April 11, 2011

GADIS KOREK API : Kumpulan Dongeng Memukau H.C. Andersen


Detail Buku:
Judul : GADIS KOREK API
Penulis : H. C. Andersen
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Jia Effendie
Pewajah Isi: Hadi Mafhudin
ISBN : 978-979-024-462-7
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 267 Halaman
Harga : Rp 35.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Maret 2011


Gadis kecil itu membawa banyak korek api di dalam celemek lusuhnya dan menggenggam sekotak di tangannya. Tidak seorang pun membeli korek apinya hari itu, tidak ada yang memberikan sekeping uang padanya. Gadis kecil malang itu kelaparan dan menggigil kedinginan.
Gadis kecil itu menemukan sebuah sudut antara dua rumah yang berdekatan. Di sana dia duduk meringkuk, menyembunyikan kakinya di bawah tubuhnya karena udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dia tidak berani pulang karena belum satu pun koreknya yang terjual dan dia belum berhasil mendapat uang sepeser pun. Ayahnya akan memukulnya jika mengetahuinya.

Gadis kecil itu mengeluarkan sebatang korek api dan menggoreskannya di dinding untuk menghangatkan jemarinya.
Cres!
Alangkah indah percikannya! Alangkah indah nyala apinya!
Tiba-tiba ia duduk di depan tungku besar dengan penyangga kuningan yang mengilap. Api cantik menyala-nyala itu terasa menghangatkan tubuhnya.
Api itu padam. Dan tungku pun lenyap.

Cres!
Gadis itu menyalakan korek apinya untuk yang kedua kali.
Tiba-tiba ia berada dalam ruangan dengan sebuah meja yang dilapisi kain seputih salju serta perkakas keramik cantik. Angsa panggang lengkap dengan hiasan apel serta manisan buah plumnya, tampak mengepul.
Lalu, korek apinya padam. Menyisaka tembok hitam yang tebal.

Itulah sepenggal cerita tentang Gadis Korek Api. Cerita yang teramat singkat dan berakhir dengan kesedihan.
Cerita yang sangat menyentuh hati tentang perjuangan seorang gadis kecil penjual korek api di tengah musim dingin di penghujung tahun. Ia terus berusaha menjualnya kepada setiap orang, dengan bertelanjang kaki, melawan hawa dingin dan rasa lapar demi mendapatkan sekeping uang.
Tapi pengorbanannya, berakhir dengan duka. Malam tahun baru yang harusnya dia nikmati dengan sejumput kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga, dia malah berkubang dengan segala derita dan nestapa dalam balutan rasa dingin yang menggigit dan lapar yang menyergap.

Buku Gadis Korek Api ini, berhiaskan sepuluh dongeng yang menawan buah pena Hans Christian Andersen.
Dongeng-dongeng yang tersaji di dalamnya adalah dongeng yang klasik, dongeng yang telah kita dengar dan baca berulang-ulang sejak kita kecil.
Bahkan beberapa dongengnya sudah pernah difilmkan dengan beragan versi. Walau begitu, membaca dongeng racikan H.C. Andersen ini, pastinya tidak akan membuat kita bosan. Karena dongeng ini begitu indah dan hidup.
Tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh H.C. Andersen di setiap cerita dongengnya, begitu cepat melekat di hati dan pikiran kita. Dan dongeng-dongeng itu akan tetap abadi dan akan selalu dikenang sampai kapan pun.

Buku setebal 267 halaman ini, memuat sepuluh judul dongeng dengan kisah-kisah menawan dan memesona yang bervariasi. Kisah yang langsung melepaskan semua imajinasi kita melanglang buana kea lam khayal yang memukau.
Sebagai pembuka, kita akan disuguhi dengan cerita yang tidak asing lagi untuk kita. Kisah Cinta Putri Duyung Kecil. Dongeng yang mengisahkan tentang seorang Putri Duyung Kecil yang pada usianya kelima belas, bisa menyaksikan kehidupan di atas permukaan laut. Tapi tidak seperti kelima kakak-kakak perempuannya, Putri Duyung Kecil ini tergoda untuk menjadi manusia. Dengan bantuan seorang penyihir, akhirnya dia pun mempunyai sepasang kaki yang harus dia tebus dengan suara indahnya dan derita sepanjang dia menjadi manusia.
Duyung Kecil rela mengobankan semuanya demi menemui pangeran manusia yang tampan yang pernah dia selamatkan dari amuk badai di tengah lautan. Tapi sayang, cintanya tak tersampaikan. Dia pun harus merelakan dirinya menjadi buih akibat cinta yang tak terbalaskan.
Kemudia ada dongeng Angsa-Angsa Liar yang menawan, dongeng Sang Putri Sejati yang mengejutkan.
Dongeng Thumbelina si peri bunga yang cantik dan mungil, lalu dongeng Burung Bulbul yang cerdas, juga kisah Gadis Korek Api yang menjadi judul buku ini.
Ada pula dongeng Ratu Salju: Dongeng dalam tujuh kisah. Dongeng yang kisahnya diceritakan dalam tujuh cerita yang saling terkait indah.
Dongeng yang menggelikan dan membuat kita tertawa pun ada, yaitu kisah Baju Baru Kaisar. Kisah yang sungguh sarat dengan makna. Penuh dengan sindiran dan kebohongan yang akhirnya harus terboongkar dengan cara yang sangat memalukan.
Dongeng tentang Kisah Rembulan pun begitu memukau dan ini menjadi dongeng favorit saya. Dongeng di mana sang Rembulan menceritakan perjalanannya setiap malam, dari negeri satu ke negeri lainnya dengan kejadian dan karakter yang berbeda-beda di setiap malamnya.
Dan sebagai penutup, dongeng Anak Itik Buruk Rupa pun disajikan di akhir buku ini.
Kesepuluh dongeng di atas, banyak mengusung pesan moral dan sarat dengan nasihat.
1.      Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan seburuk apa pun itu.
2.      Kita harus memikirkan masak-masak setiap tindakan dan keputusan yang akan kita ambil agar tidak merugikan diri kita dan orang lain. Dan agar keputusan itu tidak akan membuat kita menyesal selamanya.
3.      Jangan mudah percaya pada orang lain hanya karena kita menginginkannya.
4.      Selalu bersikap waspada dan hati-hati terhadap segala hal
5.      Jangan menyesali diri akan segala kekurangan yang ada pada diri kita, tapi jadikan kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan yang bisa kita banggakan.
6.      Rasa persahabatan dan persaudaraan jangan sampai terpecah dan retak, hanya karena mengikuti pengaruh buruk. Karena rasa sayang yang terpatri kuat, akan selalu menjaga persahabatan selamanya.

Andersen lahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmarrk bagian selatan, pada 2 April 1805. Ayahnya, Hans Andersen adalah seorang pembuat sepatu yang miskin dan buta huruf yang merasa dirinya masih keturunan bangsawan. Sedangkan ibunya Anne Marie Andersdatter, bekerja sebagai buruh cuci.
Walau besar dalam lingkungan yang miskin, sejak kecil Hans Christian Andersen sudah mengenal berbagai cerita dongeng. Ia juga akrab dengan pertunjukkan sandiwara. Kendati tak mengenal bangku sekolah dan percaya takhayul, sang ibunya yang membuat H.C Andersen berkenalan dengan certa-cerita Rakyat.
Di kemudian hari, H.C. Andersen sempat melukiskan sosok sang Ibu dalam berbagai novelnya, misalnya dari cerita yang berjudul Hun Duede Ikke. Sayang Ibunya belakangan terjebak menjadi seorang pemabuk berat sebelum wafat pada 1833 di sebuah panti jompo.
Ayahnya seorang pencinta sastra. Lelaki itu kerap mengajak Hans menonton pertunjukkan sandiwara. Dalam otobiografinya, The True Story of My Life yang terbit pada tahun 1846, H.C. Andersen menulis, "Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu". Pada tahun 1816 ayah H.C Andersen meninggal.
Sikap dan pengalaman dari orang tua itulah yang membuah H.C. Andersen tertarik dengan dunia mainan, cerita, sandiwara termasuk karya William Shakespeare. ( Sumber Wikipedia)


Resensi ini dapat ditemukan di www.buntelankata.blogspot.com

April 04, 2011

THE IRON FEY #1 : The Iron King

Resensi oleh Noviane Asmara
Penulis: Julie Kagawa
Penerjemah : Angelic Zaizai
Korektor : Ine Noviane Asmara
ISBN : 978-602-96987-3-7
Tebal : 462 halaman
Harga : Rp 64.000
Cover: Soft Cover
Penerbit : Kubika
Cetakan : I, November 2010

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That’s why it is called the Present.
- quote dari Kungfu Panda Movie -

Kalimat bijak di atas sering kita dengar. Dan memang seperti itulah kebenarannya. Kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan kita, karena itu sebuah misteri. Kita pun tidak boleh menyesali apa yang telah lalu, biarkan itu berlalu dan menjadi sejarah untuk kita cermati dan pelajari. Tapi kita harus bersyukur atas apa yang kita terima dan terjadi hari ini terhadap kita, karena itu adalah berkah.

Lalu, ada apa dengan masa lalu seorang Meghan?

MEGHAN Chase. Seorang gadis berusia enam belas tahun. Tepatnya akan segera berulang tahun ke enam belas. Di hari ulang tahunnya itulah semuanya berubah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa masa lalunya itu akan menyingkap semua misteri tentang keluarganya. Dirinya―tepatnya.
Penculikan Ethan, adik tirinya, membawa ia menjelajahi negeri Nevernever. Ditemani oleh sahabat karibnya, Robbie, yang juga tidak pernah Meghan kenali secara baik, ia berkelana menembus dunia Faeryland. Dalam perjalanannya untuk menemukan Ethan, ia dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah ia sangka dalam hidupnya. Ia tidak pernah tahu bahwa hal-hal “aneh” yang kerap menimpa dirinya ternyata berhubungan dengan semua masa lalunya, tepatnya masa lalu sang Ibu.

Di tengah pencarian adiknya, Meghan bertemu dengan beberapa tokoh-tokoh yang selama ini ia yakini hanya ada dalam cerita  A Midsummer Night’s Dream. Kisah  yang hanya pernah ia dengar dan tidak pernah ia menduga kalau ternyata tokoh-tokoh itu nyata. Meghan pun sempat terpesona dengan salah satu sosok tampan tapi dingin dan misterius―Pengeran Ash.

Usaha pencarian adiknya yang ia rasakan hanya beberapa hari saja di Nevernever, ternyata memakan waktu lebih dari tiga bulan untuk hitungan waktu bumi, tempat Ibu dan juga Luke, ayah tirinya beserta polisi, detektif dan seluruh warga kota mencari dirinya yang tiba-tiba menghilang.

Aku tak bisa pergi sekarang, . Aku baru saja pulang! Aku ingin menjadi normal; aku ingin pergi ke sekolah, belajar menyetir dan pergi ke pesta prom tahun depan. Aku ingin melupakan kalau faery itu ada.

Ada konsekuensi besar yang harus Meghan terima bila ia menginginkan Ethan kembali. Meghan harus bersedia menukar kehidupannya. Menukar kehidupan lamanya dengan kehidupan baru dan menjadi “baru”.

Akankah Meghan rela melakukannya?

Buku Iron King yang merupakan Trilogi dari The Iron Fey ini, menyuguhkan fiksi fantasi tentang faery yang begitu kompleks. Bukan hanya jalan ceritanya yang kompleks, tapi juga para makhluk yang berada di dalamnya. Kita tidak hanya akan tahu tentang faery saja, tapi kita akan diajak mendalami dunia lain dari faery. Di mana masih terdapat banyak makhluk lainnya yang mempunyai keanekaragaman bentuk, sifat dan kebiasaan. Kagawa berhasil membuat saya berdecak kagum.

Pesan Moral yang ingin Kagawa sampaikan lewat cerita ini pun terbaca dengan jelas. Rasa memiliki diantara sebuah keluarga adalah segalanya. Apapun akan dilakukan oleh orangtua untuk membela anaknya dan sebaliknya, walaupun dengan cara yang salah, misalnya dengan membuat cerita bohong akan masa lalu. Dan juga apapun akan dilakukan oleh seorang kakak untuk membela adiknya.

Julie Kagawa lahir di Sacramento, California. .Saat berusia sembilan tahun ia dan keluarganya pindah ke Hawaii. Dan ia menghabiskan banyak waktunya di laut.
Ia pernah membaca novel yang ia sembunyikan di dalam buku pelajaran matematikanya saat kelas sedang berlansung. Tidak hanya kecintaan akan membaca novel saja, ia pun suka menulis.
Julie pernah bekerja di beberapa toko buku selama bertahun-tahun untuk membiayai hidupnya. Ia juga pernah bekerja sebagai dogtrainer  professional selama beberapa tahun. Ketika buku pertamanya laku terjual, ia berhenti bekerja sebagai Dogtrainer dan memutuskan untuk menulis full time.
Julie sekarang tinggal di Louisville, Kentucky bersama suami dan dua ekor kucing peliharaannya yang
menjengkelkan.

Maret 30, 2011

ANAK ARLOJI

Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Kurnia Effendi
Penyunting: Endah Sulwesi
Pewajah Isi: Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN : 978-979-024-351-4
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 237 Halaman
Harga : Rp 35.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Serambi
Cetakan: I, Maret 2011

Dear INE...
Kenali diriku melalui kisah-kisah psikologi yang mudah-mudahan mengispirasi hidupmu.
Salam hangat
KURNIA EFFENDI
15/3/11


Begitulah sedikit coretan kecil yang ditorehkan oleh Mas Kef sang penulis Kumcer Anak Arloji di halaman pertama Buku Anak Arloji yang khusus saya pesan melalui www.tokoserambi.com

Saya sempat mencermati kalimat kisah-kisah psikologi yang tertulis di sana. Sempat terbersit di pikiran saya, kalau cerpen-cerpen ini pasti akan sarat dengan muatan psikologi. Dan ternyata hal tersebut memang terbukti benar adanya.

Buku yang memuat empat belas cerita pendek dengan empat belas aroma yang berbeda ini, mengambil cerita diurutan kedua belas sebagai judul bukunya: Anak Arloji.

Walaupun kisah yang ditampilkan antara satu cerita dengan cerita lainnya berbeda dan tidak saling berkaitan, namun terdapat kemiripan di setiap akhir cerita. Di mana setiap cerita akan ditutup dengan cara menggantung, menyisakan tanya bagi para pembacanya.

Penutup yang kadang membuat kedua alis saya bertemu karena harus menafsirkan sendiri maksud yang mengambang. Saya jadi harus meraba maksud yang tersirat di balik setiap akhir cerita yang disuguhkan.

Saya setuju dan sependapat dengan endorsement yang ditulis Alex Komang untuk Anak Arloji ini.

“Membaca cerita dalam buku ini seperti membaca hidup kita sendiri. Kita seperti dirayu dan juga merayu. Tanpa kebencian atau dengki. Full of wisdom.”

Beberapa cerita dalam buku ini, ada yang dengan mudah saya jangkau dan saya pahami, karena alur ceritanya cenderung sederhana. Sebutlah cerita Panggilan Sasha. Cerita yang mengangkat pertentangan batin seorang perempuan yang ingin bekerja demi membantu suami karena alasan klasik; masalah ekonomi, begitu menyentuh dan menyadarkan saya. Betapa ternyata ada yang lebih mulia dari seorang perempuan itu menjadi seorang istri dan Ibu Rumah Tangga saja, dibanding dengan karier yang cemerlang tetapi mengorbankan kehidupan harmonis keluarganya. Walaupun saya bukanlah orang yang pro dengan hal itu. Bagi saya, perempuan yang bekerjapun sama mulianya, tergantung dari niatnya. Dengan catatan, tidak sampai mengabaikan kehidupan anak dan suaminya.

Di buku ini pun, kita juga akan mengalami sensasi tegang dan memualkan ketika membaca kisah yang menurut saya cukup sadis. Bagaimana bisa seorang anak yang susah untuk makan, tiba-tiba selera makannya bangkit hanya karena mencium aroma sup yang dibuat oleh ibunya yang dengan tanpa sengaja sampai memotong jari kelingking ibunya sendiri. Perasaan mual dan jijik sempat menyerang saya, ketika di akhir kisah, Bobby si anak yang susah makan, menyendok potongan daging yang berbentuk jari kelingking dari mangkuk supnya, dan bertanya bolehkah ia memakannya? Sungguh sadis.

Cerita tegang lainnya ketika kita membaca tentang Pertaruhan. Sungguh sebuah kisah dengan pertaruhan yang “gila” hanya demi prestise dan gelar “The Bravest”. Dua orang mahasiswa berani menantang maut dan takdir mereka dengan berbuat konyol, hanya untuk disebut “Sang Pemberani.”

Ada beberapa kisah yang membuat saya sulit untuk memahaminya. Misalnya saja Aromamawar. Entahlah, apakah makna yang saya tangkap dengan yang ingin disampaikan oleh penulisnya itu sama? Hal ini mungkin kembali kepada kurangnya pemahaman saya membaca cerita yang maknanya tersirat tidak tersurat seperti cerpen-cerpen lainnya yang pernah saya baca.

Satu lagi yang membuat saya melongo saat membaca cerita Anak Arloji ini. Cerita yang juga menyisakan Tanya di hati saya. Akankah setiap pasien Dokter Syarief, si dokter kandungan itu mengalami nasib yang sama? Jujur saya tidak tahu. Cerita ini membuat bulu kuduk saya meremang. Bagaimana jika sebuah arloji mahal yang diberikan secara cuma-cuma oleh dokter kandungan itu kesetiap pasiennya setelah proses persalinan berjalan itu adalah sebuah kutukan. Karena hal itu akan menyebabkan kematian si bayi setelah umurnya menginjak dua bulan. Ataukah itu hanya sebuah “kebetulan”? jika memang di dunia ini ada yang disebut dengan “kebetulan”.

Rasa penasaran, rasa tegang dan kadang senyum tak bisa saya tahan tatkala membaca cerita-cerita ini.

Cobalah mulai dengan membaca Noriyu yang cantik dan mempunyai Kuku Kelingking yang indah dan ia menyukai parfum dengan Aromamawar yang dihadiahi oleh kekasihnya seorang Penggali Makam dan seorang pembuat Kamar Anjing.

Dengarkanlah Panggilan Sasha si Anak Arloji; seorang gadis kecil yang imut yang dilahirkan dengan Pertaruhan nyawa.

Mari berjalan-jalan di Sepanjang Braga, di bawah Tetes Hujan Menjadi Abu sambil mendengarkan nyanyian Laut Lepas Kita Pergi yang disenandungkan oleh suara merdunya La Tifa.

Pulanglah kala matahari akan tenggelam! Jalan Teduh Menuju Rumah terbentang sepanjang kasih ibu. Dan bersimpuhlah di Wangi Kaki Ibu, karena di situlah Surga berada.

Kurnia Effendi lahir di Tegal. Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Ia seorang lulusan Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Namanya mulai dikenal publik sejak tahun 1978 ketika cerpen dan puisinya dimuat di media massa.

Karya-karyanya yang telah mencapai puluhan. Novel dan cerpen-cerpennya yang telah dibukukan adalah Senapan Cinta (Kata Kita, 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Metafor Publishing, 2004), Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utama, 2005), Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media, 2006), Burung Kolibri Merah Dadu, 2007 dan Interlude-Jeda (bersama Syafrudin Azhar, LPKP, 2007).

Beliau pun telah memenangi penghargaan lima besar Khatulistiwa Literaty Award 2006, atas karyanya Kincir Api.

Sekarang yang menjadi pertanyaan saya, kapankah buku yang berisi Kumpulan Cerpen dari sang Editor Anak Arloji ini terbit. Rasanya tidak sabar menunggu hingga waktu itu datang.

Untuk Mbak Endah Sulwesi, semoga buku kumcer-mu akan segera lahir menyemarakkan dunia sastra Indonesia khususnya dan dunia perbukuan umumnya.

A GOLDEN WEB

Kisah Ahli Anatomi Perempuan Pertama di Dunia


Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Barbara Quick
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penyunting: Ida Wajdi
Pewajah Isi: Hadi Mahfudin
ISBN : 978-979-024-472-6
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 272 Halaman
Harga : Rp 40.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Maret 2011

 “Aku ingin pergi ke Universitas Bologna, Papa. Aku ingin mempelajari kedokteran.”
“Aku ingin mempelajari tubuh manusia sendiri dan mempelajari rahasia-rahasia cara kerjanya―segalanya yang tersembunyi di balik daging.”
 Itulah kalimat yang terlontar dari mulut manis seorang gadis lima belas tahun, saat orangtuanya mengatur perjodohan untuk dirinya.
 Alessandra Gilliani seorang gadis berotak cemerlang dan berpikiran maju. Ia terlahir di abad keempat belas. Abad di mana bagi seorang perempuan haram hukumnya untuk sekolah tinggi, apalagi sampai pada jenjang universitas. Kala itu hanya ada dua pilihan untuk kaum perempuan; menjadi Biarawati atau menikah dan menjadi istri yang baik dengan melahirkan banyak anak.
Hal tersebut tidak berlaku untuk Zan-Zan, panggilan kecil Alessandra. Lahir sebagai anak kedua dan merupakan anak perempuan tertua, tidak menjadikan ia seorang yang penurut.
Hari-hari yang ia lalui lebih banyak ia habiskan di bengkel percetakan ayahnya, yang mempunyai usaha penerbitan buku.
Buku adalah kecintaannya. Hampir semua buku di perpustakaan ayahnya dan buku yang hendak diterbitkan oleh ayahnya, sudah ia baca. Melalui buku ia tahu kehidupan dunia luar.
Sayangnya takdir yang menjadikan ia seorang perempuan, membuat langkahnya terpenggal. Cita-citanya untuk sekolah di Universitas Bologna, ditentang oleh ayahnya, terlebih oleh Ursula, Ibu tirinya yang kejam.
 Ursula selalu berusaha menyingkirkan Alessandra dari kehidupan keluarganya, karena ia merasa Alessandra adalah duri dalam daging baginya. Alessandra yang tidak pernah mau memanggil dirinya “Ibu”. Berbeda dengan kakak lelakinya Nicco dan kedua adiknya Pierna dan Dodo. Mereka disayang oleh Ursula karena sikap mereka yang manis dan tidak menganggapnya sebagai ibu tiri.
 Alih-alih dikirim ke Universitas Bologna, Alessandra dikirim ke Biara untuk belajar, sebagai bekal menikah kelak.
Ditemani Emilia, pengasuh setianya, Alessandra menghabiskan waktunya di biara. Tidak ada hal yang menarik minatnya di biara. Ia hanya belajar sekedarnya sambil diam-diam menyusun rencana untuk melarikan diri dari biara.
Hari itu tiba. Setelah enam bulan terkungkung di biara, Alessandra berhasil kabur dengan cara yang elegan―membohongi pihak biara kalau ada hal buruk yang sedang menimpa keluarganya.
Dibantu oleh seorang teman lama, akhirnya Alessandra berhasil kabur. Bukan rumah orangtuanya yang ia tuju, akan tetapi Bologna yang ia datangi.
 Alessandra bersama Emilia menjalani kehidupan berat di kota itu. Dan untuk bebas melakukan yang ia mau, maka Alessandra pun hatrus berubah penampilan menjadi seorang pemuda. Alessandro dan Emilio telah muncul, menutupi penyamaran dari wujud sebenarnya.
Alessandra menjadi terkenal di kalangan para mahasiswa, berkat kecerdasan dan kecermelangan otaknya.
Suatu hari Alessadra berhasil pindah ke rumah orang yang menjadi panutannya sejak dulu. Dia adalah Mondino de’Liuzzi, sang dokter terkenal yang juga dosen di Universitas Bolognya itu. Dokter yang telah menulis buku Anatomia yang duplikatnya dibuat dan diterbitkan oleh penerbitan ayah Alessandra, Carlo Gilliani. Kediaman Mondini membuatnya benar-benar teringat rumahnya sendiri di Persiceto, dan ia merasa senang.
Terdapat beberapa mahasiswa yang tinggal di kediamannya Dokter Mondino selain Alessandra―Sandro. Ada Bene seorang anak tukang jagal yang dikirim sebagai perwakilan dari desanya dengan menggunakan dana yang dikumpulkan secara swadaya oleh warga desa.
Kemudina ada Otto, si pemuda tampan dan berkelas yang berasal dari kalangan atas. Otto yang berteman dekat dengan Sandro dan menyayanginya seperti adik lelakinya.
 Kehidupan Alessandra sebagai Sandro tidak lantas mulus. Penyamarannya beberapa kali hendak terbongkar. Dan itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang iri padanya untuk memerasnya dan menjadikan kelemahannya.
Alessandra pun harus berjuang menghadapi menstruasi pertamanya di tengah-tengah kesendiriannya, tanpa ada Ibu atau saudara perempuan tempatnya bertanya.
Alessandra yang kini menjadi asisten kepercayaan Dokter Mondino, berkat keahliannya dalam membuat sayatan dan membedah mayat; manusia ataupun hewan.
 Di sini kita juga akan disuguhi adegan romantis yang mirip dengan adegan telenovela atau sinetron-sinetron Indonesia. Adegan romantis yang penuh dengan kejutan-kejutan yang sebenarnya mudah untuk ditebak. Kisah percintaan Alessadra yang membara dan menguar hasrat yang kuat. Dan akhir kisah cinta Alessandra pun memang sangat telenovela dan pastinya memuaskan hati para pembacanya.
 Tetapi akhir dari kisah Allessadra Gilliani ini, sedikit menggantung dan membuat hati miris. Bagaimana tidak, perjuangan yang Alessandra hadapi dan sejuta pengorbanan yang ia lakukan, tidak diapresiasi oleh masyarakat di saat itu. Bahkan sebutan dan tuduhan “Penyihir” lah yang dikecamkan oleh orang-oarang kepada dirinya.
Hanya satu perkataan yang Alessandra lontarkan di tengah sakit yang ia alami.
“Aku tidak mau dilupakan”.
 Dan memang kita tidak akan pernah bisa melupakan sosok perempuan yang begitu banyak menginspirasi kehidupan perempuan-perempuan lainnya di masa sekarang, atas kecermelangannya dan atas sumbangsihnya pada dunia kedokteran.
Sosok yang bertekad kuat dan berpendirian teguh. Sosok yang berani mengambil risiko apapun dengan mendobrak adat dan tradisi yang berlaku bagi kaumnya, demi sebuah kecintaannya yang besar terhadap literature dan ilmu pengetahuan.
Barbara Quick adalah lulusan dari University of California at Santa Cruz (UCSC). Dia mengambil jurusan Bahasa Inggris dan Prancis. Sempat menjadi tukang kebun sebelum akhirnya bekerja sebagai Editor dan kemudian menjadi Penulis Senior untuk UC Barkeley. Buku pertamanya, Northern Edge, diterbitkan pertama kali pada tahun 1990. Untuk menulis buku A Golden Web ini, ia melakukan perjalanan menyeluruh ke Bologna dan tempat-tempat sejarah yang sekiranya diyakini pernah dijadikan tempat tinggal oleh Alessandra Gilliani.

Maret 22, 2011

THE VAMPIRE DIARIES#4 : Dark Reunion

Resensi oleh Noviane Asmara
 
DARK REUNION Penulis : L.J. Smith
Penerjemah: Nengah Krisnarini
Penyunting: Dian Pranasari
Pewajah Isi: Dinar Ramdhani Nugraha
ISBN : 978-979-024-247-0
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 321 Halaman
Harga : Rp 39.000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Maret 2011


“Aku sudah menunggumu,” kata makhluk yang mengenakan gaun Elena, Makhluk abu-abu kerempeng dengan gigi yang panjang dan berantakan. “Dengarkan aku, Bonnie.” Makhluk itu menahan Bonnie dengan kekuatan yang luar biasa.
“Kamu bukan Elena! Kamu bukan Elena!”
“Dengarkan aku, Bonnie!”
Itu suara Elena, suara Elena yang sesungguhnya. Suara yang berasal dari suatu tempat di belakang Bonnie bagai angin dingin yang segar,”Bonnie dengarkanlah sekejap saja―”
“... Pria itu membelokkan hal-hal, mengubahnya. Aku tidak sekuat dirinya ...”
“... tetapi ini penting. Kamu harus mencari ... sekarang.” Suara Elena mulai menghilang.

 Kematian Elena telah berselang hampir enam bulan, dan selama waktu itu pula kehidupan di Fell’s Church berjalan normal dan aman.
Tapi kini, keadaan mencekam kembali menyelimuti Fell’s Church. Teror kembali terjadi bertubi-tubi. Dan korbannya adalah para gadis muda penduduk Fell’s Church yang bersekolah di Robert E. Lee.
 Ironisnya, teror pertama terjadi di tengah pesta kejutan perayaan ulang tahun Meredith. Pesta yang bermula ceria, penuh dengan tawa dan menghangatkan hubungan pertemanan antara Caroline, Bonnie dan Meredith yang sempat menegang, berakhir dengan tragis.
Sue Carson, teman satu sekolah mereka yang juga adalah Putri Homecoming bersama Elena, yang diundang di pesta itu, ditemukan tewas. Tewas dengan cara yang mengenaskan―terjatuh dari balkon. Vickie Bennett yang juga berada di pesta tersebut menjadi syok akibat kematian yang menimpa Sue. Dan ia dituduh menjadi penyebab matinya Sue.
Bonnie, yang mempunyai kekuatan supernatural, dan kian matang dalam ‘kelebihan’-nya itu, merasakan sesuatu yang berbau horor, sadis, misteri dan gaib. Horor yang meledakkan pesta Meredith menjadi pemakaman.
 Teror tidak berhenti dengan matinya Sue Carson. Kematian pun terus membayangi para gadis-gadis Fell’s Church. Vickie Bennet yang terguncang jiwanya pun, akhirnya ditemukan tewas di kamarnya dengan tubuh terkoyak dan darah berceceran menghiasi setiap sudut kamarnya.
Ketika Caroline memilih untuk meninggalkan Fell’s Church demi menghindar dari teror, Bonnie, Meredith bersama Matt, berusaha menemukan dan menelusuri siapa dalang di balik semua teror yang terjadi.
Stefan dan Damon pun sepakat membantu mereka. Duo kakak beradik Salvatore ini yang dulu selalu berseteru dan berusaha saling membunuh satu sama lain, kini bersatu demi menyelamatkan penduduk Fell’s Churh dari teror monster misterius.
 Penyidikan mereka mengarah pada teman sekolah mereka yang dahulu pernah melecehkan Elena. Tyler Smallwood.
Tyler yang selama ini dikenal sebagai seorang murid yang menyebalkan dan kerap melecehkan murid perempuan, ternyata menyimpan catatan keluarga yang kelam. Dan ia tidak dapat menolak takdirnya. Takdir yang harus ia terima turun temurun dari moyangnya.
 Tapi ternyata, ketika Tyler sudah tak berdaya pun, teror masih terus berkembang dan menjalar semakin parah. Dan kini nyawa Caroline berada di ujung tanduk.
Caroline ditawan oleh satu sosok yang ingin melihat duo Salvatore ini hancur. Sosok yang telah membuat Elena jauh dari Stefan. Sosok yang berkaitan dengan masa lalu kedua vampir Salvatore yang tampan ini.
Sosok yang sangat kuat luar biasa. Kejam dan tanpa ampun. Sosok yang sudah sangat lama datang dan berada di tengah-tengah penduduk Fell’s Church.
Dialah sang penjagal yang sangat menikmati saat membunuh korban-korbannya. Dia yang hanya dapat dibunuh oleh kayu ash white.
 Mimpi yang Bonnie alami di awal cerita tentang sesuatu hal buruk yang akan terjadi pada penduduk Fell’s Church dan juga teman-temannya akan bahaya yang dari dulu sudah mengintai mereka dan akan meledak dalam waktu dekat ini, sudah berusaha disampaikan oleh Elena kepadanya lewat alam bawah sadarnya.
Tapi mimpi itu tak separah dan tak sedasyat yang terjadi di alam nyata. Penduduk Fell’s Church harus membayar mahal demi menghentikan teror itu.
 Buku keempat dari seri The Vampire Diaries ini, begitu penuh dengan ketegangan. Aroma darah dan kematian bertebaran di mana-mana. Pertengkaran kerap hadir dalam setiap adegannya. Perseteruan diantara sahabat dan perseteruan kakak beradik. Tapi kisah ini pun begitu manis dengan warna romansa yang terurai. Jalinan kasih antara Stefan dan Elena yang tetap membara seperti sebelum-sebelumnya, perasaan rindu yang dirasakan Meredith terhadap Alaric Saltzman kekasihnya, juga percikan-percikan asmara yang mulai terjalin antara Bonnie dan Matt.
Kesemuanya ini tersaji begitu indah dan sempurna dalam buku yang kovernya berhiaskan Stefan, sang adik kecil-nya Damon.
Alur yang cepat, bahasa yang indah, suntingan yang pas dan keseruan yang tertuang dalam kisah ini membuat saya benar-benar tidak bisa berhenti membacanya hingga tuntas.
 Ada satu adengan yang menjadi adegan favorit saya dalam buku ini.
 “baiklah, tetapi ke mana? Tunggu sebentar, bagaimana dengan asrama...?” suara Bonnie menghilang. Ada sebuah mobil hitam kecil parkir di hadapannya. Sebuah mobil buatan Italia, anggun, mengilap dan terlihat seksi. Seluruh kaca jendelanya gelap, yang sebenarnya illegal; kamu tidak bisa melihat ke dalamnya. Lalu Bonnie melihat logo kuda di belakang mobil itu.
“Ya, Tuhan.”
Stefan melirik itu tanpa ekspresi. “Ini milik Damon.”
Tiga pasang mata memandangnya dengan terkejut. “Milik Damon?” seru Bonnie, mendengar lengkingan di suaranya. Dia berharap maksud Stefan adalah Damon meminjamkannya kepadanya.
Namun, jendela mobil turun dan mengungkapkan rambut hitam yang sama memukau dan mengilapnya seperti cat mobil itu, kacamata hitam yang memantulkan bayangan, serta senyuman yang menyingkapkan gigi-gigi yang sangat putih. “Buon giorno,” kata Damon dengan santai. “Ada yang perlu tumpangan?”
“Ya, Tuhan..,” jerit Bonnie dan saya kompak histeris berbarengan. (hahaha)
 Yah... memang tidak dapat dipungkiri, bahwa saya adalah fans berat Damon. Saya tidak peduli. Bagi saya, siapapun Damon, bagaimana pun kelakuannya dan apapun yang dikerjakannya bahkan sampai hal-hal remeh sekalipun, selalu meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya. Kerap saya bersorak dan tak sedikit saya melonjak senang disertai rasa gemas dan deg-degan kala Damon melakukan sesuatu yang membuat saya tersentuh dan membuat saya serasa berada dekat sekali dengan Damon.
Bahkan saya sempat merasakan sakit hati yang mendalam pada Stefan akan perlakuannya pada Damon yang menurut saya tidak adil.
 Penasaran dengan Damon? Ups! Penasaran dengan cerita Dark Reunion ini? Silahkan buktikan dengan bertualang sendiri dan siap-siap terhanyut dalam kisah memukau yang telah difilmkan dan menjadi serial TV terpopuler di Amerika saat ini.
 Lencana bintang empat saya persembahkan untuk buku ini dan lencana bintang lima saya sematkan di jaket Damon untuk aksinya yang sangat keren, plus setangkai bunga mawar sebagai bonus, beserta surat pernyataan; bahwa saya, Ine Noviane Asmara bersedia menjadi donor untuk Damon Salvatore ^ _ *

Maret 16, 2011

SILVER STONE

Resensi Noviane Asmara
Penulis : Ardina Hasanbasri
Penyunting : Jia Effendie
Penyelaras : Ida Wajdi
ISBN : 978-979-024-468-9
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 313 Halaman
Harga : Rp 39.900
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, Januari 2011

Saya merasa senang, akhirnya Atria tidak hanya menerbitkan buku-buku terjemahan saja, tetapi sudah mulai berani menerbitkan buku lokal, hasil goresan anak bangsa.

Awalanya saya tidak menduga bahwa buku ini adalah buku yang ditulis oleh penulis lokal, karena ketika membaca judulnya “Silver Stone”, yang menggunakan bahasa asing, saya berpikiran bahwa ini adalah buku terjemahan.

Tapi memang bebarapa waktu belakangan ini, ada banyak bermunculan buku cerita atau novel yang bergenre fiksi fantasi hasil penulis-penulis berbakat Indonesia, yang hampir seluruh judul buku mereka menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin pemakaian Bahasa Inggris dalam judul, bermaksud agar buku tersebut lebih terdengar mendunia atau mungkin agar lebih familiar saja.

Buku Silver Stone ini terdiri dari tujuh bab, di mana setiap babnya terdiri atas bebarapa sub bab. Tujuh bab itu adalah:

Sang Putri

Anak Tukang Kayu

Sang Pangeran

Para Monster

Naga

Batu

Sang Kesatria

Yang unik dan hebat dari setiap bab ini adalah terdapat kata-kata pembuka yang merupakan kalimat bijak atau pepatah yang merupakan sari dari bab-bab tersebut dan merangkum cerita yang ada di dalam setiap babnya. Dan sebagai pemanis, dalam setiap bab ini juga, dibuat indah dengan hadirnya gambar siluet dari judul bab yang tercantum. Misalnya siluet seorang putri dari bab Sang Putri, atau siluet lucu tapi cukup mengerikan yang mewakili Siluet Sang Monster. Sangat kreatif dan manambah nilai tambah untuk buku ini.

Terdapat satu kalimat pembuka yang menjadi favorit saya. Kalimat pembuka pada bab Anak Tukang Kayu.

Sama halnya seperti sebuah cerita, setiap orang memiliki keunikan mereka masing-masing. Keunikan itu bias menjadi kelemahan atau bias jadi penentu kehebatan. Semua tergantung pada orangnya. Namun, kadang kita merasa berkecil hati bila mendengar tanggapan orang-oarang mengenai kita. Akhirnya kita terjebak dalam situasi di mana potensi diri tidak dapat berkembang seutuhnya. Tak aka nada yang berubah, kecuali kita sendiri yang ingin mengubahnya.

Buku yang menceritakan tentang seorang Putri dari sebuah kerajaan yang melarikan diri ini, berakhir dengan kebahagian atau happy ending.

Cerita yang disuguhkan cukup menarik, khasnya sebuah buku dongeng. Banyak keterlibatan tokoh di dalamnya. Seperti Penyihir, Naga, Pangeran, Keluarga Tukang Kayu dan lainnya. Tetapi saya sempat merasa kelabakan saking banyaknya nama tokoh yang harus saya ingat. Apalagi nama-nama tokohnya sudah sering muncul di dalam buku-buku cerita fiksi fantasi atau dongeng yang pernah saya baca sebelumnya. Andai saja namanya sedikit berbau nama Indonesia, mungkin tidak akan membuat saya disorientasi akan tokoh yang ada. Dan mungkin pula ceritanya akan lebih lucu.

Dikisahkan Putri dari Kerajaan Meza, Alyssa Adora Celeste, pergi melarikan diri dari istananya, tepat seminggu sebelum hari pertunangannya. Bersama sang pengasuh yang juga pengawal pribadinya, Pasque, Putri Alyssa bertualang ke luar istana tanpa rencana dan tanpa tujuan. Alyssa melarikan diri karena ia merasa tertekan akan kehidupan di istananya, terutama ketika harus berhadapan dengan aturan dan etiket sebagai seorang Putri Raja. Ia pun merasa kesal akan sikap Theda, neneknya dan juga para sepupunya yang selalu menuntut ia berlaku sepantasnya dan selayaknya seorang Putri Raja.

Di tengah pelariannya, Alyssa bersama Pasque, bertemu dengan dua orang tua. Tepatnya dua kakek. Kakek-kakek itu secara fisik sangat jauh berbeda, tetapi meraka mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama seorang Penyihir Senior. Penyihir tua pertama adalah Maxim. Ia mempunyai benda magis yang diyakininya sebagai benda paling hebat di jagat raya. Sebuah Batu berwarna Perak.

Kakek penyihir kedua pun mempunyai benda magis yang tak kalah kehebatannya dengan benda yang dimiliki oleh Max, yaitu sebuah Tongkat Emas.

Ketika Alyssa bertemu keduanya, ia ditawari untuk mencari Batu Perak. Batu ajaib yang dapat menemukn apa pun yang dicari. Akhirnya Alyssa pun menyanggupi tawaran kedua kakek itu. Usaha kabur dari istana yang awalnya tanpa tujuan, akhirnya mempunyai tujuan pasti. Mencari Batu Perak itu yang dapat membantunya mencari takdirnya sendiri.

Perjalanan berikutnya, mempertemukan Alyssa dengankeluarga tukang kayu yang mempunyai empat orang anak yang berbeda karakter.

Akhirnya salah seorang anak tukang kayu yang paling lemah dan paling pesimis, Troy menjadi teman Alyssa dalam perjalanannya mencari batu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya.

Tapi perjalanan Alyssa dalam mencari batu itu tidaklah mulus seperti yang dikiranya. Ia harus menghadapi kakak beradik dari keluarga penyihir, yaitu Mirabel dan Ronda.

Selain harus menghadapi gangguan dan tipuan dari Mirabel dan Rhonda, Alyssa, Paque dan Trooy pun harus siap berhadapan dengan teka-teki dan sambutan makhluk-makhluk yang mengerikan.

Dalam satu peristiwa yang mengharuskan ia memasuki sebuah Rumah Misterius yang diyakini terdapat batu Perak yang ia cari, Alyssa bertemu dengan Sang Pangeran, yang ternyata adalah Pangeran yang akan ditunangkan dengan Effie, teman sekaligus musuhnya yang merupakan Putri dari kerajaan tetangga.

Akhir cerita dari kisah ini, seperti kebanyakan cerita tentang seorang Putri atau seorang Pangeran dari suatu kerajaan tertentu, adalah happy ending.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh kalangan remaja, karena temanya tidaklah terlalu rumit dan bahasanya ang mudah dimengerti.

SUDDENLY SUPERNATURAL


Arwah di Sekolah
Resensi : Noviane Asmara
Penulis : Elizabeth Cody Kimmel

Penerjemah : Barokah Ruziati
Penyunting : Ida Wajdi

Penyelaras aksara: Fenty Nadia

Pewajah Isi: Aniza

ISBN : 978-979-024-467-2

Tebal : 207 Halaman

Harga : Rp 35.000

Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria

Cetakan I : Februari 2011

Saya membaca buku ini saat dalam perjalanan menuju Islamic Book Fair yang uniknya, saat itu saya satu mobil bersama sang penerjamah.

Saat itu si penerjemah menanyakan kepada saya tentang buku ini. Saya belum sempat menjawabnya, karena saat itu baru mencapai setengah bagian buku saja.

Melalui ulasan ini, saya akan menjawabnya.

Buku ini begitu ringan, tidak sampai membuat kening kita berkerut karena harus berpikir keras, sedikit menegangkan karena bercerita mengenai arwah yang penasaran, tapi tidak serta merta membuat kita takut. Dan bahasanya pun mengalir dengan apik sehingga mudah dipahami.

Para arwah merusak hidupku.

Aku menyalahkan ibuku.

Katslavina yang akrab dipanngil Kat, hidup bersama sang ibu yang mempunyai kelebihan. Kelebihan dan keunikan yang kadang membuat dirinya minder dan menjadi “aneh” di sekolahnya. Kelebihan yang merupakan aib untuk dirinya dan berusaha ia tutupi dari semua orang.

Ibunya adalah seorang Medium. Bukan dalam arti medium yang merupakan pertengahan antara kecil dan besar, tetapi lebih kepada penggambaran ideal tentang seorang perempuan vegetarian pembakar dupa dan pemakai rok India yang kebetulan bisa melihat dan berhubungan dengan orang mati.

Keadaan ini diperparah saat Kat pun akhirnya mengalami hal yang sama setelah berulang tahun ketiga belas. Kat dapat melihat arwah juga.

Di sekolah Kat tergolong murid yang genius. Tapi kegeniusannya tidak serta merta ia bisa masuk dalam geng popular dan mempunyai banyak teman.

Shoshanna, ketua dari geng popular akhirnya mendekati Kat hanya demi memanfaatkan kepintarannya. Saat Shoshanna berkunjung ke rumah kat untuk mengerjakan proyek biologinya, dia mengalami hal-hal yang aneh di rumah Kat, yang membuat bulu kuduknya meremang.

Suhu ruangan yang tiba-tiba menjadi sangat dingin, rangkaian jeritan, erangan dan raungan yang tiba-tiba berkumandang. Dan itu pastinya Arwah. Karena arwah seperti bayi. Mereka menjerit dan melolong saat menginginkan sesuatu, dan mereka akan terus melakukannya sampai kau mengatasi masalah mereka.

Hal ini membuat Shoshanna meyakini bahwa rumah Kat, berhantu. Dan ia memutuskan untuk membatalkan mengerjakan proyek sekolahnya dengan bantuan Kat.

Sejak peristiwa itu, Kat menjadi sendiri lagi. Sampai pada satu hari datang siswi baru, cewek mungil berambut merah yang selalu menyeret-nyeret tas Selo yang begitu besar. Jacqulieline.

Jac, akhirnya berteman dengan Kat. Mereka mempunyai banyak kesamaan dan saling cocok satu sama lain. Jac tidak serta merta meninggalkan Kat sebagai temannya seperti saat Shoshanna meninggalkannya dan menyebarkan isu tentang ibunya, saat Jac mengetahui keadaan sebenarnya.

Kat dan Jac kerap menghabiskan waktu di perpustaan sekolah. Sampai suatu hari Kat melihat sesesok gadis bertubuh kurus dan tinggi dengan rambut kepang dua dan berbaju seragam jadul. Kat yakin bahwa itu adalah arwah sekolah yang penasaran.

Bersama Jac, Kat pun melakukan penyelidikan mengenai siapa gadis itu. Dan apa yang hendak disampaikannya kepada Kat. Karena Kat merasa bahwa sang Arwah ini begitu penasaran akan kehidupan terkahirnya di dunia. Ada sesuatu yang belum selesai. Dan melalui kelebihan yang Kat miliki, Arwah tersebut meminta bantuan.

Dimulai dengan menelusuri lewat buku tahunan siswa, akhirnya kebenaran terungkap secara perlahan-lahan. Hal yang mengejutkan adalah, Jac mempunyai hubungan dengan si Arwah ini. Dan mau tidak mau, Jac harus terlibat semakin jauh demi membantu sang Arwah menyelesaikan urusannya dan kembali pada alamnya.

Siapa sebenarnya gadis yang arwahnya bergentayangan di Sekolah? Bagaimana dia meninggal dan urusan apa yang belum terselesaikan semasa hidupnya sampai-sampai ketika sudah mati dia masih saja mencari cara untuk menyelesaikan urusannya tersebut.

Jawabannya, ya hanya ada di sini, di buku pertama dari serial Suddenly Supernatural ini. Dan sudah terbit tiga buku lainnya di negera asalnya.