Mutia Dharma
Penyunting : Ida Wajdi

ISBN : 978-979-024-463-4
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 453 Halaman
Harga : Rp 49,900
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria

Cetakan: I, Januari 2011


“Apa punggung bungkuk membuat orang menjadi baik hati? Kalau iya, aku mau juga.” Tanya Demi. [hal.28]
Lihatlah, betapa polosnya pertanyaan yang diajukan oleh seorang anak laki-laki yang bangga melihat temannya yang mempunyai hati yang baik, meskipun punggungnya yang bungkuk.

“Tuhan tidak peduli. Jiwaku tetap lurus meskipun punggungku tidak,” isak Dick pada anak yang menjahatinya. [hal.28]
Kata-kata di atas yang dilontarkan spontan oleh seorang bocah delapan tahun sebagai pembelaan atas hinaan terhadap dirinya yang tidak sempurna, langsung menohok hati saya dan membuat saya berkaca-kaca.

Dunia anak-anak adalah dunia yang sangat menyenangkan. Dunia di mana sejuta warna berada di dalamnya. Dunia yang memberikan kesenangan, keceriaan, kehangatan, kejahilan, pengetahuan dan masa bermain yang tak ada habisnya. Dunia ini bisa ditemukan di Sekolah Plumfield.
Plumfield awalnya merupakan sebuah rumah yang indah yang terletak di atas tanah yang luas. Rumah dan tanah itu diwariskan oleh Bibi March kepada Jo March yang sekarang telah menikah dengan Profesor Fritz Bhaer dan mempunyai dua orang anak.
Lewat tangan mereka berdualah sekolah yang diperuntukkan khusus untuk anak laki-laki yang kurang beruntung ini hadir. Dan dikenal dengan nama Sekolah Plumfield.

Kurikulum dan peraturan yang diberlakukan di sekolah ini berbeda dengan di sekolah lainnya. Di Sekolah Plumfield, setiap anak belajar sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing, dengan tidak mengesampingkan hal yang paling utama; yaitu pelajaran budi pekerti. Belajar menjadi baik.

Ibu Bhaer dan Pak Bhaer tidak mengajar anak-anak dengan tangan besi. Mereka berdua mengajar dengan sabar dan penuh kasih kedua buah hatinya, Rob dan Teddy bersama kedua belas anak laki-laki, yaitu; Nat Blake, Franz―keponakan Pak Bhaer yang merupakan murid tertua, Demi Brooke―keponakan Bu Bhaer, Tommy Bangs si pembuat onar, George “Stuffy” Cole, Dick Brown si Punggung bungkuk, Dolly Pettiingill si anak gagap, Jack Ford, seorang anak yang cerdas dan lihai, Ned Barker yang mempunyai julukan “si Slebor” karena kakinya yang panjang dan sikap cerobohnya serta cara bicaranya yang kacau, Billy Ward yang meskipun telah berusia tiga belas tahun tetapi masih terlihat seperti enam tahun, Emil yang dibilang banci dan Dan si anak dingin yang ketus tapi menyayangi bayi.

Kesabaran Bu Bhaer dan Pak Bhaer tidak pernah habis dalam menghadapi polah nakal anak-anak mereka. Alih-alih menghukum mereka dengan pukulan bila melakukan kesalahan, sebaliknya, Pak Bhaer-lah yang dipukul oleh anak yang melakukan kesalahan. Hal ini justru membuat anak yang berbuat kesalahan menyesali perbuatannya dua kali lipat. Karena kesalahan merekalah Pak Bhaer harus dipukul oleh tangan mereka sendiri.
Itulah salah satu bentuk hukuman yang Pak Bhaer terapkan di Sekolah Plumfield itu untuk membuat anak-anak agar dapat berbuat baik. Selain itu kebebasan juga diberikan oleh Bu Bhaer pada anak-anak, yang memperbolehkan mereka melakukan perang bantal setiap Sabtu malam, mempunyai kebun sendiri dan boleh memelihara hewan peliharaan.

Sekolah Plumfield yang ditujukan anak laki-laki pun disemarakkan oleh adanya Daisy Brook, saudara kembaran Demi Brook, keponakan Bu Bhaer tercinta.
Daisy selalu bersikap menawan dan memesona, dengan semua sifat kewanitaan yang tumbuh dalam dirinya.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya Daisy pun tidak sendirian sebagai murid perempuan sampai hadirnya Annie Harding di sekolah tersebut. Nan, begitu anak-anak memanggilnya, merupakan anak perempuan yang bandel tetapi berotak encer.

Walaupun Bu Bhaer dan Pak Bhaer mengajar dan mengasuh anak-anak di sekolahnya dengan kesabaran yang tinggi dan rasa sayang yang tulus, tidak menjadikan Pak Bhaer lemah dan terus memaklumi setiap kenakalan dan kejahatan kecil yang dibuat oleh anak didiknya.
Pernah satu waktu Pak Bhaer harus bertindak tegas, dengan mengirimkan Dan seorang anak yang baru beberapa waktu tiba di Sekolah Plumfield dan merupakan teman Nat Blake ke Desa Pak Page. Desa. Keberadaan Dan di Plumfield hampir membahayakan jiwa-jiwa yang tinggal di sana, dengan timbulnya kebakaran.
Kenakalan Dan yang melibatkan Nat dan Tommy untuk merokok dan meminum bir serta bersumpah serapah dengan kata-kata kotor, berujung dengan sebuah kebakaran yang mengakibatkan separuh Plumfield terbakar juga Tommy dan Nat yang mengalami luka baker serius di tubuhnya.

Membaca buku ini sejak halaman awal, langsung membuat mata saya berkaca-kaca. Alcott pandai sekali dalam mendeskripsikan kesedihan dan keadaan yang anak-anak lekaki yang kurang beruntung itu dengan kata-kata yang begitu menyentuh. Kadang membuat saya tertawa kecil ketika membaca celotehan-celotehan dan pertanyaan-pertanyaan polos yang dilontarkan oleh anak-anak. Dan tawa lepas pun keluar dari mulut saya tatkala membaca bagian tentang kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak lelaki itu, karena beberapa kenakalan yang mereka buat ada yang mirip dengan kenakalan yang saya buat ketika kecil dulu.

Little Men yang merupakan buku ketiga dari seri Little Women ini, wajib dibaca untuk para pecinta cerita klasik, terutama klasik anak.
Lewat kisah ini yang diperankan oleh Josephine March si Bu Bhaer dan suaminya, Alcott ingin menyampaikan pesan bahwa anak-anak adalah anugerah Tuhan yang dengan berjuta kenakalan―sifat alami mereka sebagai anak-anak, bisa dididik menjadi anak yang berbudi baik, disiplin, bertanggung jawab dan mempunyai rasa sayang yang besar terhadap sesamanya. Didikan yang lembut dan penuh kekeluargaanlah yang dibutuhkan oleh anak-anak. Bukan didikan kaku atau tangan besi yang melibatkan hukuman fisik yang akan berhasil baik alih-alih melahirkan dendam. Alcott juga menyampaikan indahnya ikatan yang terjalin dalam keluarga March. Walaupun masing-masing gadis March telah menikah dan mempunyai kesibukan masing-masing, tetapi mereka bersama keluarga kecilnya selalu terhubung satu dengan yang lainnya dalam berbagai kondisi. Mereka saling mendukung dan memuja. Dan akhirnya mereka jugalah yang menjadi panutan murid-murid Plumfield. Bukan saja terhadap ketiga mantan gadis March, tetapi juga terhadap ketiga suami para mantan gadis March itu.
Lihat saja komentar kekaguman salah satu murid Plumfield terhadap para pria perebut hati gadis-gadis March.
“Paman Fritz memang paling bijaksana, dan Paman Laurie paling menyenangkan, tapi Paman Jhon-lah yang ternbaik, dan aku inmgin jadi seperti dia daripada jadi pria lain yang pernah kutemui.” [hal.392]

Bila ingin belajar menangani anak yang nakal dan jahil, bisa mengikuti cara Pak Bhaer dan Bu Bhaer seperti yang tertulis di kisah Little Men ini. Mari belajar dan berguru pada pasangan Bhaer ini ^ _ ^

A TOUCH OF DEAD: Sookie Stackhouse Stories

Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Charlaine HarrisPenerjemah : Harisa Permatasari
Penyunting : Musa Annaqi

ISBN : 978-602-98377-2-8
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 171 Halaman
Cover : Soft Cover
Penerbit : Kantera

Cetakan: I, Januari 2011


A Touch of Dead : Sookie Stackhouse Stories, merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Charllaine Harris dengan mengambil tokoh utama Sookie Stackhouse.
Cerita pendek yang beliau tulis ini adalah cerita yang masih berkaitan dengan cerita dalam The Sookie Stackhouse Novels dan belum pernah diceritakan sebelumnya.
Kehidupan dan sejarah Sookie sangat rumit, sehingga Charlaine Harris sendiri tidak yakin apakah ia akan sanggup menciptakan potongan cerita pendek koheren yang sesuai dengan si tokoh, karena ia harus menyesuaikan kisah-kisah ke dalam sejarah Sookie yang lebih luas tanpa meninggalkan sambungan.

Ada lima cerita pendek yang disajikan dalam A Touch of Dead ini; Debu Peri, Malam Dracula, Jawaban Satu Kata, Beruntung dan Bungkus Kado. Kelima cerita itu menggambarkan sisi lain dari seorang Sookie Stackhouse. Sisi yang belum pernah diketahui para pembaca Sookie Stackhouse Novels.

Dari kelima cerita pendek  seru yang tertuang, Debu Peri adalah cerita yang sangat menarik menurut saya.
Dalam cerita itu, Sookie diminta membantu untuk memecahkan misteri pembunuhan peri, Claudettte, oleh saudara kembarnya; Claudine dan Claude..
Pemaparan dari cara kerja Sookie sebagai “Detektif” sungguh unik. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Sookie terhadap para calon tersangkapun sangat “detektif” sekali, seolah-olah Sookie adalah Detektif Profesional alih-laih pelayan bar. Sookie menggunakan kelebihannya yang dapat membaca pikiran orang untuk memuluskan tugasnya sebagai penyelidik.
Akhirnya penyebab kematian Claudette pun tersingkap. Claudette mati dengan cara memudar―cara kaum peri mati dengan meninggalkan benda berkilau; Debu peri, hanya gara-gara lemon. Karena ternyata kaum peri alergi terhadap lemon dan jeruk nipis.

Cerita selanjutnya yang menjadi favorit saya adalah Bungkus Kado. Cerita ini sungguh lucu. Lucu bukan dalam pengertian kisahnya adalah sebuah cerita komedi. Tapi lebih kepada kejutan yang ditampilkan hampir di ujung cerita.
Dalam cerita ini, Sookie mendapatkan sebuah Kado Natal dari kakek buyutnya. Kado yang sangat unik dan rumit. Bahkan cara Sookie mendapatkannyapun butuh perjuangan. Kado yang menjadikan perayaan Natal Sookie kali ini sangathidup dan berwarna. Walaupun sebenarnya Sookie tidak mengetahui bahwa kebahagian, kenikmatan dan ketegangan yang ia dapatkan di malam Natal itu merupakan rangkaian Kado yang diberikan sang kakek buyut untuk cucunya tercinta ini.
Semua orang yang membaca cerpen Bungkus Kado inipun, saya jamin pasti tergelak, ketika mengetahui Kado yang dikirimkan oleh si kakek buyut itu.
Andaikan saya mendapatkan Kado Valentine nanti yang serupa dengan Kado Natal yang Sookie dapatkan… saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, walaupun jujur saya pasti akan merasa senang juga seperti halnya Sookie.

Charlaine Harris, dikenal sebagai penulis fantasi dan misteri. New York Times menobatkannya sebagai Best Selling Author untuk karyanya, serial novel Sookie Stackhouse. Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah kota kecil di Arkansas Selatan, Amerika Serikat. Untuk mengetahui lebih lanjut karya-karya Harris yang lain, silahkan mengunjungi www.charlaineharris.com.

SHAKESPEARE’S LANDLORD

Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Charlaine Harris
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penyunting : Musa Annaqi
ISBN : 978-979-1924-09-2
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 289 Halaman
Cover : Soft Cover
Penerbit : Kantera
Cetakan I : Desember 2010


Para penggemar cerita bergenre misteri, thriller atau suspense romance pasti sudah tidak asing dengan nama-nama penulis seperti Beverly Barton, Lisa Jackson, Karen Rose, Chelsea Chain. Mereka adalah penulis wanita yang banyak menghasilkan buku-buku bergenre misteri dengan cerita-cerita yang memikat. Dan saya menyukai karya-karya mereka yang hebat. Selain penggemar genre fiksi fantasi, saya adalah pembaca setia genre misteri dan suspense. Selain penulis-penulis wanita, saya pun sangat kagum terhadap karya-karya Stieg Larsson, Alan Folson.
Sekarang penulis wanita dengan tema misteri favorit saya bertambah lagi, dengan munculnya Seri “The Lily Bard Mystery” besutan Charlaine Harris.
Saya tidak menyangka ternyata selain pintar membuat cerita vampir yang fenomenal lewat “The Sookie Stackhouse Novels”, Harris juga sangat lihai dalam merangkai cerita misteri. Terbukti dengan buku pertama dari seri The Lily Bard Mystery : Shaskespeare’s Lanlord. Bintang tiga setengah layak untuk cerita yang tersaji menawan dan penuh misteri ini. Tidak hanya ceritanya yang sangat menjerat hati, tetepi kovernya juga. Lihatlah betapa simbol-simbol misteri dan gambar-gambar yang mewakili isi cerita terpampang menarik dalam setiap kotaknya.

Selamat datang di kota kecil Shakespeare, Arkansas....
Kota yang terjaga lebih awal dan tertidur lebih cepat.
Lily Bard, wanita tukang bersih-bersih yang sudah empat tahun menjadi warga Shaskespere. Ia tinggal di apartemen yang ia beli dari Pardon Albee. Apartemen Shakespere Garden, begitu sang pemilik menamainya, karena bagian depannya menghadap ke arah arboretrum.
Kegiatan harian Lily adalah seputar bersih-bersih. Warga Shakespeare menyewa jasanya untuk sekedar membersihkan rumah atau kantor mereka. Kebanyakan klien Lily adalah penghuni apartemen yang menyewa bulanan pada pardon Albee. Beberapa diantaranya adalah Mrs. Hofstettler, Pasangan keluarga York: Alvah dan TL, Norvel Whitbread yang bekerja di Gereja Shakespeare, Marcus Jeferson, Deedra Deane, Pasangan O’Hagen; Tom dan Jenny.

Kehidupan di apartemen yang selama ini tenang dan nyaman, tiba-tiba berubah menjadi menegangkan ketika sang pemilik apartemen, pardon Albee ditemukan di dalam kantong plastik dalam keadaan tewas. Sejak saat itulah kota Shakespeare menjadi tidak tenang, terlebih lagi untul Lily.
Lily yang diam-diam menyebut dirinya sebagai Jasa Kebersihan Shakespeare, tiba-tiba menjadi tersangka atas tewasnya Pardon Albee. Beberapa bukti mengarah padanya. Ia bolak-balik dimintai keterangan oleh Claude Friedrich, kepala polisi Shakespeare. Saat itulah dia bertekad untuk menemukan sang pembunuh Albee, karena ia merasa ada beberapa kejadian yang ganjil dan beberapa hal yang tidak pada tempatnya yang ia temukan pada diri penghuni apartemen.
Lily sudah hapal akan kebiasaan para pemakai jasanya. Kapan mereka pergi, kapan mereka datang, apa yang biasa mereka lakukan, apa kesukaan dan ketidaksukaan mereka dan hal-hal pribadi yang bisa Lily tebak hanya dari jejak dan kebiasaan kliennya itu.

Di tengah penyelidikan yang Lily lakukan, ia dihadapkan pada teror yang terus-terusan ia terima. Borgol dan pistol yang dibungkus kain putih, Boneka Ken yang berdarah dengan satu matanya yang cacat, penyerangan yang terjadi di halaman apartemennya dan lain-lain Teror yang kesemuanya mengarah pada masa lalunya.. Masa lalu yang Lily simpan rapat-rapat dan tidak satupun warga Shakespere mengetahuinya, sampai saat laporan tentang masa lalunya tersebar ke seluruh kota Shakesperae akibat kecerobohan Claude Friedrich yang sedang menyelidiki Lily Bard dan penasaran terhadap masa lalu Lily dan keberadaannya di Shakespeare.

Akhirnya bersama-sama mereka berdua berusaha memecahkan misteri pembunuh Albee yang sebenarnyaMereka mengumpulkan bukti dan alibi para tersangka yang mereka yakini terlibat. Dan berkat kecerdasan Lily dan ketajaman instingnya, Lily berhasil menemukan tersangka sebenarnya, hanya karena Lily menemukan hal yang berbeda di rumah kliennya itu saat ia bersih-bersih. Begitupun dengan Friedrich yang sudah mencurigai orang itu sebagai pelakunya, dengan melindungi Lily ketika si pembunuh mencoba menyakiti Lily. Bukti-bukti mengarah pada orang yang tidak pernah diduga sanggup melakukan tindakan keji itu. Orang yang selama ini menpunyai kehidupan normal dan lurus. Tapi begitulah misteri kehidupan.

Banyak hal menarik yang terjadi saat Lily memecahkan kasus ini. Keterlibatan percintaan Lily dengan seorang Marshall Sedaka yang sedang dalam masa perceraianpun kian turut melengkapi kisah misteri ini.Tapi hal yang paling menarik dari cerita ini menurut saya adalah masa lalu dari seorang Lily Bard. Masa lalu yang sangat kelam. Masa lalu yang tidak akan pernah bisa terhapus selamanya dari ingatan Lily begitupun dengan ingatan saya. Masa lalu yang bisa membuat semua oarang ngeri sekaligus iba terhadap Lily. Masa lalu yang akn terus menghantui dan menjadi sebuah catatan berdarah di hati Lily.
Masa lalu Lily yang membuat saya menangis saat mengetahuinya dan ingin membalas terhadap si pelaku perusak masa depan Lily tersebut.
Charlaine Harris berhasil membuat emosi saya naik turun ketika membacanya. Itulah yang saya suka dari sebuah cerita misteri. Penuh dengan trik dan intrik juga ketegangan yang dirasakan.

Seri The Lily Bard Mystery ini terdiri dari lima buku, yaitu:
Shakespeare’s Landlord
Shakespeare’s Champion
Shakespeare’s Christmas
Shakespeare’s Trollop
Shakespeare’s Counselor

Semoga jarak terbit tiap bukunya tidak terlalu lama, sehingga rasa penasaran saya akan pelaku tak berperikemanusiaan yang berada di masa lalu Lily, segera terjawab.

April 11, 2011

GADIS KOREK API : Kumpulan Dongeng Memukau H.C. Andersen


Detail Buku:
Judul : GADIS KOREK API
Penulis : H. C. Andersen
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Jia Effendie
Pewajah Isi: Hadi Mafhudin
ISBN : 978-979-024-462-7
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 267 Halaman
Harga : Rp 35.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Maret 2011


Gadis kecil itu membawa banyak korek api di dalam celemek lusuhnya dan menggenggam sekotak di tangannya. Tidak seorang pun membeli korek apinya hari itu, tidak ada yang memberikan sekeping uang padanya. Gadis kecil malang itu kelaparan dan menggigil kedinginan.
Gadis kecil itu menemukan sebuah sudut antara dua rumah yang berdekatan. Di sana dia duduk meringkuk, menyembunyikan kakinya di bawah tubuhnya karena udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dia tidak berani pulang karena belum satu pun koreknya yang terjual dan dia belum berhasil mendapat uang sepeser pun. Ayahnya akan memukulnya jika mengetahuinya.

Gadis kecil itu mengeluarkan sebatang korek api dan menggoreskannya di dinding untuk menghangatkan jemarinya.
Cres!
Alangkah indah percikannya! Alangkah indah nyala apinya!
Tiba-tiba ia duduk di depan tungku besar dengan penyangga kuningan yang mengilap. Api cantik menyala-nyala itu terasa menghangatkan tubuhnya.
Api itu padam. Dan tungku pun lenyap.

Cres!
Gadis itu menyalakan korek apinya untuk yang kedua kali.
Tiba-tiba ia berada dalam ruangan dengan sebuah meja yang dilapisi kain seputih salju serta perkakas keramik cantik. Angsa panggang lengkap dengan hiasan apel serta manisan buah plumnya, tampak mengepul.
Lalu, korek apinya padam. Menyisaka tembok hitam yang tebal.

Itulah sepenggal cerita tentang Gadis Korek Api. Cerita yang teramat singkat dan berakhir dengan kesedihan.
Cerita yang sangat menyentuh hati tentang perjuangan seorang gadis kecil penjual korek api di tengah musim dingin di penghujung tahun. Ia terus berusaha menjualnya kepada setiap orang, dengan bertelanjang kaki, melawan hawa dingin dan rasa lapar demi mendapatkan sekeping uang.
Tapi pengorbanannya, berakhir dengan duka. Malam tahun baru yang harusnya dia nikmati dengan sejumput kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga, dia malah berkubang dengan segala derita dan nestapa dalam balutan rasa dingin yang menggigit dan lapar yang menyergap.

Buku Gadis Korek Api ini, berhiaskan sepuluh dongeng yang menawan buah pena Hans Christian Andersen.
Dongeng-dongeng yang tersaji di dalamnya adalah dongeng yang klasik, dongeng yang telah kita dengar dan baca berulang-ulang sejak kita kecil.
Bahkan beberapa dongengnya sudah pernah difilmkan dengan beragan versi. Walau begitu, membaca dongeng racikan H.C. Andersen ini, pastinya tidak akan membuat kita bosan. Karena dongeng ini begitu indah dan hidup.
Tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh H.C. Andersen di setiap cerita dongengnya, begitu cepat melekat di hati dan pikiran kita. Dan dongeng-dongeng itu akan tetap abadi dan akan selalu dikenang sampai kapan pun.

Buku setebal 267 halaman ini, memuat sepuluh judul dongeng dengan kisah-kisah menawan dan memesona yang bervariasi. Kisah yang langsung melepaskan semua imajinasi kita melanglang buana kea lam khayal yang memukau.
Sebagai pembuka, kita akan disuguhi dengan cerita yang tidak asing lagi untuk kita. Kisah Cinta Putri Duyung Kecil. Dongeng yang mengisahkan tentang seorang Putri Duyung Kecil yang pada usianya kelima belas, bisa menyaksikan kehidupan di atas permukaan laut. Tapi tidak seperti kelima kakak-kakak perempuannya, Putri Duyung Kecil ini tergoda untuk menjadi manusia. Dengan bantuan seorang penyihir, akhirnya dia pun mempunyai sepasang kaki yang harus dia tebus dengan suara indahnya dan derita sepanjang dia menjadi manusia.
Duyung Kecil rela mengobankan semuanya demi menemui pangeran manusia yang tampan yang pernah dia selamatkan dari amuk badai di tengah lautan. Tapi sayang, cintanya tak tersampaikan. Dia pun harus merelakan dirinya menjadi buih akibat cinta yang tak terbalaskan.
Kemudia ada dongeng Angsa-Angsa Liar yang menawan, dongeng Sang Putri Sejati yang mengejutkan.
Dongeng Thumbelina si peri bunga yang cantik dan mungil, lalu dongeng Burung Bulbul yang cerdas, juga kisah Gadis Korek Api yang menjadi judul buku ini.
Ada pula dongeng Ratu Salju: Dongeng dalam tujuh kisah. Dongeng yang kisahnya diceritakan dalam tujuh cerita yang saling terkait indah.
Dongeng yang menggelikan dan membuat kita tertawa pun ada, yaitu kisah Baju Baru Kaisar. Kisah yang sungguh sarat dengan makna. Penuh dengan sindiran dan kebohongan yang akhirnya harus terboongkar dengan cara yang sangat memalukan.
Dongeng tentang Kisah Rembulan pun begitu memukau dan ini menjadi dongeng favorit saya. Dongeng di mana sang Rembulan menceritakan perjalanannya setiap malam, dari negeri satu ke negeri lainnya dengan kejadian dan karakter yang berbeda-beda di setiap malamnya.
Dan sebagai penutup, dongeng Anak Itik Buruk Rupa pun disajikan di akhir buku ini.
Kesepuluh dongeng di atas, banyak mengusung pesan moral dan sarat dengan nasihat.
1.      Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan seburuk apa pun itu.
2.      Kita harus memikirkan masak-masak setiap tindakan dan keputusan yang akan kita ambil agar tidak merugikan diri kita dan orang lain. Dan agar keputusan itu tidak akan membuat kita menyesal selamanya.
3.      Jangan mudah percaya pada orang lain hanya karena kita menginginkannya.
4.      Selalu bersikap waspada dan hati-hati terhadap segala hal
5.      Jangan menyesali diri akan segala kekurangan yang ada pada diri kita, tapi jadikan kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan yang bisa kita banggakan.
6.      Rasa persahabatan dan persaudaraan jangan sampai terpecah dan retak, hanya karena mengikuti pengaruh buruk. Karena rasa sayang yang terpatri kuat, akan selalu menjaga persahabatan selamanya.

Andersen lahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmarrk bagian selatan, pada 2 April 1805. Ayahnya, Hans Andersen adalah seorang pembuat sepatu yang miskin dan buta huruf yang merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Sedangkan ibunya Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.
Walau besar dalam lingkungan yang miskin, sejak kecil Hans Christian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng. Ia juga akrab dengan pertunjukkan sandiwara. Kendati tak mengenal bangku sekolah dan percaya takhayul, sang ibunya yang membuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita Rakyat.
Di kemudian hari, H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang Ibu dalam berbagai novelnya, misalnya dari cerita yang berjudul Hun Duede Ikke. Sayang Ibunya belakangan terjebak menjadi seorang pemabuk berat sebelum wafat pada 1833 di sebuah panti jompo.
Ayahnya seorang pencinta sastra. Lelaki itu kerap mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara. Dalam otobiografinya, The True Story of My Life yang terbit pada tahun 1846, H.C. Andersen menulis, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu". Pada tahun 1816 ayah H.C Andersen meninggal.
Sikap dan pengalaman dari orang tua itulah yang membuah H.C. Andersen tertarik dengan dunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya William Shakespeare. ( Sumber Wikipedia)


Resensi ini dapat ditemukan di www.buntelankata.blogspot.com

April 04, 2011

THE IRON FEY #1 : The Iron King

Resensi oleh Noviane Asmara
Penulis: Julie Kagawa
Penerjemah : Angelic Zaizai
Korektor : Ine Noviane Asmara
ISBN : 978-602-96987-3-7
Tebal : 462 halaman
Harga : Rp 64.000
Cover: Soft Cover
Penerbit : Kubika
Cetakan : I, November 2010

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That’s why it is called the Present.
- quote dari Kungfu Panda Movie -

Kalimat bijak di atas sering kita dengar. Dan memang seperti itulah kebenarannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan kita, karena itu sebuah misteri. Kita pun tidak boleh menyesali apa yang telah lalu, biarkan itu berlalu dan menjadi sejarah untuk kita cermati dan pelajari. Tapi kita harus bersyukur atas apa yang kita terima dan terjadi hari ini terhadap kita, karena itu adalah berkah.

Lalu, ada apa dengan masa lalu seorang Meghan?

MEGHAN Chase. Seorang gadis berusia enam belas tahun. Tepatnya akan segera berulang tahun ke enam belas. Di hari ulang tahunnya itulah semuanya berubah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa masa lalunya itu akan menyingkap semua misteri tentang keluarganya. Dirinya―tepatnya.
Penculikan Ethan, adik tirinya, membawa ia menjelajahi negeri Nevernever. Ditemani oleh sahabat karibnya, Robbie, yang juga tidak pernah Meghan kenali secara baik, ia berkelana menembus dunia Faeryland. Dalam perjalanannya untuk menemukan Ethan, ia dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah ia sangka dalam hidupnya. Ia tidak pernah tahu bahwa hal-hal “aneh” yang kerap menimpa dirinya ternyata berhubungan dengan semua masa lalunya, tepatnya masa lalu sang Ibu.

Di tengah pencarian adiknya, Meghan bertemu dengan beberapa tokoh-tokoh yang selama ini ia yakini hanya ada dalam cerita  A Midsummer Night’s Dream. Kisah  yang hanya pernah ia dengar dan tidak pernah ia menduga kalau ternyata tokoh-tokoh itu nyata. Meghan pun sempat terpesona dengan salah satu sosok tampan tapi dingin dan misterius―Pengeran Ash.

Usaha pencarian adiknya yang ia rasakan hanya beberapa hari saja di Nevernever, ternyata memakan waktu lebih dari tiga bulan untuk hitungan waktu bumi, tempat Ibu dan juga Luke, ayah tirinya beserta polisi, detektif dan seluruh warga kota mencari dirinya yang tiba-tiba menghilang.

Aku tak bisa pergi sekarang, . Aku baru saja pulang! Aku ingin menjadi normal; aku ingin pergi ke sekolah, belajar menyetir dan pergi ke pesta prom tahun depan. Aku ingin melupakan kalau faery itu ada.

Ada konsekuensi besar yang harus Meghan terima bila ia menginginkan Ethan kembali. Meghan harus bersedia menukar kehidupannya. Menukar kehidupan lamanya dengan kehidupan baru dan menjadi “baru”.

Akankah Meghan rela melakukannya?

Buku Iron King yang merupakan Trilogi dari The Iron Fey ini, menyuguhkan fiksi fantasi tentang faery yang begitu kompleks. Bukan hanya jalan ceritanya yang kompleks, tapi juga para makhluk yang berada di dalamnya. Kita tidak hanya akan tahu tentang faery saja, tapi kita akan diajak mendalami dunia lain dari faery. Di mana masih terdapat banyak makhluk lainnya yang mempunyai keanekaragaman bentuk, sifat dan kebiasaan. Kagawa berhasil membuat saya berdecak kagum.

Pesan Moral yang ingin Kagawa sampaikan lewat cerita ini pun terbaca dengan jelas. Rasa memiliki diantara sebuah keluarga adalah segalanya. Apapun akan dilakukan oleh orangtua untuk membela anaknya dan sebaliknya, walaupun dengan cara yang salah, misalnya dengan membuat cerita bohong akan masa lalu. Dan juga apapun akan dilakukan oleh seorang kakak untuk membela adiknya.

Julie Kagawa lahir di Sacramento, California. .Saat berusia sembilan tahun ia dan keluarganya pindah ke Hawaii. Dan ia menghabiskan banyak waktunya di laut.
Ia pernah membaca novel yang ia sembunyikan di dalam buku pelajaran matematikanya saat kelas sedang berlansung. Tidak hanya kecintaan akan membaca novel saja, ia pun suka menulis.
Julie pernah bekerja di beberapa toko buku selama bertahun-tahun untuk membiayai hidupnya. Ia juga pernah bekerja sebagai dogtrainer  professional selama beberapa tahun. Ketika buku pertamanya laku terjual, ia berhenti bekerja sebagai Dogtrainer dan memutuskan untuk menulis full time.
Julie sekarang tinggal di Louisville, Kentucky bersama suami dan dua ekor kucing peliharaannya yang
menjengkelkan.

Maret 30, 2011

ANAK ARLOJI

Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Kurnia Effendi
Penyunting: Endah Sulwesi
Pewajah Isi: Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN : 978-979-024-351-4
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 237 Halaman
Harga : Rp 35.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Serambi
Cetakan: I, Maret 2011

Dear INE...
Kenali diriku melalui kisah-kisah psikologi yang mudah-mudahan mengispirasi hidupmu.
Salam hangat
KURNIA EFFENDI
15/3/11


Begitulah sedikit coretan kecil yang ditorehkan oleh Mas Kef sang penulis Kumcer Anak Arloji di halaman pertama Buku Anak Arloji yang khusus saya pesan melalui www.tokoserambi.com

Saya sempat mencermati kalimat kisah-kisah psikologi yang tertulis di sana. Sempat terbersit di pikiran saya, kalau cerpen-cerpen ini pasti akan sarat dengan muatan psikologi. Dan ternyata hal tersebut memang terbukti benar adanya.

Buku yang memuat empat belas cerita pendek dengan empat belas aroma yang berbeda ini, mengambil cerita diurutan kedua belas sebagai judul bukunya: Anak Arloji.

Walaupun kisah yang ditampilkan antara satu cerita dengan cerita lainnya berbeda dan tidak saling berkaitan, namun terdapat kemiripan di setiap akhir cerita. Di mana setiap cerita akan ditutup dengan cara menggantung, menyisakan tanya bagi para pembacanya.

Penutup yang kadang membuat kedua alis saya bertemu karena harus menafsirkan sendiri maksud yang mengambang. Saya jadi harus meraba maksud yang tersirat di balik setiap akhir cerita yang disuguhkan.

Saya setuju dan sependapat dengan endorsement yang ditulis Alex Komang untuk Anak Arloji ini.

“Membaca cerita dalam buku ini seperti membaca hidup kita sendiri. Kita seperti dirayu dan juga merayu. Tanpa kebencian atau dengki. Full of wisdom.”

Beberapa cerita dalam buku ini, ada yang dengan mudah saya jangkau dan saya pahami, karena alur ceritanya cenderung sederhana. Sebutlah cerita Panggilan Sasha. Cerita yang mengangkat pertentangan batin seorang perempuan yang ingin bekerja demi membantu suami karena alasan klasik; masalah ekonomi, begitu menyentuh dan menyadarkan saya. Betapa ternyata ada yang lebih mulia dari seorang perempuan itu menjadi seorang istri dan Ibu Rumah Tangga saja, dibanding dengan karier yang cemerlang tetapi mengorbankan kehidupan harmonis keluarganya. Walaupun saya bukanlah orang yang pro dengan hal itu. Bagi saya, perempuan yang bekerjapun sama mulianya, tergantung dari niatnya. Dengan catatan, tidak sampai mengabaikan kehidupan anak dan suaminya.

Di buku ini pun, kita juga akan mengalami sensasi tegang dan memualkan ketika membaca kisah yang menurut saya cukup sadis. Bagaimana bisa seorang anak yang susah untuk makan, tiba-tiba selera makannya bangkit hanya karena mencium aroma sup yang dibuat oleh ibunya yang dengan tanpa sengaja sampai memotong jari kelingking ibunya sendiri. Perasaan mual dan jijik sempat menyerang saya, ketika di akhir kisah, Bobby si anak yang susah makan, menyendok potongan daging yang berbentuk jari kelingking dari mangkuk supnya, dan bertanya bolehkah ia memakannya? Sungguh sadis.

Cerita tegang lainnya ketika kita membaca tentang Pertaruhan. Sungguh sebuah kisah dengan pertaruhan yang “gila” hanya demi prestise dan gelar “The Bravest”. Dua orang mahasiswa berani menantang maut dan takdir mereka dengan berbuat konyol, hanya untuk disebut “Sang Pemberani.”

Ada beberapa kisah yang membuat saya sulit untuk memahaminya. Misalnya saja Aromamawar. Entahlah, apakah makna yang saya tangkap dengan yang ingin disampaikan oleh penulisnya itu sama? Hal ini mungkin kembali kepada kurangnya pemahaman saya membaca cerita yang maknanya tersirat tidak tersurat seperti cerpen-cerpen lainnya yang pernah saya baca.

Satu lagi yang membuat saya melongo saat membaca cerita Anak Arloji ini. Cerita yang juga menyisakan Tanya di hati saya. Akankah setiap pasien Dokter Syarief, si dokter kandungan itu mengalami nasib yang sama? Jujur saya tidak tahu. Cerita ini membuat bulu kuduk saya meremang. Bagaimana jika sebuah arloji mahal yang diberikan secara cuma-cuma oleh dokter kandungan itu kesetiap pasiennya setelah proses persalinan berjalan itu adalah sebuah kutukan. Karena hal itu akan menyebabkan kematian si bayi setelah umurnya menginjak dua bulan. Ataukah itu hanya sebuah “kebetulan”? jika memang di dunia ini ada yang disebut dengan “kebetulan”.

Rasa penasaran, rasa tegang dan kadang senyum tak bisa saya tahan tatkala membaca cerita-cerita ini.

Cobalah mulai dengan membaca Noriyu yang cantik dan mempunyai Kuku Kelingking yang indah dan ia menyukai parfum dengan Aromamawar yang dihadiahi oleh kekasihnya seorang Penggali Makam dan seorang pembuat Kamar Anjing.

Dengarkanlah Panggilan Sasha si Anak Arloji; seorang gadis kecil yang imut yang dilahirkan dengan Pertaruhan nyawa.

Mari berjalan-jalan di Sepanjang Braga, di bawah Tetes Hujan Menjadi Abu sambil mendengarkan nyanyian Laut Lepas Kita Pergi yang disenandungkan oleh suara merdunya La Tifa.

Pulanglah kala matahari akan tenggelam! Jalan Teduh Menuju Rumah terbentang sepanjang kasih ibu. Dan bersimpuhlah di Wangi Kaki Ibu, karena di situlah Surga berada.

Kurnia Effendi lahir di Tegal. Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Ia seorang lulusan Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Namanya mulai dikenal publik sejak tahun 1978 ketika cerpen dan puisinya dimuat di media massa.

Karya-karyanya yang telah mencapai puluhan. Novel dan cerpen-cerpennya yang telah dibukukan adalah Senapan Cinta (Kata Kita, 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Metafor Publishing, 2004), Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utama, 2005), Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media, 2006), Burung Kolibri Merah Dadu, 2007 dan Interlude-Jeda (bersama Syafrudin Azhar, LPKP, 2007).

Beliau pun telah memenangi penghargaan lima besar Khatulistiwa Literaty Award 2006, atas karyanya Kincir Api.

Sekarang yang menjadi pertanyaan saya, kapankah buku yang berisi Kumpulan Cerpen dari sang Editor Anak Arloji ini terbit. Rasanya tidak sabar menunggu hingga waktu itu datang.

Untuk Mbak Endah Sulwesi, semoga buku kumcer-mu akan segera lahir menyemarakkan dunia sastra Indonesia khususnya dan dunia perbukuan umumnya.