Juni 02, 2011

BEASTLY


Resensi oleh Noviane Asmara 
 
BEASTLY :Beauty and The Beast Abad 21
Penulis : Alex Flinn
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penyunting : Prisca ari & Esti A. Budhihabsari
Proofreader : Ocllivia D.P.
Tebal : 409 Halaman
ISBN : 978-979-433-612-0
Harga : Rp 45.000
Cover : Soft Cover
Genre : Fantasy
Penerbit : Mizan Fantasi
Cetakan : I, Maret 2011


Menjadi tampan itu sebuah anugerah, apalagi bila ditambah dengan penampilan fisik yang sempurna, kaya bahkan (mungkin) berotak cemerlang. Siapapun bakal bersyukur bila dikaruniai penampilan dengan nilai fisik 100 itu.
Tapi, bagaimana bila semua itu hanya tampilan luar yang tidak dibarengi oleh sikap yang terpuji pula. Bagaimana jika ketampananlah, membuat seseorang harus terjebak dalam keadaan paling buruk. Menjadi buruk rupa dan tidak diinginkan. Menjadi bumerang dan berbalik melawan diri sendiri.

Itulah yang terjadi pada Kyle Kingsbury, seorang cowok remaja 16 tahun berbadan tinggi tegap, mempunyai mata biru cemerlang plus rambut pirang yang indah. Bonus lainnya adalah ia anak seorang pembaca berita terkenal dan super tajir.
Keadaan itu menjadikan Kyle banyak digandrungi para cewek di Tuttle, sekolah elit untuk para anak orang kaya sekaligus disegani teman-teman cowoknya dan juga guru-guru karena sang ayah yang memiliki pengaruh besar.
Kyle terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan walau harus dengan cara buruk dan merugikan orang sekalipun. Sanjungan dan pujian menjadi hal yang terlalu biasa untuknya. Tapi keadaan itu menjadikan ia tidak sadar dan peka terhadap lingkungan sekitar. Ia menjadi begitu egois, bermulut besar, mudah meremehkan orang, suka menindas dan kejam. Ia lupa bahwa bahwa keberuntungan yang bersifat genetis dan sementara itu menjauhkannya dalam pencapaian diri.

Kisah ini dibuka dengan sebuah chat group yang beranggotakan para “korban” yang mempunyai masalah yang sama. Menjadi buruk rupa karena perilaku mereka sendiri. Room chat yang diasuh oleh Mr.Anderson ini diadakan demi saling berbagi kisah dan mencari solusi untuk membebaskan para “korban” dari keadaan yang sekarang.

Adalah Kyle Kingsbury yang menggunakan nickname BeastNYC di chat group. Saat ini ia berubah menjadi makhluk mengerikan. Makhluk setengah binatang setengah monster yang berbulu dan bercakar. Tapi bukan serigala atau kodok ataupun beruang seperti di cerita dongeng kebanyakan.

Semuanya berawal saat Kyle mengajak Kendra Hilferty, cewek gotik dengan mata hijau yang aneh, hidung yang terlalu panjang dan bengkok plus gendut ke pesta dansa sebagai kencannya. Di sisi lain, Kyle pun telah mengajak Sloane Hagen, cewek terseksi dan popular di Tuttle sebagai kencannya ke acara pesta dansa. Pasangan yang memang berimbang dan serasi.
Kendra yang akhirnya menyadari bahwa Kyle dan Sloane telah merencanakan semuanya demi mempermalukan dirinya yang bukan apa-apa tak lebih dari bagian permainan mereka. Saat itu, Kyle telah membuat kesalahan yang fatal yang membawa hidupnya pada dunia yang gelap, dunia di mana dia harus puas dengan wujud barunya yang mengerikan karena menjadi si buruk rupa dan terisolasi dari dunianya yang dulu yang menawarkan seabreg kemudahan.

Kendra telah mengubah Kyle menjadi buruk rupa. Karena seperti itulah rupa Kyle yang sesungguhnya menurut Kendra. Kendra yang sebenarnya adalah penyihir yang sedang menguji Kyle dan ternyata Kyle tidak lulus dalam ujiannya itu.
Selama menjadi buruk rupa, Kyle harus menerima ia dibuang oleh ayahnya dan tidak mempunyai teman selain Magda―seorang wanita tua yang menjadi pelayan dan menemani Kyle selama dalam pengasingannya. Juga ada Will yang disewa oleh Mr. Rob Kingsbury, ayah Kyle untuk menjadi tutor bagi putranya selama masih menjadi buruk rupa dan tidak bisa bisa berbaur bebas seperti sebelumnya.
Keadaan Kyle bisa kembali seperti semula, asalkan ia dapat mematahkan mantra yang dikutukkan oleh Kendra pada dirinya. Kyle harus bisa menemukan cinta sejatinya―menemukan seorang gadis yang mencintai ia apa adanya dan menciumnya.

Perjuangan Kyle dalam mencari cinta sejatinya tidak semudah yang ia bayangkan, apalagi tenggat waktu dua tahun yang diberikan kepadanya akan segera usai. Ia harus segera menemukan gadis yang tulus mencintainya atau akan terjebak dalam raga buruk rupa sepanjang hidupnya.
Ketika cinta sejati itu nyaris ia dapatkan, ia harus merelakan cinta sejatinya pergi dan berpasrah diri bahwa memang menjadi buruk rupa adalah takdir yang digariskan untuknya. Kyle harus melepaskan Linda Owens demi kebahagiaan gadis itu. Gadis yang telah mengubah semua sifat buruk dalam dirinya. Lindy yang telah berhasil mengenalkan Kyle pada rasa kasih tanpa pamrih, lebih peka terhadap orang lain dan tidak egois. Dan juga membuat dirinya jatuh cinta pada gadis sederhana itu.

Ending yang disodorkan oleh Flinn, tentunya sangat khas dengan kisah-kisah dari Hollywood. Happy ending. Karena sejak awal kita memang sudah diingatkan, bahwa novel ini mengadaptasi kisah Beauty and the Beast dengan setting modern.
Alex Flinn yang ternyata adalah seorang penulis perempuan ini mampu memindahkan zaman Beauty and the Beast ke New York yang super modern dengan segala hingar-bingarnya tanpa gagap. Dan Kastel Beast pun berubah menjadi sebuah apartemen mewah yang menyediakan segala alat penunjang informasi yang canggih dan dipenuhi ratusan buku keren.
Kisah buku yang merupakan International Reading Association Young Adult Choice, 2009 ini menampilkan sosok tokoh dengan karakter yang kuat dan nyata. Rasakan saja kekejaman yang dilakukan Kyle dan sinisnya Sloane, hingga ingin rasanya bisa mendapatkan kesempatan untuk menampar mulutnya yang pedas. Juga sosok Lindy, yang teramat manusiawi yang memang kontras bila dipadankan dengan Kyle.
Saya sangat menyukai sosok Lindy, bukan karena digambarkan ia seorang gadis baik dengan penampilannya standar, tetapi karena ia begitu menggemari buku. Buku menjadi satu-satunya teman dikala ia kesepian dan selalu menjadi damai dengan membaca. Tengoklah buku-buku yang telah dibaca dan selalu menjadi farovitnya; Jane Eyrn, Soneta Shakespeare, A Little Pricess.

Alex Flinn lahir di kota kecil Long Island, New York. Ketika berusia lima tahun ibunya berkata, bahwa kelak ia seharusnya menjadi seorang penulis. Penulis favoritnya adalah Astrid Lindgren, Beverly Cleary, Judy Blume, Marilyn Sachs, dan Laura Ingalls Wilder. Ia bahkan sudah membaca A Little Princess karya Frances Hodgson Burnett sekitar 50 kali. Ia sudah mempunyai beberapa karya young-adult. Dan beberapa di antaranya yaitu adalah adaptasi dongeng anak-anak yang terkenal seperti The Frog Prince dan Sleeping Beauty.

Beberapa kalimat bijak tersebar di buku yang kental dengan nuansa romansa ini.
Sesuatu terlihat cantik, bukan berarti berkualitas bagus.(hal.263)
Sesuatu yang memiliki kecantikan dari dalam akan hidup untuk selamanya, seperti harum bunga mawar. (hal.263)
Orang-orang sangat mementingkan penampilan, tetapi setelah itu, saat kau sudah mengenal seseorang dengan baik, kau bahkan tidak memperhatikan penampilannya lagi. (hal. 299)
Mungkin kita terlalu menilai orang dari penampilannya, akrena itu lebih mudah daripada harus melihat sesuatu yang memang benar-benar penting. (hal. 381)

Satu hal yang saya kurang saya sukai, yaitu kover. Awalnya saya mengira kover ini mengambil freeze frame salah satu adegan di film, karena karya Alex Flinn ini memang sudah diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama, dengan pemerannya Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens. Tetapi ternyata kover bukan adaptasi film. Tokoh cewek dan cowok yang terlihat di kover ini menurut saya ada yang miss dan tak terlihat chemistry yang terjalin di sana.
Andaikan dibuat sebagai gambar ilustrasi atau dengan edisi movie sekalian, mungkin akan tampak lebih cool.
Tapi, buku ini cocok dibaca sebagai pengantar tidur yang tidak akan membuat kamu tertidur karena rasa bosan.

THE OLD MAN WHO READ LOVE STORIES


Resensi oleh Noviane Asmara  
Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Penulis : Luis Sepúlveda
Penerjemah : Ronny Agustinus
Tebal : 116; i-xvi Halaman
Harga : Rp 23.500
Cover : Soft Cover
Genre : Sastra
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, 2005

Buku ini secara tak sengaja direkomendasikan oleh Bang David Tobing, ketika saya bersama Bea sedang berbincang-bincang bersama beliau tentang buku-buku yang telah kami baca selama ini. Kami saling memberi masukan buku-buku mana yang bagus menurut versi kami masing-masing. Dan tentunya kami saling menginginkan bila buku bagus yang telah kami baca, dibaca pula oleh teman-teman kami.
Hasilnya, inilah buku The Old Man who Read Love Stories – Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta yang menurut David Tobing bagus dan layak dibaca.
Maka mulailah saya hunting buku ini ke toko buku langganan saya. Dan senang sekali, buku ini dengan mudah saya dapatkan, walaupun bila ditilik dari tahun terbitnya, buku ini terbit pertama kali tahun 2005. Sungguh buku yang terbilang lama.
Rasa penasaran saya terhadap buku setebal 114 halaman ini begitu tinggi, apalagi ketika saya membaca biografi dari Luis Sepúlveda, sang penulis. Saya semakin jatuh cinta saja terhadap buku ini dan dengan segera saya melahapnya.

Buku ini yang berlatar pedalaman Ekuador ini, mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Antonio José Bolívar Proaño yang selanjutnya dikenal sebagai Pak Tua.
Ia sadar ia telah beranjak tua, dan memutuskan untuk tinggal di Ildilio dan hidup di sana dengan berburu.
Kedamaian yang awalnya ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi teror dan horor. Saat suku Shuar menemukan sesosok mayat orang bule dengan luka yang disinyalir adalah luka bekas cakaran dan cengkeraman binatang buas. Macan Kumbang.
Bersama sahabatnya dr. Rubicundo Loachamin, ia melakukan perjalanan yang melelahkan menembus belantara Amazone.

Ada rasa geli yang menggelitik di hati saya, tatkala memikirkan bagaimana seorang lelaki tua, masih saja suka bahkan sangat tergila-gila dengan buku roman picisan dan kisah cinta. Seperti sebuah novel yang ia baca dengan pembuka yang menawan.
Paul menciumi gadis itu penuh nafsu sementara si pengayuh gondola, kaki tangan perbuatan nekat temannya itu, pura-pura menoleh ke lain arah, dan gondola yang dijajari bantal-bantal empuk itu meluncur gemulai sepanjang kanal Venesia.

Kisah ini sebenarnya sangat simple, tapi muatan dan pesan politik yang ingin disampaikan begitu kental. Betapa issue pembabatan hutan, perburuan binatang yang seharusnya menjadi binatang yang dilindungi serta penambangan emas liar akibat ketamakan manusia dipaparkan sangat lugas oleh Sepúlveda.
Juga tentang Suku Shuar―penduduk asli yang lambat laut terusir oleh para pendatang yang akhirnya berkuasa. Para pemerintah yang korup dan kotor, dan tidak pernah senang terhadap “keadaan” yang disangka akan merugikan mereka. Sepúlveda begitu gamblang menarasikannya lewat seorang Pak Tua.

Di buku ini saya baru menemukan kata-kata baru yang mungkin terdengar janggal bagi saya saat ini. Misalnya kata menyucihamakan. Saya sempat mengerutkan kening untuk memahami kata tersebut. Tapi dengan konteks kalimat yang ada, maka saya menyimpulkan bahwa maksudnya adalah men-sterilekan. Mungin karena kata sterile belum di adop ke dalam bahasa Indonesia. Entahlah, saya belum sempat mengeceknya. Apakah sudah terdapat di KBBI edisi atau belum saat itu.

Menurut Peneliti dari Universitas Puerto Rico, Camilo Gomides dan Joseph Henry Vogel dalam makalah mereka dengan buku ini sebagai kajian akademisnya, menyimpulkan:
“Sebab musabab penggundulan hutan yang mengisi jalan cerita Pak Tua banyak yang terkait erat dengan hasil simpulan ilmuwan yang didapat dari analisa statistic dan pngukuran cermat atas penggundulan hutan tropis…[Namun], fakta bahwa bukti-bukti penelitian ilmiah penggundulan hutan ini baru dipublikasikan pada tahun 1990-an, bertahun-yahun sesudah terbitnya Pak Tua―menunjukkan betapa jelinya mata bedah Sepúlveda.”

Luis Sepúlveda lahir di Cile tahun 1949. Dipenjara oleh rezim diktator militer Augusto Pinochet akibat aktivitas politiknya dalam gerakan mahasiswa dan diasingkan ke luar negeri itu pada usia 26 tahun.
Pada usia 18 tahun ia sudah menyabet penghargaan bergengsi Casa de las Américas 1969 untuk kumpulan cerpennya Crónicas de Pedro Nadie.
Novel pertamanya Un Viejo que leía novellas de amor atau Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta ini mendapat penghargaan Tigre Juan Prize dan terjual sebanyak 30.000 eksemplar dalam cetakan pertamanya. Novel ini pun telah diangkat ke layar lebar dan merebut Pressident’s Award dalam Fort Lauderdale International Film Festival tahun 2001 serta Winner Audience Award dalam Adelaide International Film Festival tahun 2003.
Novel beliau yang lainnya adalah Mundo del fin del mundo (1994), Nombre de Torero (1994), Patagonia Express (1995), Historia de una gaviota y del gato que enseñó a volar atau Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang (1996).

Atas desakan Amnesty International, Sepúlveda dibebaskan setelah 2.5 tahun dipenjara tanpa kepastian hukum.
Bersama keluarganya ia terpaksa mengungsi keluar Cile dan hidup nomaden sepanjang Amerika Latin―Argentina, Brasil, Uruguay, Kolombia, Ekuador dan akhirnya hijrah ke Eropa. Sejak tahun 1980 ia tinggal di Jerman sebagai penulis, sutradara dan Jurnalis.
Kini ia mempimpin Salón del Libro Iberoamericano di Gijón

Mei 31, 2011

WUTHERING HEIGHTS: Pembalasan Dendam atas Nama Cinta



Resensi oleh : Noviane Asmara
 
Judul : WUTHERING HEIGHTS: Pembalasan Dendam atas Nama Cinta
Penulis : Emily Brontë
Alih Bahasa : Lulu Wijaya
Tebal : 488 halaman, 20 cm
Harga : Rp 55,000
ISBN : 978-979-22-6278-9
Cover : Soft Cover
Genre : Sastra Klasik
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2011


Cinta memang ajaib. Dapat dengan sekejap membuat bahagia dan tak selang berapa lama mengubahnya menjadi benci.
Bagaimana seseorang yang dulu begitu sangat mencintai orang yang dikira adalah belahan jiwanya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang teramat mendendam.
Bagaimana seseorang kehilangan kekasih hati dengan menanggung kerinduan yang selalu menyiksanya dan menghantuinya hingga maut datang.
Dan semua itu karena Cinta.

Adalah Heatcliff, tanpa nama belakang dan tanpa asal usul yang jelas. Datang sebagai ‘oleh-oleh’ yang dibawa oleh Mr. Earnshaw dalam perjalanan pulang berbisnisnya dari London. Ia ditemukan terlantar di jalanan kota London. Dan akhirnya atas kebaikan hati ia diadopsi oleh Mr. Earnshaw, pemilik Wuthering Heights yang berumur singkat. Ia tumbuh bersama kedua anak Mr. Earnshaw. Catherine Earnshaw, seorang gadis muda bandel dan judes tetapi penuh gairah, yang mau menjadikan Heatcliff teman bermain. Dan Hindley ,anak lelaki Earnshaw yang tidak sudi menjadikan Heatcliff saudara angkatnya dan memusuhinya sepanjang hidupnya.

Sepeninggal Earnshaw tua, kehidupan Heatcliff di Heights mulai berubah. Hindley yang telah membencinya sejak dulu kini menjadi tuan rumah Heights dan memperlakukan Heatcliff begitu buruk bak seorang pelayan.
Kebencian demi kebencian tumbuh dengan cepat di Wuthering Heights. Seiring dengan perasaan cinta antara Heatcliff dan Chaterine pun kian berkembang. Heatcliff menginginkan Chaterine dan tidak berniat untuk kehilangannya, karena ia ingin selalu menjaga dan menjadikan Catherine belahan jiwanya. Cinta yang begitu egois dan posesif.

Perubahan sikap terjadi pada Cahterine, saat ia dan Heatcliff bermain dan tersesat di Thrushscross Grange―kediaman keluarga Linton. Rumah yang ditinggali oleh keluarga yang 180 derajat berbeda keluarga Earnshaw dari segi kebiasaan dan perilaku. Keluarga terhormat dan terpandang yang mengutamakan  nilai-nilai sosial dalam lingkungan. Di sana Catherine bertemu dengan Edgar Linton, anak lelaki tampan, berkulit putih dan mempunyai rambut pirang yang kelak dipilih Catherine sebagai pasangan hidupnya.

Aku mencintai tanah yang dipijak kakinya, dan udara di atas kepalanya, dan segala yang disentuhnya, dan setiap kata yang diucapkannya. Aku mencintai setiap penampilannya, dan setiap perbuatannya, dan dirinya seluruhnya dan sekaligus.” (hal.114)

Heatcliff pergi dan menghilang. Melarikan diri dari kenyataan bahwa dirinya tak layak dipilih oleh Catherine yang ia cintai sejak kecil, hanya karena perbedaan strata sosial. Dia merasa terkoyak antara kemarahan dan penghinaan yang ia derita karena cinta.
Tapi tiga tahun kemudian Heatcliff muncul kembali ke Gimmerton dengan berbalut pribadi yang berbeda. Seorang pria kaya dan berpendidikan. Dan yang terburuk, ia datang membawa selusin kebencian dan rencana pembalasan dendam yang tak terperi.
Kedatangannya mengubah kehidupan Catherine yang sudah tenang menjadi bergejolak kembali, akibat perasaan yang sama-sama mereka pendam untuk saling mencintai sekaligus menyakiti satu sama lain.

Andai aku bisa terus memelukmu, sampai kita berdua mati! Aku takkan peduli dengan penderitaanmu. Kenapa kau tidak boleh menderita? Aku menderita! Apakah kau akan melupakanku? Apakah kau akan bahagia kalau aku sudah dikubur? Apakah kau akan berkata dua puluh tahun lagi, ‘itu makam Catherine Earnshaw'. Aku pernah mencintainya dahulu sekali, dan hatiku hancur saat kehilangan dia; tapi itu sudah berlalu.” (hal.229)

Pembalasan dendam bersemi akibat benci dan sakit hati yang telah mengakar kuat di hati Heatcliff yang kelam. Hati di mana rasa sayang telah mati dan tidak ada tempat untuk sebongkah empati.
Sebuah dendam yang akibatnya harus ditanggung oleh orang-orang yang tidak mengerti apa itu dendam, yang mengubah mereka menjadi iblis sesat layaknya Heatcliff si pembawa virus jahanam itu.
Pembalasan dendam yang harus ditebus dengan harga mahal sekali. Harga yang tidak akan pernah setara apabila semua nyawa tak berdosa dari keturunannya dicabut paksa.

Berlatar belakang dari dataran Yorkshire di abad ke-18 yang kasar dan liar, Wuthering Heights adalah kisah gairah kerinduan yang tak terkendali sekaligus upaya balas dendam yang melekat kental.
Membaca kisah ini jangan berharap akan menemukan akhir cerita yang bahagia. Cerita yang sejak halaman pertama dibuka sudah menyajikan alur yang mau tak mau memaksa kita untuk mulai ikut membenci setiap tokohnya yang egois dan tak berhati sekaligus memberi rasa iba dan sakit hati yang luar biasa dalam dan menyiksa.
Kelam dan suram, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan novel yang terbit pertama kali tahun 1847 ini. Emosi kita seakan terkuras habis dan tak menyisakan sedikit pun air mata untuk sekedar berduka. Sesak napas yang melandaku saat membacanya semakin menambah aura suram yang terpancar dan sulit untuk memulihkannya. Terasa hidup dalam dunia abu-abu dan hitam tanpa segarispun putuh membentang di antaranya, di mana tawa dan bahagia adalah hal tersulit bahkan menjadi mustahil untuk dimiliki.

Walau begitu bintang lima tidaklah menjadi mustahil dan layak disandangkan untuk kekelaman cerita yang lahir dari buah pikir cemerlang seorang Emily Brontë di zamannya.

Emily Brontë (1818-1848) adalah anak kedua dari tiga bersaudari Brontë yang termasyur. Bersama saudara lelaki mereka, mereka tumbuh di desa Haworth di kawasan Yorkshire yang terpencil, tanpa pendidikan formal dan perhatian yang cukup. Peka, pemalu, dan amat tertutup, dan sama sekali tak sanggup menerima pendisiplinan apa pun, Emily Brontë menulis satu jilid puisi yang digubah dengan cermat. Dia mencurahkan pikiran-pikiran rahasia dari jiwanya yang tersiksa ke dalam Wuthering Heights (1847), buku yang mengangkat namanya menjadi tokoh besar dalam kesusastraan Inggris.

FIRELIGHT

Resensi oleh : Noviane Asmara

Detail Buku:
Judul : FIRELIGHT : Ketika Naluri Terbang tak kan Pernah Padam
Penulis : Sophie Jordan
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
Pewajah Isi : Aniza
ISBN : 978-979-024-475-7
Ukuran : 13 x 20,5 cm
Tebal : 425 Halaman
Harga : Rp 55,000
Cover : Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan: I, April 2011


Aku Cuma tahu aku tidak bisa hidup tanpa terbang. Tanpa langit dan tanah lembap yang mampu bernapas. Aku tidak akan pernah rela menyerahkan kemampuanku untuk berubah wujud.

Tentunya kita tidak asing dengan makhluk-makhluk campuran di dunia fiksi. Sebut saja Demigod; manusia setengah dewa, Dhampir; manusia setengah vampir atau Warewolf; manusia setengah serigala. Tapi bagaimana bila makhluk tersebut adalah manusia setengah naga―tepatnya manusia yang memiliki gen naga dan bisa berubah menjadi makhluk yang mempunyai keahlian seperti naga. Draki. Itulah sebutan untuk makhluk itu.

Apa gunanya keselamatan bila bagian dalam dirimu mati?

Jacinda harus menerima takdirnya. Terlahir dari keluarga yang tidak ‘biasa’. Ia adalah seorang atau lebih tepatnya seekor draki. Berwujud manusia seperti umumnya gadis-gadis seusianya, namun menyimpan gen naga dalam darahnya yang berwarna ungu―darah yang khas dimiliki kaum draki. Dan bisa berubah wujud saat ia menginginkannya.
Ketika emosi meninggi, naluri draki pun muncul. Di saat sedang ketakutan, bersemangat, bergairah … naluri draki akan muncul.


Jacinda adalah seorang draki spesial. Draki penyembur api yang di dalam kelompoknya telah absen lebih dari empat ratus tahun. Untuk itulah ia dipilih oleh kelompoknya untuk dinikahkan dengan Cassian―Draki Onyx yang merupakan seorang alpha di kelompoknya. Hidup Jacinda berada di bawah kendali kelompoknya. Karena sejak keunikan sekaligus kelebihannya sebagai seorang draki terlihat, ia tak punya hak lagi untuk memutuskan hidupnya sendiri.
Berbeda dengan Tamra sang adik kembarnya yang merupakan draki cacat dan tidak berguna bagi kelompoknya sekaligus tak dipedulikan.

Suatu hari Jacinda melakukan kesalahan dengan mengubah dirinya menjadi draki dan terbang di atas wilayah bukan milik kelompoknya, wilayah yang tidak terjaga oleh kabut Nidia.
Hal tersebut berujung pada kecelakaan yang menimpa dirinya akibat diburu oleh para pemburu draki yang sadis dan tamak.
Bukan hanya uang. Ketamakan. Selain ketamakan akan darah, kulit, dan tulang draki―yang konon mampu menjadi obat penyembuh bagi manusia―draki diburu karena harta benda mereka. Batu permata yang merupakan warisan nenek moyang draki sekaligus penghubung kekuatan naluri draki yang dimiliki.

Jacinda bukan hanya membawa celaka pada dirinya sendiri tapi sekaligus musibah untuk kelompoknya akibat kecerobohan dan kelalaian yang diperbuat.
Sebagai hukumannya, Severin Sang Alpha bersama kelompoknya telah menetapkan sesuatu yang menurut mereka ‘pantas’ dan sudah seharusnya Jacinda terima.
Ibu Jacinda tidak bisa menerima putusan hukuman itu. Putusan yang ia pahami hanya dengan sekilas saja tetapi tidak pernah dipahami oleh Jacinda.
Putusan yang tidak hanya menikahkan Jacinda dengan Cassian dengan tujuan untuk “dibiakkan” agar menghasilkan draki-draki dengan kualitas tangguh dan super.

Sejak saat itulah, kehidupan Jacinda berubah. Ibunya dengan terpaksa dan secara diam-diam membawa Jacinda dan Tamra pergi meninggalkan kelompoknya.
Ibu Jacinda bermaksud untuk membaur di tengah-tengah kehidupan manusia normal guna menjadi manusia seutuhnya tanpa sentuhan naluri draki muncul di dalam diri putrinya, Jacinda. Karena di dalam dirinya pun, naluri draki itu sudah padam saat ayah Jacinda tewas.
Berbeda dengan Tamra yang dengan sukacita menerima lingkungan barunya. Berbaur dengan teman-teman manusianya tanpa sedikitpun merasa kesulitan, karena memang pada dasarnya Tamra adalah draki cacat yang sampai kapan pun tidak akan bisa berubah menjadi draki seperti Jacinda kakak kembarnya.

Tetapi kiamat untuk Jacinda. Berbaur di tengah-tengah manusia normal, membuat naluri drakinya perlahan-lahan luntur, dan ia tidak menghendaki hal ini terjadi. Ia ingin tetap selalu bisa menjadi draki sejati seperti sang ayah yang sudah tiada. Bisa selalu terbang melintasi awan biru tanpa batas serta menyemburkan api.

Di tengah kegundah-gulananya antara memilih kembali ke kelompoknya dan mengikuti kemauan sang Ibu yang berniat menjaganya dari hukuman mengerikan yang akan dijatuhkan padanya senadainya ia kembali ke kelompoknya, Jacinda terperangkap dalam permainan cinta seorang Will. Pemuda teman sekolahnya yang mampu membangkitkan naluri drakinya, bahkan di gurun gersang sekalipun.

Perlahan-perlahan kebenaran itu terungkap. Will menyimpan rahasia yang tidak bisa ia bagi dengan Jacinda. Will yang telah memaksa Jacinda memilih antara keingingannya yang begitu egois atau keselamatan keluarga dan kaumnya.

Pembaca di sini akan dibawa pada suatu tempat indah di mana siapa pun yang datang mengunjunginya, akan kembali tanpa mengingat apa pun akan tempat itu. Mahkluk-makhluk unik berwujud naga dapat terlihat terbang dengan anggunnya.
Tetapi kita akan dibuat kesal dan jengkel akan betapa egoisnya seorang Jacinda. Sifat egois yang berlebihan yang dimiliki gadis usia 16 tahun yang selalu menuntut pembuktian dan pembenaran atas pelarangan yang ditetapkan.
Dapat dirasakan pula pengorbanan seorang Ibu yang begitu besar dan tak pernah lelah untuk selalu terus berada di sisi anak-anaknya dalam setiap kondisi. Tak peduli dengan penolakan yang diberikan sang anak sebagai balasannya.
Kisah romansa pun turut mewarnai Firelight semakin menjadi hidup dan manusiawi. Walau selalu terjebak dalam cinta terlarang, cinta yang datang dari dua dunia yang berbeda. Cinta yang mengharuskan si jahat dan si baik tetap berada pada koridornya.
Sensasi menegangkan juga bisa terhirup tajam di kisah ini, saat acara kejar-kejaran draki dan para pemburunya berlangsung.

Novel yang mempunyi kover unik dengan hiasan hologram melingkari apik huruf yang dicetak timbul berukir kata Firelight adalah buku pertama dari Trilogi Firelight. Buku keduanya Vanish baru akan rilis 6 September mendatang di negara asalnya.

Sophie Jordan tumbuh di Texas Hill, tempat di mana ia menciptakan tokoh-tokof fantasinya: naga, prajurit dan putri. Ia adalah mantan guru Bahasa Inggris. Saat sedang tidak menulis, ia menghabiskan waktunya dengan menikmati latte dan diet coke yang disukainya. Selain menulis buku dengan genre fantasi untuk pembaca muda dewasa, Jordan juga menulis buku dengan genre roman paranormal dengan menggunakan Sharie Kohler sebagai nama penanya.
Saat ini ia tinggal di Houston bersama keluarganya.
Untuk mengetahui sepak terjang lebih jauh, silahkan berkunjung ke situs webnya di: www.sophiejordan.net


Resensi buku lainnya dapat dilihat di www.buntelankata.blogspot.com

Mei 24, 2011

PROPHECY OF THE SISTERS


Kembar... Dua Pribadi yang saling Berseberangan
Resensi oleh Noviane Asmara

Detail Buku:
Judul : PROPHECY OF THE SISTERS
Penulis : Michelle Zink
Penerjemah : Ida Wajdi
Penyunting : Aisyah
Korektor : Tisa Anggriani
Tebal : 359 Halaman
Harga : Rp 68.500
Cover : Soft Cover
Genre : Dark Fantasy
Penerbit : Matahati
Cetakan : I, Maret 2011castilla

Bagi saya anak kembar selalu membuat saya takjub. Takjub karena mereka itu unik. Apalagi bila mereka adalah kembar identik. Dari segi fisik, semuanya sama. Postur tubuh, bentuk wajah bahkan kadang sampai kepada sikap dan hobi, walaupun hal-hal yang menyangkut kepribadian akan selalu berbeda.
Tapi bagaimana bila ada gadis kembar identik yang sifatnya saling bertolak belakang. Mereka berasal dari satu sel telur yang sama, lahir dari rahim yang sama pula, tapi ketika tumbuh dan berkembang, sifat mereka bagai kutub utara dan selatan. Menjadi dua sosok berbeda, sosok protagonist dan antagonis.

Dalam buku pertama seri Prophecy of the Sisters ini, dikisahkan dua gadis kembar identik berusia 16 tahun, Alice dan Amalia Miltrorpe.
Keduanya tumbuh dan besar bersama dibawah asuhan Bibi Virginia, saat sang Ibu yang merupakan kembarannya meninggal dunia.
Pada usia 16 tahun, kedua gadis kembar itu bersama adik lelaki mereka, Henry yang hidup mengandalkan kursi roda akibat kakinya yang lumpuh, menjadi yatim piatu. Ayah mereka, Thomas Milthorpe, meninggal dengan cara yang tidak wajar, seperti kematian Ibu meraka sebelumnya.

Kematian sang ayah, membawa banyak perubahan terhadap kehidupan Alice, Lia dan Henry Milthorpe.
Mendadak muncul tanda aneh di pergelangan tangan Lia, semacam tato timbul. Jorgumand. Tanda yang menonjol seperti parut luka, dengan pola yang membentuk garis tempat ular itu membelit diri ke tepian lingkaran hingga mulutnya memakan ekornya sendiri.
Kemunculan tanda ini disertai dengan munculnya beberapa kejadian janggal lainnya. Ditemukannya buku berkulit sejuk dan kering berhias rancangan mencetak pola figur-figur aneh dan sangat tua, di perpustakaan milik ayah mereka. Buku yang hanya berisi satu halaman saja, yang memuat tulisan berbahasa latin, yang akhirnya diketahui adalah sebuah ramalan kuno. Ramalan yang kelak menentukan takdir kehidupan si Kembar Milthorpe dan juga yang lainnya.

Melalui api dan harmoni, umat manusia bertahan
Hingga dikirimnya para Garda,
Yang mengambil istri dan kekasih dari seorang pria,
Menimbulkan kemurkaan-Nya
Cerita ini dimulai darr sini :
Dua saudari , terbentuk dari samudra bergelombang yang sama,
Yang satu sang Garda, yang lain sang Gerbang.
Yang satu penjaga kedamaian,
yang lain berukar sihir untuk pemujaan.
Tatkala para Saudari melanjutkan pertempuran
Hingga Sang Gerbang memanggil mereka kembali
Atau sang Malaikat membawa Kunci-Kunci menuju Neraka
Tentara, berbaris melalui Gerbang
Samael, sang Iblis, melalui sang Malaikat
Sang malaikat, hanya dijaga oleh perlindungan selubung halus
Emat Tanda, Empat Kunci, Lingkaran Api
Terlahir dalam napas pertama Samhain
Dalam bayangan Ular Batu Mistis dari Aubur
Biarkan Gerbang Malaikat mengayun tanpa Kunci
Diikuti Tujuh Tulah dan Tak Kembali
Kematian
Kelaparan
Darah
Api
Kegelapan
Kekeringan
Kehancuran
Rentangkan lenganmu, Nona Kekacauan
Malapetaka sang Iblis akan mengalir seperti sungai
Karena semuanya musnah saat Tujuh Tulah dimulai.

Ramalan itu seolah-olah menuntun dan menentukan kehidupan Alice dan Lia pada sebuah misteri dan dendam di masa lalu. Misteri yang telah ada beberapa ribu tahun yang lalu. Misteri yang merenggut kehidupan Ibu dan Ayah mereka, juga para saudari yang berkaitan dengan semua gadis kembar.

Sayangnya, sekarang Alice dan Lia berada di sisi yang berseberangan. Alice berada di sisi kelam, sisi yang telah dipilihnya. Alice yang sejak kecil telah menampakkan tanda-tanda itu. Tapi hal ini makin menjadi setelah kematian ayahnya. Sifat misterius dan bengisnya semakin terlihat. Sedangkan Lia berada di sisi satunya. Dan berniat menyelamatkan dunia semampu yang ia bisa lakukan dengan dukungan teman-temannya. Lia bertekad untuk mengakhiri ramalan itu.

Lia harus terus berjuang dan juga terus mendapatkan teror. Tapi ia tetap bertahan, walau hal itu kadang membuatnya hampir putus asa dan nyaris gila. Bagaimana tidak? Lia harus melawan adik kembarnya sendiri, adik yang telah bersama-sama dengan dirinya bahkan sejak dalam rahim Ibu mereka.
Bersama dua orang sahabatnya, Sonia Sorrensen dan Luisa Torelli, bersama-sama secara perlahan-lahan, mereka menyingkap selimut misteri yang sangat gelap yang awalnya datang dari sebuah pengkhianatan.

Dan Alice, memilih takdirnya sebagai orang yang melawan Lia. Semua ini ia lakukan karena dendam, ia merasa bahwa seharusnya ialah yang berada di posisi Lia saat ini, bukan Lia yang dalam pandangan Alice sudah merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Lembar demi lembar yang kita baca, menyuguhkan ketegangan dan sensasi yang berbeda. Rasa marah, takut, dendam dan juga cinta, turut hadir menguras emosi para pembaca. Kita tidak disajikan kisah dark fantasy dengan endingnya biasa saja. Tetapi kita akan terhanyut di dalamnya, seolah-olah kita ikut mengembara bersama Lia, dengan merasakan kepedihannya dan rasa dilema untuk memilih. Kita juga akan ikut merasakan sakit hati yang dalam yang diderita Alice.
Kesedihan pun terurai panjang di sini. Bagaimana tatkala Alice dan Lia sekali lagi harus melihat kematian orang yang mereka berdua cintai mati, hanya karena keegoisan mereka.

Ending kisahnya, sungguh mengejutkan, tetapi jujur saya menyukainya, walaupun pada awalnya sulit untuk menerimanya. Saya yakin, buku keduanya yang berjudul Guardian of the Gate, akan sama memukaunya dengan buku ini, bahkan mungkin lebih.

Michelle Zink tinggal di New York bersama keempat anaknya. Dia selalu terpikat pada mitos dan legenda kuno, serta tak pernah berhenti mempertanyakannya. Tetapi ketika dia menemukan jawaban atas apa yang dicarinya, lahirlah sebuah kisah. Prophecy of the Sisters adalah salah satunya.
Untuk mengenal Zink lebih lanjut dan mengetahui karya lainnya, dapt mengunjungi situs webnya di: www.michellezink.com

POLLYANNA GROWS UP


POLLYANNA GROWS UP: Ketika Usia tidak Mengubah Keceriaan
Resensi oleh Noviane Asmara

Detail Buku :
Judul : Pollyanna Grows Up
Penulis : Eleanor H. Porter
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Penyunting : Azzura Dayana & Dee
Tebal : 361 Halaman
Harga : Rp 47,500
ISBN : 978602843695-3
Cover : Soft Cover
Genre : Klasik
Penerbit : Orange Books
Cetakan : I, September 2010


Pollyanna Grows Up adalah sekuel dari buku Pollyanna. Terbit pertama kali tahun 1915― dua tahun berselang setelah buku pertamanya.

Pollyanna Grows Up ini, mengisahkan perjalanan hidup Pollyanna yang tumbuh dan berkembang hingga menginjak usia dua puluh tahun.
Hidup yang dijalaninya masih sulit dan tidak semudah ketika ia hidup di panti asuhan. Tetapi satu kunci kebahagian Pollyanna, ia selalu memainkan permainnannya. Permainan yang dengan sangat mudah ia mainkan. Permainan Sukacita.
Tak peduli dalam keadaan apapun, segalanya selalu menjadi keceriaan untuk gadis tiga belas tahun ini.

Di buku Pollyanna, dikisahkan bahwa Bibi Polly― bibi Pollyanna, menikah dengan Dr Chinton. Untuk lebih mengingatkan dengan jelas, silahkan baca di : http://www.facebook.com/noviane.asmara?sk=notes#!/note.php?note_id=397847365753

Saat Dr Chilton ditugaskan ke Jerman, Bibi Polly merasa kebingungan dengan nasib Pollyanna. Siapa yang akan merawat Pollyanna selama musim dingin saat dirinya dan suaminya harus pergi ke Jerman dalam kurun waktu yang cukup lama.

Di sisi lain, sebuah keluarga, membutuhkan kehangatan dan keceriaan. Adalah Ruth Carew, seorang janda yang hari-harinya diliputi oleh kekelaman. Sejak kematian sang suami yang kemudian disusul kematian putra semata wayangnya, ia menarik diri dari dunia. Ia terlarut dan tenggelam dalam kesedihan yang ia buat sendiri.
Putra kakaknya yang merupakan keponakan satu-satunya, yang juga pewaris dan pelipur lara pun, tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan tidak pernah ditemukan.
Ia menjadi antisosial dengan menolak kunjungan siapa pun untuk dirinya. Rumah mewah yang ia tempati menjadi dingin, kelam, suram dan sepi. Di mana cahaya matahari tidak diperbolehkan masuk dan menyinari rumahnya karena semua tirai ditutup dan tidak seorangpun berani berbicara dengan dirinya, kecuali sang adik, Della Wetherby. Della, seorang perawat di Sanatarium tempat dulu Pollyanna dirawat ketika mengalami kelumpuhan.

Saat itu, atas saran Della dan Dr. Charlie Ames, Mrs.Carew dianjurkan menerima dan menampung Pollyanna untuk sementara waktu, sampai paman dan bibinya kembali dari Jerman. Della yakin, kalu Pollyanna akan mampu mengubah keadaan kakaknya kembali seperti dulu. Bagi Della dan semua orang yang mengenal gadis kecil berusia tiga belas tahun itu, Pollyanna seolah-olah adalah obat untuk rasa sakit yang mereka derita. Dengan takaran dan dosis yang pas, niscaya sakit dan derita mereka akan secara perhalan. Permainan Sukacita ala Pollyannalah yang membawa semuanya menjadi ceria.

Seiring berjalannya waktu, Perubahan sikap dialami oleh Mrs. Carew. Pollyanna yang di awal kehadirannya dirasa begitu ‘mengganggu’ dengan segala ocehan dan permohonannya yang kadang tidak masuk akal, akhirnya meninggalkan kesepian saat Pollyanna harus kembali ke Beldingsville, saat paman dan bibinya telah tiba.

Saat berusia empat belas tahun, Pollyanna beserta paman dan bibinya hijrah ke Jerman untuk kemudian menetap di sana.
Roda kehidupan terus berputar, dan saat ini Dewi Fortuna sedang tidak berada di pihak Bibi Polly. Kemalangan secara bertubi-tubi menimpa Mrs. Chilton. Kematian suaminya, Dr. Chilton disusul dengan bangkrutnya ia akibat bisnis yang merugi.
Pollyanna dan Mrs. Chilton, mau tidak mau harus kembali ke kampung halamannya, Beldingsville. Saat itu usia Pollyanna telah menginjak dua puluh tahun, usia yang kian matang dan dewasa. Tetapi ia tetaplah Pollyanna yang dulu, yang polos, spontan selalu ceria karena ia selalu memainkan permainan sukacitanya.

Akhir kisah Pollyanna Grows Ups ini, sungguh menguras emosi. Misteri hilangnya sang keponakan Mrs. Carew tercinta, terjawab sudah. Dan kepada siapa Pollyanna menjatuhkan pilihannya untuk menjadi teman hidupnya, ini juga terjawab di akhir cerita.

Tokoh Jamie, Jimmy Bean Pendleton dan Sadie Dan pun, turut mewarnai cerita yg menawan ini. Sisipan romansa yang tertuang di kisah ini pun turut menjadikan cerita ini lebih hangat dan lebih hidup.

Eleanor Hodgman Porter lahir di Littleton, New Hampshire, 19 Desember 1868. Semula novelis Amerika ini dipoyeksikan menjadi penyanyi, tetapi kemudian banting stir ke dunia tulis-menulis. {ada tahun 1892, ia menikah denga John Hodgman Porter dan pindah ke Massachussetts. Kenanyakan karyanya bergenre buku anak, seperti serial Miss Billy (Miss Billy, Billy’s Decision, dan Miss Billy Married), Just David (1916), Six Star Ranch (1916), Cross Currents (1928) dan The Turn of the Tide (1918).
Pollyanna, yang terbit tahun 1913, merupakan novelnya yang paling tersohor. Sekuelnya Pollyanna Grows Up, menyusul dua tahun kemudian. Pollyanna termasuk deretan buku laris di Amerika Serikat, bahkan sempat memasuki cetakan ke-47 antara tahun 1915 dan 1920.
Eleanor H. Porter wafat pada tahun 1920 di Cambridge, Massachussets.

Mei 18, 2011

TETRA MARS: Cinta Terlarang dan Pilihan yang Takkan Pernah Dapat Diubah

TETRA MARS: Cinta Terlarang dan Pilihan yang Takkan Pernah Dapat Diubah

Resensi oleh Noviane Asmara
Detail Buku:
Judul : Aggelos#2: TETRA MARS

Penulis : Harry K. Peterson

Penyunting: Nurani Mastura

Penyelaras Aksara: M. Eka Mustamar

ISBN : 978-979-433-617-

Tebal : 507 Halaman

Harga : Rp 84.000

Cover : Soft Cover

Penerbit : Mizan Fantas

Cetakan: I, April 2011

Membaca buku kedua dari Trilogi Aggelos ini, tidak berasa seperti membaca sebuah buku lokal karya anak bangsa. Tetapi lebih seperti membaca karya terjemahan yang bukunya menjadi Best Seller di negeri asalnya dan ditulis oleh penulis fantasi yang sudah terkenal.

Lihatlah penamaan tokoh yang digunakan, yang sangat western. Setting pun diambil di negara luar, dengan mengangkat Te Anau―sebuah kota yang terletak di Selatan selandia baru, menjadi latar tempat berlangsungnya kisah fantastis ini. Kota yang digambarkan memiliki panorama yang indah bak surga dunia, di mana udara segar dan bersih masih bebas dihirup di sana.

Selain itu, kita pun akan diajak mengunjungi Paris―Kota Cinta yang memiliki Théâthe du châtelet, gedung megah tempat yang sangat prestisius di manasegala pertunjukkan besar berlangsung, walau hanya sebentar saja.

Di samping itu, kata-kata seperti; Man, Dude, Well, Buddy, Boys pun akan sering kita jumpai dalam kisah Cinta Terlarang yang megharu biru ini, layaknya sebuah novel terjemahan.

Dan hobi penulis sebagai gamer pun, bisa terlihat nyata di buku ini. Saat penulis dengan fasihnya menggambarkan kamar baru Daniel Scoot, salah satu tokoh Tetra Mars ini, sebagai kamar yang nyaman walau ukurannya tidak terlalu besar tetapi dilengkapi sebuah komputer dengan sambungan jaringan Internet supercepat dan sebuah TV layar datar yang berhubungan dengan home theatre serta Xbox 360 dan Wii. Deskripsi kamar beserta isinya ini, yang saya yakini mirip dengan kamar yang penulis ditinggali saat ini.

Buku setebal lima ratus tujuh halaman ini, menawarkan kisah fantasi yang tidak biasa. Dari penokohan yang dibuat pun sudah berbeda dengan tokoh fantasi yang sedang happening saat ini. Di sini Harry mencoba membawa para pembacanya berkelana di dua dunia. Dunia Dyfed―makhluk fana yakni manusia dan dunia Quierro―malaikat yang berada di Aenas Stone―Surga yang diperuntukkan bagi para malaikat.

Dari kisah ini pun kita akan tahu, bahwa malaikat pun memiliki tingkatan. Dari strata terendah sampai ke strata paling tinggi. Adalah Shefro yang merupakan strata terendah kaum malaikat. Shefro adalah malaikat yang dulunya seorang Dyfed. Mereka tidak mempunyai sayap dan harus puas hanya menjadi pelayan yang bertugas melayani Malaikat dengan strata di atasnya. Quierro, berada di tengah-tengah. Mereka adalah malaikat yang belum mempunyai sayap dan suatu saat akan bertranformasi menjadi Sprixie―golongan malaikat dengan tingkatan paling tinggi. Sprixie penjelmaan kesempurnaan malaikat. Mereka bersayap, mempunyai satu bakat spesial dan tentunya mempunyai kebebasan untuk memilih.

Memalui buku ini pula digambarkan bila malaikat tidak selalu baik dan suci. Beberapa di antara mereka pun mempunyai nafsu dan ambisi layaknya manusia.

Kisah ini terdiri atas dua bagian. Di mana penulis memakai sudut pandang ‘Aku’ untuk bercerita. Bagian yang mengisahkan Viola Mondru sang Dyfed dan Slaven Dulton si Quierro. Buku ini teramat memukau dan kita akan dengan mudah terhanyut dan melebur ke dalamnya. Seolah-olah kita menjadi bagian dari kisah fantastis ini.

Sungguh tidak berlebihanlah bila Truly Rudiono seorang Koordinator khusus Kerja sama Penerbit dan Toko buku dari Goodreads Indonesia memberikan kata pujian yang pas dan sangat mewakilkan isi buku ini.

... sensasi berbeda di tiap lembarnya

Karena memang seperti itu yang saya rasakan ketika membaca halaman demi halaman buku ini dalam durasi lima jam. Lima jam yang benar-benar menguras semua emosi saya. Jujur saya hanyut dan pasrah dengan alur yang mengalir cepat dan memukau. Tetapi bila saya diberikan peran sebagai Viola, jelas saya tidak akan memilih ending seperti yang Viola pilih.

Kata-kata seperti Venus dan Mars di sini pun, mengingatkan saya pada ucapan dalam seseorang di masa lalu yang terlambat saya mengerti. Dia berkata bahwa sampai kapan pun, Mars tidak mungkin bersatu dengan Venus. Karena berasal dari dunia yang berbeda. Dengan kata lain, kami menjalani hubungan yang tidak mungkin, hubungan yang mustahil untuk dijalin. Walau saya tidak tahu di mana letak kemustahilan itu.

Terima kasih pula buat Truly Rudiono dan Dion Yulianto yang sudah rela meminjamkan buku dengan kisah Cinta Terlarang yang terangkai menjadi kisah segi lima yang mengobrak-abrik perasaan.

Tanpa ragu, saya sematkan lencana bintang empat untuk buku yang berkover menawan dan tak kalah fantastisnya dengan cerita yang disajikan.


Four Choices...


One destiny...


Forbiidden to be real

Tiga kalimat yang tercetak di kover depan Tetra Mars ini, sangat menohok hati, bermakna dalam dengan penjabaran yang luas. Harry K. Peterson akan memainkan segala emosi kita. Bahkan saat kita baru saja memasuki halaman awal. Cinta, sakit hati, marah, iri dengki, benci, putus asa, dan dilema adalah emosi yang kental yang akan selalu mengikuti kita hingga berada pada bagian penutup.

Semua berawal dari kunjungan iseng Viola ke sebuah tenda berwarna kulit jeruk yang sempit dan bersuhu panas saat dirinya mendatangi Festival Balon Udara Te Anau.

Tenda yang ternyata menyediakan jasa meramal. Peramal cantik yang kemudian diketahui berasal dari Yunani itu menggunakan tulang sebagai media ramalnya, Viola yang entah didorong oleh kekuatan apa, tersihir untuk datang dan mencoba untuk diramal. Hasilnya... sungguh membuat dia ketakutan dan terjerambab pada kubangan mimpi buruknya.

“Aku melihat Venus dalam masa depanmu. Venus yang dikelilingi oleh empat Mars sekaligus”.

“Mungkin aku bisa menyebutnya ... Tetra Mars”.

Venus adalah lambang wanita dan Mars adalah lambang pria. Dua sisi yang sulit dipisahkan.

“Ini sungguh aneh”.

“Aku melihat tanda ‘terlarang’. Ada yang tidak baik dengan salah satu Mars-mu. Ini tidak boleh. Ini hal yang mematikan, kodrat yang terlarang untuk dijalani.

Kini, Viola Mondru harus menjalani kehidupannya dalam ketakutan dan keputusasaan yang luar biasa menyiksa. Menjalani takdirnya seperti yang disebutkan si peramal itu.

Slaven Dulton, sosok malaikat yang turun ke bumi dengan menjelma menjadi sosok rupawan dan mengikat janji dengan Viola

Jeff Luxe Baxter, sosok cowok keren teman sekolah Viola dan juga mantan Kapten Sexta Rugby, tim Rugbi di sekolahnya.

Daniel Scoot, sosok cowok yang sama kerennya, teman sekolah Viola dan juga Kapten Red Rugby, tim Rugbi di sekolahnya yang merupakan saingan Sexta Rugby.

Raphaël Girald, murid baru pindahan dari Prancis yang dianugerahi fisik sempurna dan langsung menjadi pujaan cewek-cewek di sekolah Viola sekaligus saingan para cowok-cowok di sekolahnya

Viola tetap setia menanti sang pujaan hati, Slaven Dulton, yang berjanji akan kembali pada dirinya tapi tak tahu kapan ia akan kembali.

Slaven harus kembali ke Surga karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Dia dipanggil oleh dewan kehormatan Sprixie, menyangkut kehidupan masa depannya sebagai malaikat.

Di tengah penantian yang tidak pasti iru, Viola dirundung sepi yang menyayat dan keputusasaan yang hampir mengalahkan akal sehatnya karena merindukan Slaven.

Tapi hidup harus terus berjalan. Ia mulai membuka diri dan bersosialisasi dengan menerima pertemanan dari teman-temannnya dan juga beberapa cowok yang menawarkan cinta kepada dirinya.

Tapi semua yang dekat dengan Viola , selalu mengalami peristiwa mengenaskan, seolah dia adalah pembawa sial terhadap semua cowok yang mendekatinya.

Viola tidak tahan lagi. Di tengah kegalauan dan kesempatannya untuk memilih, dia memilih hal yang tidak pernah akan dipilih oleh siapa pun. Pilihan rumit dan menyakitkan saat semuanya harus berakhir.

Dan dia tidak pernah menyangka, bahwa Mars-nya yang yang dikelilingi kematian adalah sosok yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Sosok yang ternyata tidak seperti dugaannya, sosok yang menyimpan sejuta misteri dan terkuak di akhir cerita ini

Harry K. Peterson, pria kelahiran 21 September ini adalah seorang gamer yang hobi baca, menonton, travelling dan juga menggemari bahasa dan kebudayaan Negara asing. Tetra Mars adalah sekuel dari novel perdananya, Aggelos, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Mizan Fantasi. Saat ini dia sedang menulis buku ketiga, bagian penutup Trilogi Aggelos.

Untuk mengetahui aktivitas penulis lebih jauh, bisa add akun facebook-nya atau dengan mem-follow twitter-nya di @harrydepeterson